KETIKA HARUS BERBAGI



Matahari mulai terik, tapi dia masih memandangku dengan matanya yang sayu dari balik kaca jendela. Ah ... kenapa harus aku yang dipandang seperti itu? Haduh, jadi tak tega melihatnya. Apalagi umurnya sebaya dengan Asma, anak pertamaku.
Badannya yang kurus, kulit hitamnya serta bajunya yang dekil. Benar-benar kontras dengan pemandangan di Mc Donat, tempatku duduk menikmati sepiring donat yang hangat. Haduw, nafsu makanku jadi sedikit berkurang.

"Hust hust! Pergi dari sini!" kata Security Mc Donat mengusirnya.
"Aku hanya ingin melihatnya," katanya pelan sambil menunjukku.
Lho? Aku? Memangnya ada apa denganku? Kenapa anak itu ingin melihatku? Memangnya ada yang salah denganku? Yang benar? Kenal saja tidak, mana mungkin aku punya salah padanya. Walah-walah. Dasar anak gelandangan.






"Hoi! Gelandangan yang tak punya malu! Pergi dari sini! Kau harus tahu diri, di sini bukan tempatmu!" bentak Security sambil menarik kaos dekilnya yang sudah bolong dan hampir robek.
Anak itu berontak berusaha melepaskan kaosnya dari tangan Security. Sayangnya, Security yang bertubuh besar dan berkumis tebal itu malah mengangkat tubuhnya. Security itu membawanya keluar halaman dan meletakkannya di pinggir jalan raya.
Tiba-tiba Asma, anak perempuanku yang berumur 5 tahun berlari ke luar Mc Donat sambil membawa piring donat yang tadi ada di depanku. Aku terkejut. Apa yang dia lakukan? Padahal belum 1 donat pun yang aku makan. Haduw, apa sih maunya Asma?
Asma berjalan menghampirinya, gelandangan itu masih berada di pinggir jalan sambil memandangku. Dia masih diam di tempatnya ketika Asma datang. Wajahnya terlihat sinis pada Asma. Aku langsung berdiri dari tempat dudukku. Berlari keluar Mc Donat menyusul Asma. Aku tak ingin Asma terluka olehnya.






"Ini untukmu." Kata Asma sambil mengangsurkan sepiring kue donat padanya.
Matanya yang sinis kembali menjadi sayu. Senyum mulai menghiasi bibir mungilnya. Langkahku terhenti mendengar dan melihat kejadian itu. Aku tersenyum, ingin sekali melihat kelanjutan dari kejadian ini tanpa campur tanganku.
"Trus kamu makan apa?" tanyanya pada Asma.
"Tenang saja, uang Bunda masih banyak untuk membeli donat lagi," jawab Asma sambil tersenyum padanya dan memberikan donat plus piringnya kepada anak itu.
"Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik," kata anak itu sambil menerima donat yang dari tadi diangsurkan Asma.
"Kamu mau masuk dulu? Nanti dibelikan Bundaku kue yang lebih banyak. Kamu mau?" tawar Asma.
Dia menggeleng pelan, lalu menoleh padaku sambil tersenyum. Senyum itu, aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana? Bukankah aku baru saja bertemu dengannya? Tapi senyum itu tak asing untukku.






"Ibuku sakit, dia sendirian di rumah. Aku ingin segera memberikan donat ini padanya. Dari kemarin belum makan!" jelasnya pada Asma yang menunggu jawaban.
Aku tertegun. Ibu seperti apa yang bisa mendidik anak sebaik ini? Pasti dia ibu yang kuat, tangguh dan berakhlak baik. Ingatanku langsung melayang pada Fatimah, kakak kembarku yang diusir dari rumah karena menolak dijodohkan oleh Ayah. Ah ... senyumnya mirip kakakku. Pantas saja terasa tak asing.
"Nak, ibumu sakit apa? Pasti belum ke dokter. Tante antar, ya?" tanyaku tiba-tiba sambil mendekati mereka berdua.
Asma langsung menoleh lalu tersenyum. Senyum khas sambil memamerkan gigi gingsulnya ketika tahu aku mendukung niat baiknya. Selalu senyum khas seperti itu untukku.
"Terima kasih, Tante," jawabnya pelan.






Kubawa dua kotak kue donat dari toko untuk mengunjungi ibu dari anak itu. Kukemudikan Avanza menuju Stasiun Kepanjen. Kata anak itu, rumahnya dekat stasiun.
Terlihat Asma dan anak laki-laki itu berbicara dengan asiknya. Mereka bergurau dan tertawa terbahak-bahak. Ah, anak kecil masih belum tahu tentang kejamnya kehidupan.
Kami berjalan menyusuri pinggir rel kereta api setelah kuparkirkan mobilku. Kakiku pegal, sudah hampir 1 km kami berjalan. Terlihat juga keringat membanjiri kening Asma, tapi tidak dengan anak itu. Dia tetap melangkah dengan tegas dan tegap.
"Itu rumahku!" katanya sambil menunjuk tumpukan kardus yang dibuat seperti rumah.
"Itu?" tanyaku meyakinkan. Aku tak percaya pada ucapannya, tapi ia langsung berlari menuju tumpukan kardus yang dianggap rumahnya.
"Ibu, ayo ke dokter!" teriaknya setelah mencapai pintu.
Aku terus melihatnya, tersenyum menanggapi seluruh tingkahnya. Anak yang aktif. Kuhampiri rumah itu dan aku tercekat. Benar-benar tercekat. 2 kotak kue donat langsung terjatuh dari tanganku. Senyum itu menyambutku dari atas kardus yang tergelar. Senyum yang sangat kurindukan.
***






"Uhuk uhuk uhuk." Terdengar Ibu batuk kecil.
"Ibu tak apa-apa?" tanyaku sambil memijat pundaknya pelan.
"Tak apa, Sayang. Kamu sudah makan? Maaf, Ibu tak bisa mencari nasi lagi hari ini," jawab dan tanya ibu padaku. Wajahnya sendu.
Aku tahu, Ibu juga tak makan dari kemarin. Tubuh ringkihnya tak mampu untuk berjalan. Sementara Bapak tak pernah kembali ke tempat ini setelah bertemu Susi, yang kata orang-orang adalah PSK di kota sebelah.
Ibu membelai rambutku, kurasakan setetes air mata membasahi kulit tangan kecilku. Aku tersenyum. Ibu, tak akan kubiarkan kau kelaparan hari ini. Kau harus sembuh, demi aku.
"Ibu di rumah saja, tunggu aku. Aku pasti akan mendapatkan uang untuk membeli makanan dan berobat Ibu!" kataku tegas sambil mengusap air matanya.
"Apa yang akan kau lakukan? Kau masih 6 tahun." Tanyanya padaku.
Tak kuhiraukan pertanyaan itu, aku langsung mencium tangannya lalu berlari keluar rumah. Aku harus bisa mendapatkan uang untuk berobat, minimal untuk makan.






Kutelusuri jalan raya, menengok tong sampah, berharap ada yang bisa kumakan pagi ini. Perutku terasa keroncongan walau kemarin sore telah memakan nasi basi yang dibuang tetangga.
Mengemis? Tidak! Itu hal yang paling dibenci Ibu. Walau gelandangan, tapi aku bukan peminta-minta yang berharap belas kasih orang lain. Hanya Allah tempatku meminta, itu yang diajarkan ibu.
Tiba-tiba aku tertegun pada sosok di dalam toko donat. Dia bergurau dengan anak perempuannya yang mungkin seumuran denganku. Wajahnya mirip dengan ibu waktu muda dulu. Ibu pernah memperlihatkan fotonya waktu muda padaku. Sekarang banyak keriput di wajahnya, mungkin karena kehidupan yang tak pernah memihak kami.
Kupandangi ia lama, tanpa berkedip. Ia juga memandangku. Andai yang berada di toko itu Ibuku, pasti Ibu tak akan kelaparan. Sayangnya Ibu sekarang tertidur beralaskan kardus bekas.






"Hust hust! Pergi dari sini!" kata Security Mc Donat mengusirku.
"Aku hanya ingin melihatnya," kataku pelan sambil menunjuknya.
"Hoi! Gelandangan yang tak punya malu! Pergi dari sini! Kau harus tahu diri, di sini bukan tempatmu!" bentak Security sambil menarik kaos dekilku yang sudah bolong dan hampir robek.
Aku berontak berusaha melepaskan kaosku dari tangan Security. Sayangnya Security yang bertubuh besar dan berkumis tebal itu malah mengangkat tubuhku. Security itu membawakv keluar halaman dan meletakkanku di pinggir jalan raya.
Tiba-tiba, anak perempuan yang sebaya denganku itu berlari ke luar Mc Donat sambil membawa piring donat yang tadi ada di depan ibunya. Aku terkejut. Apa yang dia lakukan? Aku hanya bisa berdiri di pinggir jalan.






"Ini untukmu," katanya sambil mengangsurkan sepiring kue donat padaku.
"Trus kamu makan apa?" tanyaku padanya.
"Tenang saja, uang Bunda masih banyak untuk membeli donat lagi," jawabnya sambil tersenyum dan memberikan donat dan piringnya padaku.
"Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik," kataku sambil menerima donat yang dari tadi diangsurkan anak perempuan ini.
"Kamu mau masuk dulu? Nanti dibelikan Bundaku kue yang lebih banyak. Kamu mau?" tawarnya.
Aku menggeleng pelan lalu menoleh pada Tante itu sambil tersenyum. Aku berkata, "Ibuku sakit, dia sendirian di rumah. Aku ingin segera memberikan donat ini padanya. Dari kemarin belum makan."






"Nak, ibumu sakit apa? Pasti belum ke dokter. Tante antar, ya?" tanya Tante itu tiba-tiba padaku sambil mendekati kami berdua.
"Terima kasih, Tante," jawabku pelan.
Dia membawa dua kotak kue donat dari toko untuk mengunjungi Ibuku. Dia kemudikan Avanza menuju stasiun Kepanjen. Tadi kukatakan kalau rumahku dekat stasiun.
"Itu rumahku," kataku sambil menunjuk tumpukan kardus yang dibuat seperti rumah.
"Itu?" tanyanya.
Aku langsung berlari menuju rumah. Tak sabar rasanya ingin berbagi kebahagiaan dengan Ibu. Hari ini aku tak hanya dapat makanan, tapi juga orang yang akan membawanya ke dokter. Aku sangat senang.
"Ibu, ayo ke dokter!" teriakku setelah mencapai pintu.




Share on Google Plus

About Anisa Ae

1 komentar:

  1. berbagi kebahagiaan dengan Ibu rasanya berbeda ya mbak, seperti tenang batinnya :)

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.