Aura Gerbong Maut di Musium Brawijaya

musium brawijaya - Malang
Tank Amphibi

Anisa AE - Jangan berpikiran kalau kali ini saya berfoto di dalam gerbong maut. Sangat salah. Okelah, saya akan mulai bercerita tentang perjalanan ke musium ini. Saya tak perlu menjelaskan apa itu musium dan apa saja manfaatnya, sepertinya itu sudah keluar dari konteks. Namun, izinkan saya bercerita tentang kejadian yang saya alami.

Oke, oke. Itu tidak penting. Jadi, silakan menutup halaman web ini. Karena saya bukanlah artis yang biasa dikejar-kejar oleh paparazi. Apalah arti dari cerita saya? Namun, bagi yang masih penasaran ada apa dengan gerbong maut, bisa lanjutkan membacanya.

musium brawijaya - Malang
Senjata Penangkis Serangan Udara

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada 27 Januari 2015 (jangan dikomplain kenapa saya menuliskannya saat ini), saya mengunjungi Musium Brawijaya. Bukan hal yang aneh, apalagi saya termasuk warga kabupaten Malang dan sangat sering melewati musium tersebut.

Kenapa baru saat itu saya ke sana? Pertama karena saya takut masuk ke sana jika tidak ada teman (jujur sekali). Aura dari luar sudah melarang saya untuk masuk ke sana, atau hati kecil saya langsung memantabkan menuju perpustakaan kota yang terletak tepat di depannya.

musium brawijaya - Malang
Tank
Sampai akhirnya 2 kali saya mengikuti acara yang terletak di halaman musium. Acara pertama adalah saat rapat Malang Menulis dan acara ke dua adalah saat diundang Komunitas Malang Peduli Malang (mewakili grup Arek Kepanjen). Oke, saya bukan penakut. Tapi entahlah ....

Karena badmood di rumah, saya memilih pergi ke tempat ini. Sendirian, pastinya dengan menaiki angkot dan bus. Saya masih belum punya sepeda motor sampai saat ini. Namun, saya berharap memiliki Toyota Agya agar bisa mengajak keluarga ke musium ini. Saya yang suka mabuk darat, sepertinya sangat pas jika memiliki kendaraan pribadi. Selain bisa mengajak keluarga dan teman-teman untuk jalan-jalan, Toyota Agya juga bisa menghemat dompet.
Toyota Agya

Memang, jika badmood melanda, maka saya akan pergi ke mana pun hati menginginkannya. Kebetulan pilihan jatuh tepat pada musium Brawijaya. Saya langsung turun di depan musium dan menuju lobi, setelah terlebih dulu jeprat-jepret menggunakan hape jadul (dapat dilihat dari kualitas foto). Di lobi, saya mengisi registrasi dan membayar biaya masuk (lupa berapa tepatnya, kalau gak salah sih 2.500). 

Tanpa ba-bi-bu, saya memasuki ruang pameran sampai ke dalam, memotret dan membaca banyak sekali tulisan yang terpampang pada tiap benda koleksi. Serasa jadi paparazi, karena tiap di foto, ada aja pasangan yang ikut kepotret. Xixixi. Karena modem sedang tidak bersahabat, maka saya hanya menguplod sebagian.

musium brawijaya - Malang
Radio yang digunakan Den Hub Brawijaya 1945-1946

musium brawijaya - Malang
Meriam

musium brawijaya - Malang
Pistol

Setelah selesai keliling di ruang pameran satu dan dua, saya menuju ke ruang tengah. Awalnya tidak begitu tertarik dengan ruangan tersebut, namun karena di sana terlihat lebih terang dari di dalam ruang pameran (ruang pameran lumayan redup menurut saya), saya pun menuju ke sana.

Tara .... 
musium brawijaya - Malang
Perahu Segigir
Saya disambut oleh perahu segigir. Apa istimewanya perahu ini? Ini adalah perahu yang digunakan oleh Letkol Chandra Hasan untuk memimpin pasukan melawan Belanda. Istimewanya lagi, perahu segigir bukan perahu perang, tapi perahu yang digunakan untuk menangkap ikan dan hanya muat untuk 6 orang saja. Awalnya, perahu ini bertempat di Sumenep, lalu diserahkan kepada musium pada 26 November 1968.

Namun, aura tidak nyaman sejak pertama kali melihat musium ini memang tidak pernah mau hilang. Apalagi ketika saya berada di ruang tengah ini. Memang, benda-benda bersejarah mempunyai aura mistis yang tak terdefinisikan (sok ngerti banget). Untuk perahu ini, saya hanya memotret dari belakang, ya, karena ada aura yang tidak mengenakkan hati.
musium brawijaya - Malang
Gerbong Maut

Ternyata dugaan saya tepat. Aura tersebut datang dari gerbong maut. Dari namanya saja sudah menyeramkan, apalagi jika masuk ke dalam gerbong tersebut. Okelah, jujur saya saya tidak berani masuk, jangankan masuk, melongokkan kepala ke dalam gerbong saja tidak berani.

Saya tegaskan sekali lagi kalau bukan penakut, namun berada di sekitar gerbong membuat bulu kuduk saya semakin merinding (sebenarnya masuk saja sudah merinding, berhubung banyak orang, maka masih mendingan). Sebenarnya ada apa dengan gerbong itu? Sampai bulu kuduk saya merinding hebat.
musium brawijaya - Malang
Nomor Gerbong Maut

Setelah mengelilingi gerbong, saya mendapati sebuah tulisan yang menerangkan tentang gerbong tersebut. Gerbong barang dengan nomor GR 10152 tersebut adalah salah satu gerbong yang pada tanggal 23 September 1947 jam 2 pagi, mengangkut tawanan dari penjara Bondowoso menuju Surabaya. Ada 3 gerbong, berarti diperkirakan satu gerbong memuat 33 orang.

Saya dapat membayangkan bagaimana gerbong yang demikian sempit, mengangkut para pejuang Indonesia dengan perjalanan yang lumayan lama. Karena berdesak-desakan dan jendelanya tertutup rapat selama dalam perjalanan, mengakibatkan banyak pejuang yang meninggal. Hiii.
musium brawijaya - Malang
Tulisan pada gerbong maut

Bayangkan saja, gerbong sempit dengan 33 pejuang, duduk saja tidak bisa. Panas karena jendela tidak dibuka, pastinya mereka juga butuh oksigen untuk sekadar bernapas. Pejuang yang masih hidup, menggedor-gedor pintu untuk minta air atau sekadar jendela dibuka agar udara bisa masuk. Namun, tentara Belanda menjawab, "Air tidak ada, yang ada hanya peluru".

Ketika sampai di Stasiun Wonokromo, 46 orang pejuang kita meninggal dunia, 42 orang dalam keadaan sakit dan lemas, sementara 12 orang masih sehat. Para pejuang yang sehat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Penjara Kali Sosok Surabaya.

Sungguh, hati saya tertohok. Pantas jika aura tidak wajar hadir dari gerbong maut itu dan mengapa gerbong itu mendapatkan nama yang mendirikan bulu roma dengan sangat hebat. Biasanya, walaupun saya ke tempat sepi atau melewati rumah yang katanya angker, bulu kuduk tidak semerinding ini.
Narsis Dulu

Tetap saja, di mana pun dan kapan pun harus ada foto narsis. Hehehe. Akhirnya saya minta bantuan sepasang sejoli yang juga berada di tempat itu. Akhirnya kami saling memotret. Saya memotret mereka dan sebaliknya.

Sampai detik ini, ketika saya menulis tentang gerbong maut. Auranya masih tetap terasa, bulu kuduk pun merinding dibuatnya, padahal jarak dari Musium Brawijaya ke Kepanjen juga sangat jauh. Well, mungkin itulah alasan kenapa saya lama sekali tidak menuliskan tempat ini ke dalam blog.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v
Share on Google Plus

About Anisa Ae

20 komentar:

  1. Aim pas kami ajak ke sini agak rewel, mungkin merasakan auranya yang mistis. Kan anak kecil lebih peka.
    Btw wes disubmit di situs IDFB dan Toyota belum?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya aku gak berani ngajakin Asma. :)

      Udah disubmit semua.

      Delete
  2. Suasananya memang agak horor ya, mba. Jadi inget gerbong kereta di depo sini, kadang masih suka buat foto2, tapi ya serem aja ngeliatnya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keliatan banget horornya. Di mana-mana benda bersejarah itu kok mistis, ya? Percaya gak percaya sih.

      Delete
  3. Koleksinya saja ngeri-ngeri ya Mbak Anisa. Pistol, meriam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, namanya juga musium zaman penjajahan dulu.

      Delete
  4. ini musium yang tayang di on the spot januari 2014 lalu :-(D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kah? Aku malah gak pernah liat. Gak punya tivi. -,-

      Delete
  5. Oohh..museum itu saya juga sempat berkunjung saat ke malang. Memang aura mistia cukup kuat di sekitaran gerbong, itupun saya dpt penjelasan dr guidenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Saya tanpa guide, cuma jalan-jalan sendirian. Sepi pula pas-an. Jadi makin terasa mistisnya. -,-

      Delete
  6. spooky yaaa.. tp pengetahuan sejarahnya ok. jd tahu bahwa ada si gerbong maut ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, lumayanlah.
      Ini sejarahnya cuma tahu seberapa aja kok.

      Delete
  7. Lho, mbak Anisa AE orang Malang juga toh? Sama mbak, hihihi :-)

    ReplyDelete
  8. Sama" orang malang ayok kopdar mbak :D

    ReplyDelete
  9. waduh serem ya bacanya, karena kisah dibaliknya juga gitu kali ya, kalo di jakarta aku (walaupun pernah) paling segan sama museum bahari, entahlah suasanya kayak beda aja gitu hihi

    ReplyDelete
  10. Ya Allah, sesempit itu untuk 33 orang, pintunya ditutup pula.. Astaghfirullah..

    Tapi bener serem ya mba.. saya jadi penasaran.. pengen kesana, tapi kalau bawa anak2 takutnya mereka malah lihat yang enggak-enggak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sarannya jangan bawa anakanak aja

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.