Kado Ulang Tahun yang Tertunda


Berbagi dan menginspirasi 

Anisa - Kemarin, Selasa 3 Februari, saya janjian dengan teman-teman penulis di Gramedia Matos. Bukan apa sih, karena kebetulan Raditya Dika ke tempat itu. Tapi ada rasa tersendiri ketika bisa bertemu dengan Eric Keroncong, Zee (Zahara Putri), Dee Dyantri, dan Ria AS. Jarang-jarang bisa mendapat moment yang pas.

Eh, bukan karena saya ngefans pada Mas Raditya, sama sekali bukan. Tapi karena kangen pada teman-teman yang sudah berbulan-bulan tak bertemu. Apalagi pada si jelek Erik. Rasanya kangen pake banget. Habis, rumahnya jauh sih. 

Tak ada yang saya lakukan di sana selain ke food court bareng teman-teman. Mau ikut antri minta tanda tangan juga malas, antriannya tuh minta ampun .... Panjang banget sampe pintu masuk Matos. 
Saat akan pulang, tiba-tiba Dee memberikan sebuah kotak kecil. Katanya sebagai hadiah ultah, dia minta maaf karena gak visa datang pas diundang. Well. Saya cuma melongo, mengingat kapan ultah dan mengundang dia.

Alamak ... ternyata kejadian itu terjadi lebih dari 2 tahun yang lalu. Tepatnya pada 18 Desember 2013. Ya, terang aja lupa. Bukan undangan milad sih sebenarnya, lebih tepat disebut undangan ngrayain ultah bareng karena Dee juga lahir pada bulan yang sama, tanggalnya hanya selisih beberapa hari.

Hiks, terharu banget diingat pas milad. Soale udah lama gak dapat kado. Terakhir, dapat buku dari Zee dan bros bunga. Itu pun di tahun 2013. Ternyata milad itu diingat oleh orang yang sama sekali tak terlintas di otak saya.

Pulangnya, saya mampir ke Taman Trunojoyo di depan Stasiun Kota Baru. Bukannya apa sih, tadi di Matos gak sempat ke kamar kecil. Jadinya ngempet deh. Tapi gak nyesel kok, tamannya bagus. Sepertinya bulan depan wajib ngajak Asma ke tempat itu buat bung bung bung.

Karena penasaran, saya pun membuka kado dari Dee. Kertas pertama dibuka, ternyata masih ada kertas kedua denga tempelan tulisan met milad dan doa untuk saya. Begitu kertas kedua dibuka, hadirlah sebuah kardus kukubim* warna ungu.

Saya menahan tawa, teringat saat SMP dulu, sering memberikan cokelat Jag* yang dibungkus banyak kertas. Padahal cokelatnya cuma satu. Tak hanya itu, selalu ada moment pecah telur dan tepung di atas teman yang milad. Ya, walaupun itu bukan milad saya, tapi sangat berkesan.


Tanpa banyak kata, terbukalah kardua mungil itu. Tara ...! Di dalamnya ada sebuah jam tangan manis di antara sobekan kertas. Hiks, ada air mata yang menitik kala melihat jam tersebut.

Bukan karena kadonya, tapi karena ingatan melayang pada sesuatu yang sering saya lupakan. Sesuatu yang tak akan pernah bisa kembali ketika telah pergi. Selalu saya sia-siakan dengan berbagai macam alasan.

Ya, waktu. 

"Seandainya waktu dapat diputar kembali." Selalu kalimat itu yang diucapkan manusia. Sayangnya waktu tak dapat diputar, jarun jamlah yang bisa diputar.

Jika nasi telah menjadi bubur, jangan dibuang. Jadikanlah makanan yang nikmat dengan menambahkan suwiran ayam, kecap, kacang, dan telur di atasnya. Itulah cara membuat hidup lebih bermakna. 
Share on Google Plus

About Anisa Ae

4 komentar:

  1. Semoga hidup kita selalu bermakna :)

    ReplyDelete
  2. saya terkadang membayangkan gimana jadinya kalau saya punya mesin waktu, hmm. tapi, saya suka sama kalimat penutup postingnya, keren :)

    ReplyDelete
  3. Ah, bukan kamu saja. Saya pun selalu memimpikan ada seseorang dari masa depan yang mengirimkan robot ajaib seerti doraemon. :)

    Terima kasih karena sudah suka. Kadang, menjadikan bubur itu nikmat, sangatlah sulit. :(

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.