Latest News

Saturday, 26 December 2015

Lebih Super dari Wonder Women

Selamat Hari Ibu

Anisa AE - Hari ini saya mengikuti pertemuan keluarga. Tepatnya reuni keluarga dari ayah tiap 2x dalam setahun. Saat Maulud Nabi dan Idul Fitri. Sebenarnya sangat enggan datang ke acara dari keluarga ayah. Sungguh, ingin rasanya menghilang tiap acara ini datang.

Tapi saya tak pernah tega meninggalkan Ibu berangkat naik angkutan umum sendirian. Betapa durhakanya, sementara banyak waktu yang beliau beri buat saya, tapi beberapa jam saja tak saya berikan. Lantas, apa alasan keengganan saya?

Tak pernah tega ketika Ibu -sebagai keluarga tertua kedua yang masih hidup- tak dihargai selayaknya orang tua. Padahal Ibu selalu berusaha berangkat pagi sekali sebelum acara dimulai. Bahkan masih menyempatkan diri pergi ke pasar, membawa oleh-oleh untuk tuan rumah. Tiap ke acara ini, saya selalu memperhatikan jam dinding yang terlihat berjalan lebih lambat. Kapan acara akan selesai?






Ibu, yang kulitnya sudah mulai keriput.
Ibu yang hanya menjadi istri kedua ayah.
Ibu yang berasal dari keluarga biasa.
Ibu yang tak punya titel hajah di depan namanya.

Beda sekali dengan hajah yang dalam silsilah keluarga, masih lebih muda dari Ibu. Lebih kaya dan lebih segalanya dari Ibu yang sederhana. Baru datang saja sudah banyak yang menyambutnya.






Tak jarang Ibu malah mencium punggung tangan para keponakannya, bukan malah sebaliknya. Ibu tak pernah gila akan kehormatan, tak mengeluh ataupun membicarakan orang lain di belakangnya. Bahkan Ibu selalu bisa mengambil sisi positif atas apa pun yang telah terjadi pada kami-anaknya.

Ibu selalu bahagia bertemu dengan saudara-saudaranya, padahal dengan jelas saya tak suka. Sayangnya Ibu tak pernah merasakan hal seperti itu. Pernah saya tanyakan pada Ibu, jawabannya simple, karena Ibu bukan siapa-siapa. Masih untung dipinang oleh ayah yang saat itu berstatus duda.






Keihlasan Ibu memang tiada batas. Bahkan hanya bersabar ketika rumah kontrakan dirobohkan oleh orang yang mengaku mendapat amanat dari Ayah untuk memberi jalan ke mushola. Jika memang itu benar, harusnya dirobohkan sendiri oleh Ayah sebelum wafat. Bukan malah menyuruh orang lain bertahun-tahun kemudian setelah saya menikah dan punya anak.

Ibu hanya bisa menangis ketika rumah peninggalan Ayah diminta oleh keponakan dari pihak istri pertama Ayah. Bahkan ancaman demi ancaman diterima ibu dengan diam, tak pernah diceritakan kepada anak-anaknya.






Sampai suatu hari saya tahu dengan mata kepala sendiri. Jelas saya yang pertama kali maju untuk membela Ibu. Entah, ketika marah, saya bisa berkata apa saja yang tak pernah dikatakan pada orang lain. Bahkan pernah pipi saya menjadi korban keganasan. Mungkin karena di rumah saat itu hanya ada saya, ibu, dan Asma. Suami dan adik di luar kota, sementara kakak di rumah suaminya.

Kisah lain ketika Ibu harus menutup mata dan telinganya dari tetangga karena ulah saya. Dulu sayalah anak yang paling susah diatur. Mungkin karena sering diajar dengan kekerasan oleh Ayah, saya jadi pembangkang. Apalagi bully demi bully selalu saya terima saat di sekolah karena selalu kudet dan tak bisa ikut mode seperti teman yang lain.






Ibu hampir tak pernah marah, selalu mengucapkan astagfirullah tiap kali melihat kesalahan anak-anaknya. Bahkan sering kali mendiamkan kami selama berhari-hari. Hanya diam, tak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan sampai saat ini, Ibu selalu membantu saya untuk mengasuh si kecil.

Ibu adalah super mom yang lebih super dari wonder women. Ketika ditinggalkan Ayah 10 tahun lalu, ibulah yang selalu mengusahakan semuanya untuk kami. Mulai dari biaya sekolah dan tetek bengek lainnya. Saya pun harus rela hanya mengenyam bangku MA satu tahun saja karena tak ada biaya. Masih ada adik yang  saat itu masih SD dan nanti akan meneruskan cita-cita keluarga.






Banyak kata yang tak bisa saya ungkap pada Ibu. Mengucapkan selamat hari ibu atau love you mom pun tak pernah saya lakukan. Malu, selalu. Bahkan bisa jadi sebelum kalimat itu terucap, air mata yang membanjir. Namun, Ibu tetaplah Ibu yang menginspirasi.

Ah, Ibu pun tak butuh ucapan cinta. Kebahagiaan saya adalah kebahagiaannya pula. Akan saya tunjukkan jika mampu membuatnya tersenyum walau hanya dengan ijazah SMP. Membuatnya bangga telah mengandung dan melahirkan saya ke dunia.

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari. ^^v

44 comments:

  1. Aneh sekali kalau ibunda sampai mencium punggung tangan keponakan ya mbak..

    Semoga ibunda mbak Anisa selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT dan in shaa Allah juga mendapatkan surgaNya kelak..aamiin.. :)

    ReplyDelete
  2. Ibu adalah sosok unik dengan karakteristik masing-masing :)

    ReplyDelete
  3. Di manapun, ibu selalu memaafkan anaknya meski dalam diam. Ibu Nisa sosok yang luar biasa sabar ya, semoga Ibu diberi usia yang berkah, Aamiin.

    ReplyDelete
  4. Luar biasa perjuangan seorang ibu ya..

    ReplyDelete
  5. aku juga sayang ibu aku mba. hebat banget ya perjuangan ibu mba, semoga selalu diberikan kesehatan :)

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, merinding saya membacanya, Mbak Nisa. Nyaris keluar air mata saya. Sabar sekali ibundamu, Mbak. Semoga semua keikhlasan beliau beroleh keindahan surga kelak .....

    ReplyDelete
  7. Mba Anisa ibunya super tangguh melebihi apapun, semoga ibunya mba diberi kesehatan dan kesabaran ya mba inshallah semua indah pada waktunya ... Allah SWT tidak tidur dan hanya Dialah sang maha mengetahui dan menilai seperti apa hambanya ... aniwei Happy belated mom days buat ibunya Mba :)

    ReplyDelete
  8. Ibunya tangguh sekali Anisa... Semoga beliau dikaruniai kesehatan selalu ya...

    ReplyDelete
  9. ibu juga gak pernah bilang lelah, padahal sudah capek, tapi masih aja mengurusi anak-anaknya

    ReplyDelete
  10. ahhh membaca postingan ibu sellu nikin melooow..

    ReplyDelete
  11. Kesabaran ibu Mbak Anisa luar biasa (y)

    ReplyDelete
  12. Semoga ibunda selalu sehat ya, Mba :)

    ReplyDelete
  13. Ibunya bener-bener jadi malaikat tak bersayap. Salam buat ibunya ya mbak, semoga beliau sehat selalu :)

    ReplyDelete
  14. Smoga ibunya sehat dan bahagia selalu

    ReplyDelete
  15. Mbak aku sedih bacanya :(
    Semoga ibu selalu diberi kesehatan, dilimpahkan rezeki dan kebahagiaan ya mbak

    ReplyDelete
  16. salam buat ibunya mbak, perempuan hebat

    ReplyDelete
  17. luar biasa mbak, sangat menginspirasi :) semoga sehat selalu ya ibu

    ReplyDelete
  18. Masyaallah mbak...salam hormat saya untuk ibu...btw selamat ya mbaak...

    ReplyDelete
  19. keikhlasan Ibu adalah kekuatannya mba...salam hormat untuk beliau :)

    ReplyDelete
  20. Salut dengan ibundanya, mba. Semoga dibalas pahala ya mba. Amin

    ReplyDelete
  21. Salut dengan Ibu mba, semoga pahala ibu selalu dilipat gandakan oleh Allah SWT

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.

Google+ Followers

Pengikut