Rahasia di Balik Pintu Kamar Tidur


Anisa AE - Kali ini saya akan bercerita tentang rahasia apa di balik kamar tidur. Sebenarnya bukan rahasia yang 'istimewa', namun sangat berarti dalam kehidupan saya.

Sekarang, bayangkan seperti apa kamar saya. Ukuran 3x3 meter persegi dengan warna cat dinding putih yang mulai kusam. Sudah lebih dari empat tahun tidak dicat ulang. Ada satu tempat tidur ukuran 100x160 yang dikelilingi oleh kelambu tempat tidur warna merah muda yang sudah lobang sana-sini. Jangan tanya kasurnya, bukan kasur busa, hanya kasur yang isinya kapuk dengan biji hitamnya. Kasur itu saya buat dengan tangan sendiri, lima tahun yang lalu.






Ada kardus besar di pojok kamar yang berisi kertas dan benda-benda yang saya anggap penting. Di kolong tempat tidur ada dua kardus kecil berisi kabel dan mainan usang, dua bak mandi bayi yang isinya sandal bekas dan tidak terpakai. Kenapa tidak dibuang? Sayang, begitu kata suami dan ibu.

Ada apalagi di dalam kamar saya? Tambahan dua susun rak sandal dari plastik yang di dalamnya berisi sandal-sandal tak terpakai. Mau dibuang juga sayang.

Lainnya tidak ada lagi.

Jangan tanya almari, karena 3 almari baju berada di ruang tengah, bersama 3 rak buku yang pastinya akan sangat aman di sana. Meja rias? Saya tak punya. Hanya ada dua meja kecil di ruang tamu, beserta satu rak buku besar.

Okey, kembali ke dalam kamar.

Di kamar sering terdengar suara yang menurut sebagian orang aneh, tapi bukan saya. Suara rayap yang mulai mendirikan rumah di dinding kamar, merayap ke kolong tempat tidur. Dulu sempat saya letakkan almari baju di dalam kamar, hasilnya, separuh lemari dan isinya sudah dikuasai oleh rayap dan anak buahnya.






Suara lain yang sering membuat merinding adalah tikus yang berlari-lari di atas asbes. Takut jika sewaktu-waktu asbes tidak kuat menampung, tikus dan gerombolannya jatuh tepat di atas saya ketika tidur, lalu tanpa sadar mulai menggerogoti jari kaki dan tubuh saya.

Jangan bayangkan saya menulis dan membaca buku di kamar. Tidak pernah, lebih dari 8 tahun. Bukan karena apa, tapi karena kamar saya tidak berjendela, hanya ada ventilasi kecil 2x3 cm yang membuat udara bisa sedikit masuk. Aneh? Tidak. Dulu, Abah membuat kamar kos pas di samping kamar induk. Alhasil, dua kamar di dalam rumah tidak berjendela ataupun berventilasi.






Jangan tanya bagaimana udara dan hawanya. Tentu sangat dingin, gerah, dan panas. Jadi kalian tidak usah heran kenapa di kamar saya selalu banyak rayap. Bagaimana dengan lampu? Lampu pasti ada, tapi cahayanya terhalang oleh kelambu. Tempat lampu sudah diatur sedemikian rupa untuk menerangi dua kamar. Soal kebersihan kamar, lagi-lagi kalian akan memberi nilai 3, bahkan nol.

Kalian akan melihat banyak sekali sarang laba-laba yang menggantung di atas kelambu. Hanya di atas kelambu. Kenapa? Karena saya tak sanggup membersihkannya, harus melepas kelambu yang ditali paten di dinding dan memasangnya kembali, apalagi posisinya sangat tinggi. Tiap kali menyuruh suami, dia pun tak sudi karena itu pekerjaan istri.

Sudah delapan tahun lebih tidak menikmati terpaan angin hujan di jendela kamar, apalagi menghirup udara segar di dalamnya dengan sinar matahari yang menghangatkan. Membaca buku dan melakukan banyak hal. Di sana hanya menjadi tempat tidur, bukan untuk tempat menyimpan rahasia dan berbagi kisah dengan keluarga.






Sepertinya otak pun mulai gerah. Pemikiran sempit dan tak bisa berubah. Ide mampet untuk menghasilkan karya, bermusik pun tak pernah. Sepertinya ada yang perlu diubah untuk kamar itu. Tapi apa hak saya? Suara sebagai penghuni rumah seperti tak pernah ada. Mau apa-apa, harus ada rapat keluarga besar. Padahal yang menghuni rumah hanya empat, lainnya berada di rumah masing-masing.

Pernah mengusulkan untuk mempunyai rumah sendiri, tapi uang dari mana? Untuk makan saja masih susah. Kos dan kontrak di tempat lain pun akan jadi gunjingan tetangga. Akhirnya lagi-lagi saya harus mengalah. Berdoa semoga ada rahasia di balik pintu kamar lain yang lebih indah. Walaupun kadang iri pun meraja.

#BelajarNulis

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari. ^^v


Share on Google Plus

About Anisa Ae

5 komentar:

  1. Wah, memang ruangan yang pengap bikin mood jadi kurang baik, dulu saat masih kost kamarnya juga punya hawa yang sama kayak punya mba Anis, bedanya tempatku ada jendelanya sih cuma gak langsung menghadap sinar matahari apalagi dekat kamar mandi jadinya ya pengap ya lembab. Semoga keinginan tuk punya rumah sendiri segera terwujud, mba. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju. Semoga terkabul ya keinginan untuk bisa punya rumah sendiri... Amin.

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.