Ramaditya Adikara, Siapa Dia?


Hari itu, tanggal 9 Februari 2014 adalah hari yang tak pernah saya lupakan. Saya harus menjalani banyak kejadian sebelum akhirnya bisa berkumpul dengan para anggota KBM yang lain, padahal saya banyak yang tak mengenal. Mungkin banyak pula yang tak mengenal saya, ya, karena saya tak terlalu aktif di grup tersebut.

Pada tanggal 8 Februari jam 10 malam, saya harus mencari pinjaman sepeda motor untuk mengantar kakak lelaki ke rumah sakit karena dia mengeluh sakit perut dan tidak bisa buang air kecil. Begitu kencing, keluar darah dan terasa sangat sakit. Kami sekeluarga sepakat membawanya ke wafa.






9 Februari pas acara jam 9, saya baru berangkat jam 8.30. Itu pun setelah menitipkan si kecil ke neneknya. Saya antri bus sampai 30 menit, lumayan lama. Untungnya tetangga saya yang ikut acara itu dan menunggu saya di Kacuk, jadi saya tak perlu berlama-lama naik angkot.

Sampai di Amazy resto, saya langsung duduk di pojokan, belakang sendiri, sambil menikmati uraian yang tengah disampaikan oleh Pak Isa Alamsyah, walaupun hanya bisa menikmati tak lebih dari 2 menit. Acara terus berlangsung dengan pembawa acara Mbak Ayu. Selanjutnya adalah materi puisi yang diberikan oleh Mbak Wiwied.


Materi puisi yang diberikan terasa seru karena kami harus menyanyikan lagu Indonesia Raya (betul gak, ya? Maaf, soalnya daya ingatku lemah. :( ) sambil mengikuti gerakannya Mbak Wiwied. Saat dimulainya materi, Mbak Wiwied pun banyak memberi contoh puisi dan masukan bagaimana cara membuat puisi tersebut.

Berlanjut acara selanjutnya yang diisi oleh  Mbak Rina Rinz. Mbak Rina menjelaskan bagaimana cara membuat cerpen yang baik, alur, sampai outline. Wow banget acaranya.






Sampai pada acara puncak, 1 jam bersama Mas Ramaditya Adikara. Nama itu sangat familiar, tapi saya tak pernah tahu orangnya, bahkan tak pernah membaca karyanya. (Katrok banget, ya? Ya sudahlah. Saya memang sulit tertarik dengan sebuah buku jika tak mengenal penulisnya).

Sampai akhirnya saya terkejut ketika tahu siapa yang ada di depan saya, seorang tunanetra. Semakin terkejut lagi ketika ternyata dia punya kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki oleh orang sempurna seperti saya. Kisah-kisahnya sangat menginspirasi dan membuat saya tertegun berkali-kali. Bahkan saya pun harus mengusap air mata di tengah tawa saya ketika dia bercerita tentang bus kota. Tak ada hubungannya pantat dan buta.


Satu per satu kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah menghipnotis saya. Dia bisa, kenapa saya tidak? Saya pun jadi ingin mengenalnya lebih jauh, Mbak Isye, dan juga Rara. Sampai terlontar dari mulut saya sebuah pertanyaan yang seharusnya tak perlu saya tanyakan padanya, "Saya sangat penasaran dengan Rara, punya fotonya?" (kurang lebih seperti itu, lupa lagi)

Saya pun tak sanggup membendung air mata (ah, emang dasarnya saya cengeng dan gampang tersentuh) ketika Mas Rama memainkan alat musiknya, lagu yang pernah dimainkan dengan Rara. Andai itu bukan di tempat ramai, ingin saya berlari pulang dan mengatakan rindu pada si kecil, Asma yang saya tinggalkan di rumah.






Setelah acara selesai, saya bergegas membeli buku Mas Rama yang dibonusi tanda tangan, juga flash disk untuk diisi lagu buatan Mas Rama. Saya melihatnya dari dekat. Sebenarnya, saya ingin menjabat tangan, memeluknya dan mengucapkan sejuta rasa terima kasih. Dia adalah orang kedua yang menginspirasi saya selain Mbak Asma (makanya saya menamai anak saya Asma dan pernah nyidam bertemu Mbak Asma saat hamil 9 bulan). Lagi-lagi saya sadar, dia laki-laki, malu dong kalo diliat orang-orang, apalagi kami sama-sama sudah menikah (Maaf Mbak Isye .... Tiada maksud. Cuma sebatas fans kepada artis). Mas Rama adalah artis kedua dalam hidup saya selain "Jacob serigala di twilight.

Acara pembagian sertifikat plus penukaran cinderamata pun berlangsung, saya dipilihkan bungkus paling besar oleh Mbak Yuyun, teman saya yang duduk paling depan. Tak perlu panjang lebar, saya pun pulang bersama Mas Imam, tetangga saya itu dan turun di Wafa Husada. Saya di sana cukup lama, sampai akhirnya pulang karena sudah terlalu sore.






Sesampainya di rumah, saya membuka hadiah dari sesorang (maaf, saya lupa namanya, kertasnya hilang :( ) yang isinya sebuah mug polos dan banyak sekali permen lollipop alpenliebe dengan sebuah kertas yang bertuliskan harus menggunakan mug ini di aktivitas menulis saya. Alhamdulillah, mug itu akan selalu saya gunakan dan permennya langsung dimakan si kecil, terima kasih. :) (yang merasa, hubungi saya, ya?)

Panjang banget deh cerita hari itu, tapi sayang gak bisa menceritakan satu per satu, fotonya pun terbatas. Saya hanya memotret 2x dan foto paling atas "nyuri" dari grup KBM (Maaf buat fotografernya yang entah siapa).

Yang penasaran dengan bukunya Mas Rama, insyaallah akan saya resensi, secepatnya (kalau tidak lupa)

Share on Google Plus

About Anisa Ae

2 komentar:

  1. hohoho.... makasih, ada namaku disebut di sana. Yang bener dari Sabang sampai Merauke mbk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, iya nih Mbak. Suka kumat lupanya. :D

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.