Bapak Tua dan Sepeda Butut





CORETAN KECIL ANISA AE

Berbagi dan menginspirasi.

Di depan saya tepat, kini ada seorang bapak tua yang mendorong sepeda bututnya dengan langkah pelan. Kakinya seperti tak kuat lagi berjalan. Di atas boncengan sepedanya, ada sebuah keranjang lumayan besar yang berisi sandal-sandal yang dibungkus plastik. Beberapa bungkus sandal sudah tampak lusuh. Mungkin terlalu lama tidak terjamah tangan pembeli. Hanya terjamah oleh angin dan debu.

Dengan wajah ramah, bapak itu menebar senyum seraya menawarkan barang dagangannya kepada siapa pun yang ia temui. Orang-orang yang ditawarinya ada yang tertarik membeli satu atau dua pasang sandal, dengan tanpa mengambil uang kembalian. Saya yakin, orang-orang itu membeli sandal bapak tua itu bukan karena benar-benar butuh. Tapi lebih karena, entahlah, mungkin kasihan. Orang-orang yang lainnya tampak cuek, tak acuh, dan menganggap bapak itu tak ada di sana.

Kita ingat hari ini. Seluruh penjuru nusantara tahu hari ini. Hari yang dinamakan ‘pesta’ demokrasi yang jatuh pada Rabu 9 April 2014. Hari yang katanya sangat bersejarah demi memilih para wakil rakyat untuk mewakili rakyat di gedung DPR. Hari di mana kertas-kertas setelah dicontreng sekelumit, akan dimusnahkan. Hari di mana uang milyaran atau bahkan mungkin triliunan habis dalam sekejap demi sebuah ‘pesta’. Tapi, di pinggir jalanan, ada pesta lain yang lebih menarik hati bapak tua ini. Pesta dengan angin-angin dan debu jalanan. Berpesta dengan nasib dan pertaruhan rezeki. Berpesta dengan harap bisa kah makan malam ini.





Mungkin sebagian kita ada yang berpikir, ya, masih bagus lah bapak itu masih mau kerja. Kalau mau makan memang harus kerja, katanya. Tapi, yang kita lihat bukan masalah kerja atau apanya. Tapi masalah ketimpangan sosial. Masalah stratifikasi yang begitu jauh akan kedudukan sebuah nasib di hari ini. Bapak tua ini harus mendorong sepeda bututnya dengan kaki telanjang, sementara mereka, yang hendak menjadi ‘babu’ rakyat – seharusnya – terbang ke sana kemari dengan jet pribadi. Pernahkah mereka memikirkan rakyat yang senasib dengan bapak tua penjual sandal ini? mereka mungkin pernah memikirkan. Tapi sedetik, dua detik, lewat sudah.

Kita juga mesti ingat, berapa banyak janji yang keluar masuk telinga kita. Berapa juta janji pula yang keluar masuk di telinga bapak itu. Sudah ngga terhitung lagi. Dan nyatanya, siapapun yang terpilih pada hari ini nanti, saya yakin, nasib bapak itu tidak pernah berubah. Lalu, sampai kapan pertiwi kita akan seperti ini? mungkin kita yang harus bertindak. Berubah dari hal terkecil. Saling meringankan beban dengan orang-orang seperti bapak tua tadi dengan membeli barang dagangannya. Meskipun kita tidak terlalu butuh. Dengan itu saya yakin, bapak itu sudah tersenyum lega. Tak perlu dulu lah kita berkoar protes ke sana ke mari. Cukup mulai dari diri sendiri.




Share on Google Plus

About ilmi cilik

0 komentar:

Post a Comment

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.