UNDANGAN ISTIMEWA


Berbagi dan menginspirasi
 
                Sejak belum menikah, Jamil Hergia telah memiliki lahan di lereng bukit seluas setengah hektare. Di lahan itu telah dibangunnya sebuah rumah mungil, dua kamar tidur, dilengkapi ruang tamu, dan dapur. Rumah itu hasil karyanya sendiri, tanpa bantuan jasa tukang batu. Saat ia mulai membangun rumah sederhana itu, belum ada seorang pun tetangga, namun kini kawasan itu telah menjadi kawasan pemukiman istimewa, karena bebas banjir. 
Kini Jamin telah menikah dan tinggal di rumah itu bersama istri dan dua anaknya. Anak tertua, SMU di tahun kedua dan anak keduanya baru tamat sekolah dasar. Mereka hidup sederhana tanpa banyak memikirkan kemewahan. Anak tertua telah mampu membantu pekerjaannya

Jamil bukanlah pejabat politik atau pejabat pemerintah. Ia hanya petani sawi (Brassica juncea). Tiap hari ia berkawan akrab dengan tanah dan tanaman sawi. Dan, tanaman itu bagai menyatu dalam denyut nadinya. Ia telah menekuni bertanam sawi sejak belum menikah. Hanya saja istrinya terkadang iseng menanam beberapa pohon lombok, terong, dan kacang panjang untuk kebutuhan sendiri. Dan hasilnya sangat berlebihan, sehingga bisa dibagikan kepada tetangga.

Tak ada pekerjaan lain dilakukan Jamil. Semua kebutuhan keluarga dipenuhi dari hasil menjual sawi. Tiap seminggu sekali ia menjual sawi ke pasar dengan sebuah motor tuanya. Sawi itu pun tidak di jualnya sendiri, tetapi dititipkan pada pengecer di pasar.
~
Saat itu pekan kedua bulan Juli. Ia menghentikan pekerjaannya saat melihat seseorang menuju ke arahnya. Sambil menyeka keringat di dahi, ia menyapa orang itu.
“Mencari siapa, Bapak?” tanyanya.
“Mencari Pak Jamil, Jamil  Hergia,” sahut orang itu.
“Saya sendiri, Jamil Hergia,” sahutnya. “Ada berita apakah jauh-jauh datang ke kemari?”
“Saya dari kantor desa,” kata orang itu. “Hanya menyampaikan undangan ini.”   Menyerahkan sepucuk undangan seperti layaknya undangan pernikahan.
“Usahakan datang pada hari Rabu nanti, Pak Jamil,katanya lagi.
“Sebentar dulu, Pak,” kata Jamil. “Mungkin undangan ini salah alamat, barangkali yang dimaksud bukan saya, tapi Pak Jamil Gunadi. Beliau bekerja di kantor kecamatan.”
“Tidak, justru Pak Jamil Gunadi yang menyampaikan undangan ini ke kantor desa!sahut petugas itu.

Petugas kantor desa telah kembali. Berkali-kali Jamil memandangi undang itu. Sebuah undangan resmi dari pemerintah kabupaten. Selama ini belum pernah ia menerima undangan semacam itu. Ia pun belum pernah menghadiri undangan pemerintah kabupaten di sebuah hotel mewah, kecuali untuk memberikan hak pilihnya pada saat Pemilihan Umum di tempat pemungutan suara.

Siang waktunya istirahat, Jamil kembali ke rumah. Kalimat pertama diucapkan pada istrinya tentang undangan itu.
“Bu, coba lihat, saya dapat undangan dari pemeritah kabupaten!” Menyerahkan undangan pada istrinya.
“Undangan pernikahan, Pak?” sahut istrinya.
“Bukan! Tapi acara untuk petani, coba baca!” kata Jamil. ”Saya harus pakai baju apa nanti, karena tempatnya di hotel,kata Jamil.
“Iya, tempatnya di hotel, bukan di balai desa!sahut istrinya. “Pakai batik yang biasa dipakai ke undangan itu saja, Pak.” 
“Masa saya harus pakai sandal jepit?” kata Jamil.
“Pinjam sepatu anakmu, bukahkah ia memiliki dua pasang!sahut istrinya.

Hari seperti tertulis dalam undangan tiba. Jamil datang ke tempat itu dengan motor tuanya. Sedikit minder ketika memasuki halaman hotel, karena melihat banyak kendaraan mewah parkir di sana. Ia pun memilih tempat parkir jauh di samping hotel dan sedikit terlindung.

Baru saja ia berada di depan pintu masuk utama, seorang wanita muda menyambutnya. “Peserta, Pak?” sapanya ramah dan senyum manis.
Iya, semoga saya tidak terlambat!sahut Jamil menunjukkan undangan itu.
“Tidak terlambat, acara akan dimulai kira-kira satu jam lagi,” sahut wanita itu. “Silakan diisi daftar hadir peserta, Pak.”
Jamil menulis namanya di daftar itu, dengan tangan sedikit gemetar karena tidak biasa memegang pulpen. Ia lebih mahir memegang cangkul dan arit. Wanita itu menyerahkan sebuah tas hitam. “Ini alat tulis dan beberapa materi, Pak Jamil,katanya.
“Hanya menulis nama dan alamat, saya diberi tas sebagus ini?” pikir Jamil saat itu. Namun ia berucap, “Acaranya di mana, Bu?”
“Mari, Pak. Saya antar,” kata seorang wanita cantik lainnya.

Jamil diantar ke sebuah ruangan mewah. Kursi tertata rapi dibungkus kain biru muda. Permadani merah tua bersih terhampar dari depan pintu. Ruangan sejuk ber-AC. Sebuah tulisan besar terpasang di dinding putih kehijauan terlihat begitu sejuk di mata.

Tak lama berselang, semua kursi telah terisi. Tak kurang 40 orang berada di ruangan itu. Seorang laki-laki muda berpakaian putih lengan panjang, dasi bintik-bintik hitam, duduk di meja depan. Di sebelahnya dua orang cukup tua memakai jas biru kehitaman terlihat gagah dan terpelajar.

Acara pembukaan telah selesai. Tepuk tangan meriah peserta dilanjutkan dengan bersalam-salaman kepada peserta. Jamil pun ikut bertepuk tangan dan bersalam-salaman, walau belum sepenuhnya mengerti apa yang disampaikan saat acara pembukaan tersebut. Namun, ia sangat senang hadir di tempat itu, karena baru pertama kali menginjakkan kaki di hotel mewah.

Makan kue dan minum kopi sambil berdiri terasa asing bagi Jamil. Apalagi harus menambahkan gula masing-masing ke gelas mungil ukuran habis sekali teguk. Ia terbiasa dengan kopi segelas besar atau sekendi air putih. Namun, ia terus memperhatikan orang-orang yang ada di tempat itu dan meniru mereka.

Acara kembali dilanjutkan. Seorang laki-laki dewasa berpakaian biru lengan panjang lancar berbica. Kadang ia duduk, lain kesempatan berdiri. Berbicara tentang penjualan, teknologi pertanian, hingga keuntungan yang diperoleh oleh para petani. Jamil terus menyimak penjelasan tersebut, walau terkadang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh si pembicara karena kata-kata sangat asing di telinganya. Ia kagum melihat gambar-gambar dan terkadang tulisan di layar bagai layar tancap di kampungnya beberapa tahun lalu.
                Menjelang siang, acara selesai. Semua peserta berfoto di depan sebuah spanduk bersama penyelenggara. Merasa telah selesai, Jamil dan semua orang yang hadir sebagai peserta di tempat itu berkemas akan pulang. Tiba-tiba ada suara merdu seorang wanita melalui pengeras suara menggema.
                “Mohon perhatian kepada peserta, agar bertahan sesaat untuk penyelesaian administrasi. Terima kasih,katanya.
                Melihat orang lain belum beranjak dari ruangan itu, Jamil pun ikut bertahan. Satu per satu nama peserta dipanggil untuk menandatangani sebuah daftar. Nama Jamil Hergia disebut, ia menuju meja di depan ruangan.
                “Pak Jamil, silakan tanda tangan di sini, Pak,” kata petugas wanita di meja itu.
                Jamil membubuhkan tanda tangan. “Terima kasih, Pak Jamil. Ini sekedar ganti uang transport dan uang saku,katanya tersenyum ramah.
“Terima kasih, semoga lain waktu ada lagi acara seperti ini.” Jamil menerima amplop dan memasukkannya ke dalam tas yang ia terima.
~
Jamil kembali dan tiba di rumah. Istrinya bersemangat untuk mengetahui apa yang diperoleh suaminya dalam acara tersebut.
                “Bagaimana acaranya, Pak?” tanya istrinya.
                “Acaranya bagus, lebih bagus daripada pesta penikahan di kampung ini,” sahut Jamil. “Makanan juga enak, apalagi kopi pahitnya. Saya terlalu sedikit menambahkan gula, sampai terasa pahit sekali.” Ia tersenyum.
                “Apakah ada cara bertanam sawi juga, Pak?” tanya istrinya.
                “Tidak ada!” sahut Jamil. “Tadinya saya berpikir akan ada cara mencangkul tanah agar lebih mudah dan tidak lelah.”
                “Itu harus pakai mesin, Pak seperti di TV,” kata istrinya, “Terus apa yang diperoleh di sana tadi?”
                “Tas ini!” kata Jamil, mengeluarkan amplop di dalamnya. “Juga ada amplop ini.” Menyerahkan pada istrinya.
                “Cuma ini, Pak?” kata istrinya, membuka amplop dan tersenyum. “Banyak juga, Pak. Bisa untuk membeli  minyak tanah tiga hari.”
                “Tapi, saya tidak mengerti apa yang disampaikan. Tadinya saya pikir sudah ada benih sawi jenis terbaru yang bisa tumbuh cepat, tidak perlu tiga minggu untuk panen, tapi cukup tujuh hari,” kata Jamil. “Tapi ada juga kertas-kertas dalam tas ini, biar Herdandi saja membacanya nanti.” Jamil berganti pakaian dan kembali bekerja seperti biasa di kebun sawinya .

Haidi.24.01.2013


Haidi, lahir 22 September 1968, di Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tamat Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) Samarinda. Menetap di Sangatta.
Dapat dihubungi melalui email: haidi719@yahoo.com atau Facebook: Haidi Yan.

Saya merindukan penulis ini, sudah satu bulan ini terpikirkan terus pada beliau. Jika ada teman-teman yang tahu tentang kabar pemilik cerpen ini, tolong hubungi saya di 08991021140. Terima kasih. :)

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari ^^v
Share on Google Plus

About Anisa Ae

4 komentar:

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.