Usia Bukan Alasan untuk Meminta (Gambang Saron)

Pak Tua Bernyanyi
Anisa AE  -  Ting tiing tingg.
 
Sebuah suara dengan tembang Jawa mengusik telinga saya. Bukan karena suara merdu atau alunan alat musik yang menggetarkan sukma, tapi lagu dengan suara tinggi yang khas orang tua. Ada nada-nada sendu di dalamnya, walau yang dinyanyikan adalah tembang dolanan  'Gundul Pacul'. 

Tidak sekali dua mendengar nada itu, sangat sering. Lebih tepatnya hampir setiap hari ketika berbelanja di Pasar Kepanjen. Tepat di pintu masuk pasar basah sebelah utara, depan Toko Roti Dea.
 
Pendendang adalah orang tua, umurnya saya perkirakan lebih dari 60 tahun, melihat dari keriput yang berjejer dan gigi-gigi yang mulai tidak ada. Topi hijau yang tak kalah umurnya pun selalu menghiasi kepalanya. Beberapa alat musik Jawa juga berjejer rapi di depannya, tidak banyak, hanya beberapa.
 
Saya sempat menanyakan namanya, tapi sekarang sudah lupa. Efek membawa hape android, catatan terhapus. Namun masih teringat kalau rumahnya berada di Blobo, dekat SMP3 Kepanjen.
 
Ketika mau pulang, saya melewatinya lagi. Apalagi saat itu ada Mbak Indah yang menawarkan tumpangan pulang. Namun, ah. Tiba-tiba saya kepikiran untuk memperkenalkan gambang saron itu pada si kecil, agar dia tak hanya bermain dengan piano kecil. Sepertinya lebih asik menyalurkan emosi dengan memainkan alat musik tersebut.
 
Gambang Saron

Apalagi harga gambang saron yang ditawarkan cukup murah, 15.000 untuk ukuran kecil, dan 30.000 untuk yang besar. Tanpa menawar, saya langsung membeli yang kecil. Namun, ah. Bapak tersebut malah memberikan yang besar hanya dengan harga 20.000 saja. Itu pun karena tidak ada uang kembalian. Buatan sendiri, itu katanya sambil tertawa.

Okelah, pasti sudah tak asing dengan alat musik satu ini, yang bahkan hampir punah dimakan usia. Anak-anak saat ini lebih menyukai piano, band, gitar, dan alat musik canggih lainnya. Jika ditanya ini alat apa, pasti hanya ada kerutan di dahi.

Gambang saron ini akan lebih bermakna, jika kami memaknainya dengan tepat, saya dan Asma. Semoga alat musik tersebut tidak akan hilang dimakan zaman. Pun semoga akan terus ada orang-orang seperti bapak tersebut. Tak meminta, tapi mencari nafkah melestarikan budaya.

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari ^^v 


Share on Google Plus

About Anisa Ae

12 komentar:

  1. Waah dulu waktu aku SD banyak yang jual nih beginian, tapi sekarang blas udah gak pernah nemu. Bener ya, hampir punah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak Pung. :) Semoga saja tidak punah dan tetap dijaga kelestariannya. Apa nunggu diplagiat dulu seperti batik? Heheh.

      Delete
  2. jad kangen inget waktu bocah, bangun tidur, mandi, bedakan, maen ginian ama temen... sekarang bocah2 malah mainannya gadget yang engga ada nilai budayanya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. :( Dulu saya pingin mainan kaya' gini, ndadak dibuatin sama Abah. Sekarang enak, apa-apa tinggal beli. Tapi yang beli gak mau. :(
      Kurang canggih.

      Delete
  3. Bener. Anak zaman sekarang lebih cenderung ke budaya luar. Budaya bangsa sendiri malah dikesampingkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau belajar budaya sendiri aja, seperti tari tradisioanl, bayar mahal. :(

      Delete
  4. Wah. Gue baru liat tuh. Jadi sedih ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, pastinya diambil hikmahnya aja. :)

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.