Saya dan Pak Muslimin (Hargailah Istrimu)



"Saya tak pernah menyuruh istri saya untuk memasak, mencuci baju, ataupun membersihkan rumah, karena saya menikah bukan untuk mencari pembantu. Namun, saya sangat berterima kasih ketika dia melakukan pekerjaan itu, belum lagi melahirkan dan mengurus anak saya! Betapa nistanya saya jika sampai menyuruh melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan pembantu!" kata Pak Muslimin di pengajian.

"Lantas, siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah? Bukankah selama ini Anda tak punya pembantu?" tanya salah satu jamaah.






"Saya yang mengerjakan semuanya sendirian, kadang juga dibantu istri jika dia mau membantu! Karena tak ada ajaran Islam yang menyuruh istri melakukan hal itu, namun istri mendapat pahala jika melakukan itu karena itu memang tugas dan kewajiban saya. Bahkan saya harus membayar istri andai dia meminta uang karena telah menyusui anak saya! Kadang, istilah Pangeran Katon sering disalahartikan oleh orang-orang!"


Ada yang mau punya suami seperti Pak Muslimin? Walau gak tampan, beliau sering mengisi pengajian








Tiba-tiba ada yang inbox :
"Mbak, kenapa menyudutkan lelaki dengan ucapan Pak Muslimin?" tanya seseorang padaku.

"Ucapan beliau salah? Coba benarkan kalau itu salah. Saya juga miris mendapati kenyataan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita dan banyak sekali buku-buku yang menyudutkan wanita dengan tema DOSA YANG SERING DILAKUKAN WANITA PADA SUAMINYA!"


"Berarti kewajibanku sebagai suami sangat banyak!"








"Ya, salah satunya adalah menjaga keluargamu dari api neraka. Bayangkan tugas seorang istri ; bangun jam 3 pagi, mencuci baju, masak, nyapu, memandikan anak-anaknya, menyiapkan sarapan keluarga, bisa selesai jam 6 pagi. Bahkan bisa bekerja pula sepulang kerja masih mengurus anak, suami, dan tetek bengek lainnya. Eh, itu istri apa pembantu, ya?

Cerita seorang suami yang membuat saya menangis karena status saya tentang Pak Muslimin :

Saya sangat terkejut ketika mendapati status yang Mbak buat tentang Pak Muslimin. Setelah saya melihat jawaban-jawaban yang Mbak lontarkan, saya mulai mencari ada apa dengan diri saya, apalagi saat itu entah apa sebabnya, istri mendiamkan saya.

Kemarin (kebetulan tanggal merah) saya bangun pagi-pagi sekali, melakukan apa yang biasanya dia lakukan. Menanak nasi, belanja ke pasar, mencuci baju, bersih-bersih rumah, dan itu saya lakukan sendiri sebelum dia bangun tidur. Tak lupa saya menyiapkan secangkir cokelat panas di atas meja kamar. Saya ingin merasakan lelah yang dirasakan setiap hari olehnya dan ternyata sangat melelahkan.







"Bi, apa yang Abi lakukan?" tanyanya ketika saya membangunkannya untuk salat Subuh karena biasanya dia yang membangunkan saya.
"Menyiapkan secangkir cokelat hangat untukmu!" kata saya sambil mengangsurkan cokelat untuknya.

Dia tersenyum, manis sekali. Entah apa ini karena saya terlalu lelah atau karena saya tak melihat senyumnya berhari-hari. Lalu dia bangun dan kami pun salat Subuh berjamaah.

"Abi!" Istri saya berteriak dari dapur ketika saya sedang di kamar mandi.

Saya pun tergopoh-gopoh ke dapur, takut ada apa-apa dengan istri saya. Saya lihat dia menutup wajahnya sambil menangis sesenggukan, saya khawatir.

"Terima kasih, Abi! Terima kasih. Tak seharusnya Abi melakukan hal ini," katanya.
"Umi, hal ini tak pernah saya lakukan seumur hidup saya, saya takut azab Allah karena itu memang kewajiban saya!"
"Subhanallah! Maafkan Umi yang sudah mendiamkan Abi berhari-hari. Umi lelah, Bi, dengan pekerjaan rumah yang menumpuk setiap hari. Belum lagi mengurus anak-anak yang tak pernah berhenti bertingkah!"
"Maafkan Abi yang belum mampu mencarikan pembantu!"
"Tak apa, Bi! Umi sangat senang. Tapi jangan tiap hari, Umi gak dapat pahala dong kalo Abi yang ngerjain tiap hari, nanti Abi juga capek! Abi ngerjainnya pas libur kerja aja, ya? Jadi, Umi sempat buat istirahat!"






Mbak Anisa, saya pun ingin menangis, sama sepertinya. Tak saya sangka bahwa istri tercinta begitu lelah dengan pekerjaan rumahnya, belum lagi dia juga bekerja mencari uang, membantu saya.
Namun, pagi ini, ketika saya bangun, dia pun ikut bangun dan kami mengerjakan semua bersama-sama. Tak jarang dia berteriak karena yang saya lakukan salah, tapi ini indah, seolah kami berpacaran lagi dan memulai hidup baru. Kami pun bisa melihat matahari terbit bersama-sama, karena biasanya hanya saya yang melihatnya, sendirian, dia sibuk di dapur.

Jika dibilang puber kedua, mungkin dan itu semua karena status Mbak tentang Pak Muslimin. Terima kasih sudah berbagi.

Salam saya untuk Pak Muslimin.



Share on Google Plus

About Anisa Ae

10 komentar:

  1. Replies
    1. Saya juga mewek Mbak. Semoga berkah buat keluarga mereka dan kita. ;)

      Delete
  2. suamiku juga suka bantu2 pekerjaan rumah, tapi kadang ngga tega udah pulang kerja capek masih kerja lagi, dia nyaranin cari pembantyu sih, tp cr pembantu skrg juga susah, eman juga uangnya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hemat hemat. Bisa buat beli bedak. :D

      Delete
  3. sama persis dengan suamiku, setiap hari beliau selalu bangun lebih awal untuk mencuci piring, menanak nasi, dan mencuci baju sehingga tugas saya sebagai ibu, istri, sekaligus wanita karir menjadi lebih ringan. Alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. ALHAMDULILLAH. Ikut seneng Mbak. ^^ Salam buat suami tercinta.

      Delete
  4. Dadaku hangat membaca ini.
    Semoga semua istri dan suami dilindungi Tuhan.
    Amin.

    ReplyDelete
  5. ini suamiku bangettt! nikah untuk cari istri bukan untuk cari pembantu. jadi semua pekerjaan rumah tangga, dia yang kerjakan. saya mengurus anak. semoga semakin banyak suami yang sadar dengan kewajibannya. :')

    ReplyDelete
  6. Aamiin. :) Senang banget. Suami kita sama. ^^

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.