Perjalanan ke Pameran Produk Indonesia, Surabaya

 
Nunggu Bus di Halte

Anisa AE - Pasti tak asing lagi dengan Pameran Produk Indonesia yang akan dibuka pada hari ini jam 10 siang. Yup, saya sepertinya sudah woro-woro kalau ada undangan ke sana pada tanggal 5-7 Agustus untuk meliput acara tersebut.

Saya siapkan segalanya seminggu sebelum hari H. Semua peralatan dan barang yang akan saya bawa. Plus sharing dengan Sandi dan Ihwan untuk prepare saat di lokasi acara. Wah, dapat dibayangkan betapa ribetnya seminggu sebelum hari H tersebut.

Sayangnya sampai pada tanggal 5, saya belum dapat info tentang tempat menginap dari teman. Karena itu tidak beli tiket kereta pagi, menunggu konfirmasi terlebih dahulu. Sayangnya ketika ditelpon, saya tidak mendapat jatah hotel, tapi malah di tempat kos. Tidak masalah sih bagi saya, tetap saja berangkat ke lokasi. Jarang-jarang ada acara seperti ini.

Tiket Kereta

Saya langsung memesan tiket ke Surabaya pada jam 11.45 sekalian pesan tiket ke Jakarta untuk tanggal 21. Sayangnya kereta datang lebih cepat, saya ketinggalan kereta. :( Sedih sekali, tapi itu tidak menyurutkan nioat untuk berangkat ke Surabaya.

Tanpa menunggu lama, saya ke jalan raya untuk naik bus. Sayang lagi ... bus yang biasanya berhenti di terminal Arjosari malah ke terminal Gadang. Jadi, saya oper naik angkot. Fuh, bisa dibayangkan bagaimana ribetnya naik angkot. Muter-muter dan nunggu penumpang.

Sebelum sampai Arjosari, ternyata saya sudah mabuk. Semua makanan tadi pagi sudah keluar. Hiks. Semakin sedih, memikirkan lanjut perjalanan atau tidak. Akhirnya saya berpikir untuk lanjut menggunakan bus ke Surabaya, tapi mampir dulu ke Sidoarjo untuk melihat keluarga AE yang baru. Yup, salah satu lini AE, Oksana Publishing baru punya baby kecil.

Ibu Penjual di Sebelah Pabrik Sepatu Ando

Sayangnya lagi-lagi badan lemas ketika sampai Arteri. Bagaimana tidak lemas, di bus saja muntah sampai 5x. Benar-benar kehabisan cairan. Sebenarnya saya was-was saat tiba di Arjosari, mau lanjut atau pulang lagi. Tapi dasar keras kepala, saya lanjut saja. Padahal sudah punya firasat tidak baik.

Ibu penjual di sebelah pabrik sangat baik. Beliau meminta tolong pada satpam dan beberapa karyawan yang ada di sana untuk menolong saya. Bahkan rela membeli minyak kayu putih dan membuatkan teh hangat. Menawarkan saya untuk ke rumahnya, memberi makan, dan yang lain sebagainya. Ibu itu orang Malang juga, aslinya Tumpang.

Ini adalah pertama kalinya saya menangis saat keluar kota. Satu hal yang tak pernah saya dapati dalam perjalanan jauh. Biasanya tak pernah seperti ini, seluruh badan terasa kesemutan, bicara saja tak sanggup. Bahkan saya kirim BC ke semua kontak BBM agar mencari informasi lokasi RS/puskesmas terdekat. 

Karyawan pabrik menghubungi suami saya yang kebetulan nama di hape adalah AYAH, sayangnya karena jauh, saya minta untuk menghubungi Dien Ilmi, Anggi, dan Nastain yang kebetulan ada di Sidoarjo. Bukan kebetulan sih, karena kami sudah janjian. Lantas pamannya Ilmi menjemput saya di Arteri.

Saya sempat tertidur di warung tersebut, sampai tidak mengetahui ada banyak telepon dari suami dan Anggi. Ketika warung akan ditutup, saya pura-pura kuat dan meninggalkan warung untuk mencari pamannya Anggi. Jelas saja ibu tersebut melarang, takut ada apa-apa dengan saya, tapi saya tetap nekat.

Di Arteri, saya diberi tahu kalau tadi ada yang mencari bolak-balik dan menceritakan kalau saya pingsan. Hiks, ternyata tidak ketemu. Pamannya Ilmi di Ando Sandal, saya di Ando Sepatu. Akhirnya saya berniat mencari tukang ojek sampai ke Tulangan. Sayangnya ojek mahal :(. Terpaksa mencari angkot untuk ke Pasar Tanggulangin.

Di Arteri, tiba-tiba saja ada yang berhenti dan menawari saya tumpangan ke Sidoarjo. Seorang bapak yang umurnya sekitar 35-40-an, sayang tidak sempat narsis bareng. Terima kasih Bapak ... jasa Anda tak akan saya lupakan. :'( Tak kenal, tapi menawari dengan tulus. Saya janji kalo punya sepeda motor, akan sering memberi tumpangan pada orang lain.

Di Pasar Tanggulangin, saya naik ojek ke Tulangan. Bapaknya juga baik banget. Di Pasar Tulangan dijemput oleh Nastain, dia bela-belain jemput saya pakai sepeda motornya Ilmi, apalagi saat itu pas mati lampu. Sesampainya di rumahnya Ilmi, semua sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Ibunya pun menyambut saya dengan hangat, seperti anak sendiri. Hiks, jadi makin terharu.

Entah bagaimana nanti saat pembukaan pameran. 

bersambung ...

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v
Share on Google Plus

About Anisa Ae

14 komentar:

  1. sampai di daerah mana skrg, mba? semoga selalu sehat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Sidoarjo. Nginep di tempatnya Dien Ilmi, Oksana.

      Delete
  2. ya ampun perjuangan kamu... trus gimana kondisinya skrg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah mendingan, Mbak :)

      Delete
  3. Oalah kok soro tho yo perjuangan buat ikut event blogger, kalo aku pernah mabuk 3 kali di mobil pas ke gresik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo, melas men. Salah adoh, gak iso nang lokasi :(

      Delete
  4. Wah sungguh perjalanan yg menyiksa bun, dan Alhamdulillah masih banyak ternyata yang namanya orang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, menyiksa. Tapi banyak sekali hikmah yang bisa diambil. :)

      Delete
  5. waduh berat banget perjalanannya :(

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.