Aku Dipikir Penculik


Berbagi dan menginspirasi

Hari belum terlalu siang ketika seorang ibu ke rumahku. Tanpa ba bi bu, beliau langsung menanyakan keberadaan putra semata wayangnya. Aku langsung terkejut, apalagi Meiga yang sedang membungkus buku. Halow, aku sudah punya anak dan suami, mana mungkin bawa kabur anak orang, cowok lagi.

Tanpa menunggu lama, ibu itu langsung menceritakan asal mula kenapa putranya menghilang sejak pagi. Ya, aku merasa tak enak ketika menjadi tempat pertama yang dituju karena dekat dengan anaknya. Bukan dekat dari segi emosional sih, tapi cenderung ke hubungan kerja.

"Nis, aku gak tau harus bicara kepada siapa lagi. Kipikir dia akrab denganmu dan ke sini!"

Aku tersenyum padanya untuk menanggapi segala kalimat yang dia lontarkan. Sungguh aku tak tahu harus berkata apa, hanya bisa membantu dengan doa. Tak ada kasih sayang yang melebihi sayangnya ibu pada sang buah hati.

Mungkin seorang ayah bisa dengan begitu cepat melupakan anak-anaknya, terlebih jika sudah dengan wanita lain. Namun, hal itu sangat jarang terjadi pada seorang ibu. Ibu akan mengusahakan apa pun untuk kebahagiaan putra-putrinya. Bahkan ibu rela menanggung sakit yang diderita mereka, daripada sang anak yang merasakan sakitnya.

Cobalah lihat berapa wanita lemah yang menjadi kuat saat dia menjadi ibu. Kepala menjadi kaki, ke sana-ke mari hanya untuk sesuap nasi, agar anak-anaknya bisa sekolah. Tak jarang terlihat sebuah keluarga yang sukses hanya dengan orang tua tunggal, ibu. Pun sebaliknya jika hanya ada ayah, belum tentu anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang layak dan cukup kasih sayang. Ya, wanita adalah tiang negara, pun dalam rumah tangga.

Mungkin anak takut bercerita pada orang tua karena tak mau membebani. Orang tua juga tak bercerita pada anak. Hasilnya adalah kurangnya komunikasi di antara mereka, padahal semua berniat baik. Tak ada yang ingin menyakiti.

Dulu aku juga seorang anak yang egois dan mai menang sendiri. Apa pun harus dituruti, tak peduli jika ibu tak beruang. Tak ada keberanian sama sekali meminta pada ayah, apalagi jika beliau sudah berkata tak punya uang. Jangan sampai sapu atau rotan mengenai tubuhku. Kenapa aku berani minta pada ibu? Ya, karena ibu tak pernah memukulku walau sedang marah.

Aku juga tak pernah menangis di dalam rumah, tak ingin menunjukkan kesedihanku pada ibu. Bercerita pun tidak, bahkan cenderung menceritakan masalahku pada orang lain. Ya, mungkin sifat ini kudapat dari ibu. Tunjukkan kekuatan dan ketegaranmu pada orang yang kamu sayang.

Setelah bersuami pun aku tetap seperti itu, berusaha tak menunjukkan kelemahanku padanya agar dia juga termotivasi. Namun, lama-lama capek juga dipendam sendiri. Apalagi suami juga bukan termasuk romantis.

Kuncinya hanya satu, komunikasi.

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari ^^v
Share on Google Plus

About Anisa Ae

0 komentar:

Post a Comment

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.