Tentang Cincin Bermata Merah


Anisa AE - "Bunda cincinnya baru?" tanya Asma padaku saat melihat sebuah cincin melingkar manis di jari manisku.

"Enggak, Sayang. Cincin lama kok, tapi gak pernah Bunda pakai." 

"Kenpa sekarang dipakai?" tanyanya dengan mata penuh tanda tanya.

Aku terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, "Karena cincinnya mau dijual. Jadi, Bunda pingin pakai cincin ini lebih dulu!"

Jawaban yang simpel dan membuat kerongkonganku hampir tercekik. 

***

Ini adalah cincin pertama dalam hidup saya, terbeli hampir setahun yang lalu. Itu pun belinya dengan uang yang sangat susah payah saya sisipkan dari recehan. Jangan tanya soal cincin nikah, karena ini benar-benar cincin pertama. Well, saya menikah tanpa mahar cincin kawin.

Beberapa hari ini memang sedikit menguras dompet. Apalagi banyak tanggungan yang harus saya bayarkan tiap bulan, sementara cuaca panas membuat kripik singkong yang dijual suami tidak terlalu laku.

Dulu ketika dalam masa seperti ini, saya selalu berpikir untuk bekerja lebih giat lagi. Tapi itu dulu, sebelum hamil anak yang kedua dan sangat menguras tenaga. Capek atau lelah sedikit bisa membuat tubuh saya ngedrop kepanjangan.

Sebenarnya saya tak ada niat untuk menjual cincin ini, tapi karena banyak biaya yang harus dibayar, mau tak mau saya harus merelakan untuk dijual. Capek juga menagih ke beberapa pelanggan buku yang uangnya menunggak. Mereka yang berhutang, tapi saya yang menagih terus. Apalagi total jumlahnya juga lumayan, 4x dari harga cincin ini.

Suami sempat menanyakan apa saya yakin mau menjual cincin? 
Tak ada yang lebih utama selain tidak zalim kepada orang lain. Memberikan hak-hak orang lain terlebih dahulu, walaupun banyak kewajiban orang lain yang tidak terpenuhi kepada saya. Karena saya pernah merasakan bagaimana dizalimi, diberi janji-janji yang tak pernah ada bukti. Cukup kenyang dengan janji, saya tak mau mengingkari janji seperti yang orang lain lakukan.

Toh saya selalu yakin bahwa rezeki yang diberikan Allah itu tak akan pernah berhenti. Selama saya mau berusaha, tidak zalim kepada orang lain, tidak memasukkan barang haram dalam harta kami, juga selalu bisa mengatur keuangan dalam hidup. Walau melakukan itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Semoga nanti saya bisa makin istiqomah. Pingin fokus pada keluarga dan anak.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v
Share on Google Plus

About Anisa Ae

10 komentar:

  1. Cukup dilematis, mbak. Cincin yang dibeli dengan susah payah. Namun di sisi lain mendesak untuk dijual. Sedih memang...Tapi kalau pun dijual, kan untuk kepentingan keluarga juga, mbak...

    ReplyDelete
  2. Nggapapa mbak dijual :' untuk keluarga juga kan mbak :")

    ReplyDelete
  3. Semoga cincin bermata merah terganti dengan yang lebih baik ya mba..

    ReplyDelete
  4. Semoga mendapat ganti rejeki yang lebih berlimpah ya mbak, aamiin :)

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.