Valentine Boleh Kok


Berbagi dan menginspirasi.

Anisa - Valentine, sebuah kata yang sakral pada bulan Februari. Sangat sakral karena banyak sekali muda-mudi yang ikut merayakannya. Tak hanya remaja, para ABG dan orang tua pun tak lepas dari kata tersebut. Valentine yang identik dengan barang serba pink dan kue cokelat. Ah, tak ketinggalan setangkai mawar merah yang indah dan sangat harum. 

Aku pernah membayangkan akan mendapat perlakuan 'istimewa' dari seseorang. Sesuatu yang sangat romantis. Kami berada di sebuah cafe remang-remang dengan ditemani musik klasik yang indah. Beberapa lilin kecil ada di tengah meja dan dia memberikan sekuntum mawar merah untukku. Hiiiisss. Mimpi anak ababil.

Tapi, wanita mana yang tak memimpikan hal seperti itu? Apalagi dibarengi dengan permintaan untuk menjadi pasangan dunia akhirat? Ya, sayangnya hal itu tak pernah terjadi padaku. Jadi, bersyukurlah kalian, para wanita yang dilamar dengan suasana paling romantis menurutku.

Ah, aku pernah merayakan valentine bersama teman-teman saat SMP. Walau ada yang berkata itu haram, kenapa dipikirin??? Itu yang ada di pikiran saat itu. Ya iyalah. Namanya juga ababil. Kalau ada yang ngajak ke sana- ke sini, ataupun masuk sumur ramai-ramai, pasti gak dipikirin.

Kebetulan, sekolahku termasuk favorit, walaupun aku harus menahan lapar agar bisa membeli LKS ataupun kertas ulangan dari sekolah. Well, aku cukup bangga jika dapat mengenakan seragam dengan nama sekolah.

Saat itu 7 Februari 2002. Teman-teman sudah ramai membicarakan valentine, kata yang sangat asing untukku. Kata ndeso melekat padaku karena ketidaktahuan tentang hal tersebut. Sampai akhirnya salah seorang teman menjelaskan dan meminta kami sekelas untuk ikut merayakannya.

Tidak sulit. Hanya wajib menguncir rambut menjadi dua dengan  menggunakan pita pink untuk para siswi dan semua wajib membawa sebuah kado yang dibungkus koran dengan isi yang nilainya tak lebih dari 500 rupiah. Agar kelasku kelihatan kompak, begitu alasannya.

13 Februari (tepat saat aku menulis ini), aku meminta uang Ibu sekadar untuk membeli pita dan coklat. Ya, seribu sudah cukup membeli semuanya. Sementara tetanggaku yang saat itu tidak sekelas, hanya mencibir. 

Aku masih tak mengerti apa itu valentine. Buatku, mengikuti tren teman-teman itu bisa ikut jadi pusat perhatian. Maklumlah, di kelasku banyak sekali orang 'wah' yang selalu ditiru oleh siswa kelas lain. Kalau ikut acara mereka, aku bakalan kerwn juga. ^^/
 
Sampai tanggal 14 Februari. Aku benar-benar menjadi pusat perhatian, ehm, maksudku seluruh murid di kelas 1C. Kami mendadak jadi artis, sampai menjadi bahan pembicaraan guru-guru. Benar-benar heboh. Aku pun dengan PD-nya menoleh ke kiri dan kanan agar pita pink bergoyang. Hohoho.

Tiba-tiba seorang guru menegur kami semua pada jam pelajaran pertama. Tanpa menjelaskan apa itu valentine, hanya berkata bahwa merayakan valentine itu tidak boleh. Kami hanya tertawa diam-diam saat beliau menegur dan tetap akan melakukan acara tukar kado saat istirahat pertama. 

Saat istirahat berlangsung, kami mengumpulkan semua kado dan memberinya angka. Lalu kami mengambil gulungan kertas yang berisi angka-angka tersebut, pastinya setelah dikocok. Senangnya hatiku ketika mendapat cokelat besar, karena yang kubungkus hanya 2 cokelat ichiban, harganya seratus rupiah.

Sebelum acara selesai, tiba-tiba guru Agama Islam datang. Beliau membubarkan kami, tetap tanpa alasan yang jelas. Ah, namanya juga ababil, kami tetap melanjutkan acara setelah beliau pergi. Kenapa tanpa alasan??? Seharusnya bisa memberi alasan yang tepat. 

Namun, masih terngiang kalimat salah seorang teman yang berbisik ke telingaku, "Valentine itu boleh kok, kalau kamu non muslim!"

Kini aku mengerti kenapa para guru tidak bisa menjelaskan. Ya, mungkin karena kami bersekolah di sekolah umum dengan beragam agama dan kepercayaan. Tidak mungkin para guru menjelekkan agama lain di hadapan murid yang beragama lain tersebut, walaupun itu benar.
Ah, tanggal 14 Februari selalu memberikan sejuta kisah. 

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari ^^v 
Share on Google Plus

About Anisa Ae

5 komentar:

  1. Wah, tegas banget ya Mbak. Valentine boleh, asal kamu bukan non Muslim. Alhamdulillah aku gak pernah merayakan valentine sampai sekarang.

    ReplyDelete
  2. gue gimana mo ngerayain palenten, wong pacar ja ndak punya T_T

    ReplyDelete
  3. Kebetulan saya hidup dan sekolah di deaa jadi tidak tahu akan budaya budaya barat yang aneh aneh. Sampai sekarangpun saya tidak terlalu peduli dengan perayaan perayaan yang mubadzir.

    ReplyDelete
  4. salam : mending gak usah pacaran deh :)

    menujumadani : bagus tuh. Jangan deh :)

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.