Pantas Disebut Ibu atau Karyawan?


Anisa AE - Beberapa hari ini sedang booming dengan status Ustaz Felix tentang seorang ibu yang bekerja 8 jam di kantor dan 3 jam di rumah bersama anak. Lantas, disebut ibu atau karyawan?

Banyak sekali pro dan kontra di dalamnya. Apalagi banyak pula yang menulis bahwa wanita harus kembali ke fitrahnya menjadi seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya. Well, mungkin itu benar, tapi bisa juga salah.

Beberapa teman FB yang jelas memojokkan para ibu pekerja membuat saya sangat geram. Mereka menulis bahwa wanita itu wajib di rumah, mendidik anak dengan baik. Jangan sampai si anak tersebut dididik oleh lingkungan yang tidak baik, sampai-sampai menghancurkan moral mereka. Bahkan ada seorang ustadzah yang juga menyuruh para wanita untuk mendidik anak-anak dan keluarganya dengan baik mulai pagi sampai malam.






Pertanyaannya, di mana peran ayah? Apa peran seorang lelaki hanya kerja di kantor, tanpa perlu mendidik anak-anaknya? Begitukah?

Sungguh dalam hal ini saya sangat tidak sependapat. Haruskah status ibu berubah menjadi karyawan hanya karena ibu tersebut bekerja selama 8 jam di kantor? Apa tidak ada panggilan ibu setelah 9 BULAN mengandung anaknya dan berjuang dengan maut untuk melahirkan?

APA PERJUANGAN ITU TAK DIANGGAP KARENA IBU TERSEBUT BEKERJA DI KANTOR SELAMA 8 JAM?

Dalam hidup ini ada 24 jam. 8 jam di kantor bukan berarti hanya 3 jam untuk anak. Masih ada 16 jam tersisa yang dilakukan di rumah bersama keluarga, BUKAN 3 JAM.






Jika sang ibu menggunakan 7 jamnya untuk tidur dan me time, masih ada 9 jam tersisa. 9 jam adalah waktu yang sangat lama.

Misalnya tidur jam 10 malam, bangun jam 4. Mempersiapkan segala tetek bengek keluarga di pagi hari sampai berangkat kerja jam 7 pagi. Jam 3 sore sudah ada di rumah lagi dan menggunakan waktu bersama keluarga sampai jam 10 malam lagi. Apa masih tak pantas dipanggil ibu?

Well, saya bukan seorang ibu pekerja. Waktu saya 20 jam bersama anak, 4 jam free karena anak saya sekolah. Untuk kerja, saya di rumah, di depan laptop saat dia sekolah dan tidur. Lantas kenapa saya harus tersinggung pada semua status yang memojokkan wanita-wanita tersebut?






KARENA SAYA JUGA WANITA. Simple.

Sebagai wanita, tak ada yang ingin bekerja di kantor. Sungguh, semuanya ingin bekerja di rumah, menemani anak mereka yang tumbuh dengan pesat. Namun para wanita tersebut bekerja untuk membantu suami yang belum cukup memenuhi kebutuhan. Itu dibuktikan dengan banyaknya wanita yang berjualan secara online.

Lihatlah harga yang semuanya mulai naik. Bahan pokok seperti beras, minyak, dan lainnya. Belum lagi biaya sekolah, pengeluaran bulanan mulai dari bayar listrik, air, BPJS, sampai pada biaya tak terduga lainnya. Belum lagi biaya makan untuk lauk, beli beras, dan tetek bengek rumah lainnya. Itu tidak hanya bisa dengan satu juga per bulan.






BAGAIMANA DENGAN JANDA?

Tak terhitung berapa jumlah janda di sini. Apa mereka dibiayai negara? TIDAK! Mereka mencari uang sendiri sebagai karyawan dengan tetap membimbing anak-anak mereka. Bahkan ada yang dengan sangat berat hati meninggalkan rumah untuk bekerja ke luar negeri dengan tujuan bisa memperbaiki taraf hidup mereka. Apa ada yang peduli dengan hidup mereka?


APA ADA?

Yang iya, janda selalu dijadikan bahan fitnah. Memangnya siapa yang mau jadi janda? Siapa yang mau jadi anak yatim? TIDAK ADA! Lantas apakah sang ibu harus di rumah saja membimbing anaknya, tanpa harus memberi makan dan kebutuhan mereka?






Jujur saja, saya pun ingin makan di restoran seperti teman-teman. Beli baju yang nyaman dipakai dengan bahan tebal. Pakai make up dan juga perhiasan. Jalan-jalan ke banyak tempat bersama keluarga. Tapi apa? Saya harus menelan keinginan itu untuk hal lebih penting karena BUKAN IBU PEKERJA KANTORAN.

Coba lihat, tak sedikit wanita kantoran dan janda yang ternyata BISA MENDIDIK ANAK-ANAKNYA dengan baik. Bukan seperti yang dikatakan bahwa anak-anak mereka tak terdidik. Tiap perbuatan itu ada asal muasalnya. Jangan tiap kesalahan anak yang disalahkan adalah ibunya.

WOI! MANA PERAN AYAH? AYAH SELALU BENAR?
Seandainya janda, anak terlantar, dan anak yatim dipelihara negara. Seandainya kita memandangnya dari sudut yang berbeda, hal ini tidak akan terjadi.






Okelah misalnya tahu bahwa ada seorang anak TK yang mengucapkan kata-kata jorok. Kita marah padanya dengan mengatakan bahwa ibunya tak pernah mendidik, padahal kenal pada anak tersebut pun tidak. Kenapa lagi-lagi ibunya? Kenapa bukan ayahnya?

Coba cari tahu apa yang terjadi! Jangan cuma bisa mencela!
Apa anak itu masih punya ayah dan ibu?
Apa ibunya hidup sendirian?
Apa ayahnya tak pernah berucap kasar padanya?
Apa hidupnya 60% tak dididik oleh ibunya?
Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih pantas dipikirkan, daripada menghina ibu dari sang anak.

Lalu lihat keluargamu sendiri. Sudahkah sesuai dengan apa yang kau inginkan? Jangan-jangan itu yang terjadi pada anakmu di luar sana, tanpa sepengetahuanmu. Berkacalah sebelum melihat apa yang terjadi pada orang lain.






Okelah, mungkin para pembuat status yang menyuruh para wanita kembali ke kodratnya itu masih berada di atas. Masih punya penghasilan tetap sehingga sang istri hanya di rumah menjadi sekretaris. Tapi kita tak akan tahu bagaimana kehidupan yang akan datang. Jangan sampai malah menjilat ludah sendiri karena roda itu pasti berputar.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v

Share on Google Plus

About Anisa Ae

54 komentar:

  1. Aku setuju sama mbak yang bilang mereka itu yang meminta wanita kembali ke kodratnya masih berada di posisi atas. Mereka ga tau gemana rasanya hidup di bawah.
    Jadi keinget sama teman yang MBA. Baru 2 tahunan nikah udah pisah sama suaminya. Sekarang dia hidup berdua sama anaknya yang masih kecil. Temanku ini mau ga mau kerja buat biaya hidup karena mantan suami ga bisa diandalkan lagi. Keluarga? Bisa dibilang hubungan dengan keluarga sudah ga baik sejak insiden MBA. Apa dengan bekerja mati-matian begini karena keadaan dia ga pantas disebut ibu? Ga mikir memang deh yang bikin status

    yaelah malah curhat. Maap mbak kebawa suasana :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuuh ikutan sedih. :( Semoga temenmu bisa hidup dengan lebih baik.

      Gpp kok namanya juga sharing. :D

      Delete
  2. yup, wanita bekerja juga bukan hanya melulu soal uang tapi untuk mengembangkan diri . Semua pilihan dan tgt pribadi. Aku bekerja tapi anak-anak semua keurus bahkan mereka dari kecil sudah mandiri. Btw, ini pemikiran aku ya, waniat itu juga harus bekerja. Aku punya teman sarjana dan tidak bekerja. Saat suaminya meninggal , dia kebingungan , mau melamar kerja usianya sudah 40an, kan susah cari kerja juga. Mungkin bisa untuk berjaga-jaga ya

    ReplyDelete
  3. Saya juga seorang ibu yang bekerja mbak Anisa, tentu karena untuk membantu perekonomian keluarga juga. Dan saya berusaha menjaga komunikasi dengan anak meskipun pada jam kerja misal dengan BBM-an.

    Memang sih pertemuan dengan anak sangat terbatas waktunya tetapi tetap berusaha menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Terutama hari Minggu dan hari libur dimaksimalkan untuk lebih dekat dengan keluarga terutama anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Anjar. Setuju banget, saya juga membiasakan komunikasi dengan anak

      Delete
  4. hihihi.... nggak usah ikut emosi mbak e.
    Tiap orang hidup dengan pilihannya masing-masing.
    Selayaknya sih pak "ustadz" kasih contoh, mari saling menghargai pilihan hidup orang, jangan menghakimi kalau tak tau kebenarannya... dst.
    Eh tapi, tapi... malah buat tweet yang membuat para wanita meradang hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, aku pingin gigit bantal jadinya.

      Delete
  5. Hehehe...
    tenang mba tenang ^^
    biarkan fakta yang berbicara, toh banyak anak2 yang ga karu2ankelakuannya & ternyata ditelusuri kesemuanya bukan anak dari ibu yang bekerja kantoran. Maaf, bukan maksud saya menjelekkan ibu yang tidak bekerja kantoran.

    Maafkan saja para 'manusia' yang berkoar2 seperti itu :)
    didoakan agar lebih bijak dalam berkata-kata apalagi sbg public figure

    ReplyDelete
  6. Saya sih nanggepinnya simpel aja mbak, gak dibawa pikiran, menurut saya apa yang ditulis ust felix itu bener karena sesuai banget sama yang dianjurin Rasulullah. Tapi itu hukum awalnya, gak mutlak semua perempuan harus begitu. Intinya kalau bisa ya syukur, kagak bisa ya itu urusan kita dewe dengan Allah. Hal kayak gini sih gak bisa dihakimi di dunia. Yang pilih bekerja pasti punya alasan kan, so tinggal kasih tahu aja kalau nanti ditanya Allah kenapa kita pilih menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Hihi

    ReplyDelete
  7. terpulang dari konteks sudut pandangnya kalo menurut saya, bukannya peran bisa dibicarakan ya kan mbak :)

    ReplyDelete
  8. aku bekerja dan aku ibu
    aku pegawai dan aku ibu
    apapu profesiku krn mrk bertiga lahir dari rahimku..
    maka aku adalah ibu..
    karyawan? pegawai? nanti juga pensiun..klo jd ibu memang bs pensiun

    ReplyDelete
  9. terkadang paradoks itu emang nyata. beberapa ibu kantoran justru malah bisa mendidik anaknya lebih baik daripada ibu rumah tangga..

    ReplyDelete
  10. Apakah sesempit itu agama kita?
    Penyebab wanita jadi wanita kantoran itu banyak sekali dan bukan karena tidak ingin tinggal di rumah dan menjadi IBU yang bisa FULL TIME menemani anak...

    Lingkungan dan faktor ekonomi lah yang kadang menjadi penyebab banyak wanita harus bekerja dan menjadikan mereka IBU IBU yang KARYAWAN. Lantas apakah dengan semudah itu IBU lepas dari seorang wanita karena jadi karyawan?

    Kalau mau dikritik tuh gimana caranya kalau memang IBU IBU harus jadi FULL TIME IBU maka peliharalah mereka terutama yang JANDA yang serba kekurangan, yang buat makan aja susah...

    ReplyDelete
  11. Harapanya kalau udah punya istri biar dirumah aja biar full ngurusin buah hati :D

    Setelah baca baca postingan + komen dari temen temen banyak perbedaan pendapat ya. hihihi..
    ane gak ikut ikutan mah,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga kamu bisa menjalani itu. ^^

      Delete
  12. Maaakkk... Ampun mau baca postingan malah banyak iklan nya.. Huebatt!! Tapi jadi gengges di taro banyak banyak di dalam postingan gini. Otomatis ya? Btw kalau menurut aku, ibu tetaplah ibu. Mau itu ibu yang di rumah aja, gak kerja, kerja kantoran, or malah ibu durhaka tetaplah seorang ibu hehehe.. Karyawan ya karyawan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, itu namanya adsense mbak. :D

      Makasih udah mampir

      Delete
  13. Aku juga nggak setuju, ibu yang bekerja tetaplah seorang ibu karena peran ibu itu nggak akan bisa tergantikan.

    ReplyDelete
  14. Kadang klo perempuan masuk ke dunia publik, tujuannya juga bukan cuma materi ya mbak...aplikasi ilmu. Rugi kan beljar..misalnya farmasi, kedokteran,atau elektro...tp endingnya dirumah...beres2, setrika,momong...gitu kan jd ilmunya menguap.

    Klo menurut saya, yang penting balance. Nah..itu tantangannya, selama bisa seimbang, rumah beres, anak terpantau, kerjaan lancar...jempol bgt.

    Eh..aku ibu rumah tangga lho mbak. Tl dulu ngantor juga. Tp kerjaanku susah sekali bisa balancenya..ada yang keteter krn rumah jauh dr kntr. Harus memilih pada akhirnya...

    Dan saat kerja ataupun dirumah...ya tetap ibu

    Saat anak sakit...siapa yang rela bolos kerja. Ibu
    Yang pontang-panting nyarri maem krn nggak sempat masak. Ibu2 juga kan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, padahal ibu itu segalanya lho. Enak banget yang nulis gitu.

      Delete
  15. Kewajiban dan hak ibu tidak akan hilang ganya karena bekerja.

    Permasalahan ibu dirumah seringkali trjadi deviasi mothering. Dimana i u dirumah tapi abai dgn keadaan rumah termasuk anak.

    Meski banyak kritik ditujukan ke pas ustad, dia tak bergeming.
    Mmg kebenaran yg disampaikan tapi caranya tdk baik jadi mental mentul kesana kemari efeknya.

    Saya bekerja tapi ya yg bisa merasakan kebahagiannya klg kami. bkn pak ustad yg ribuan kilo disana.

    ReplyDelete
  16. Masih jadi perdebatan juga ya. Jadi sedih. Seharusnya kita perempuan bisa saling menguatkan bukan melemahkan. Kalo ada yang perlu dikritik, mbok ya jangan menghujat karena kita tidak pernah tahu mengapa seseorang memutuskan sesuatu -_-

    Jalan yg diambil seseorang, bekerja di mana dia, tentunya berhubungan dengan kenyamanannya. Kalau dia nyaman, hubungan dengan anak jadi baik. Ada sahabat saya, ibunya pegawai instansi pemerintah tapi tidak pernah alpa memperhatikan anak2nya. Dan ibunya bisa, koq.

    Ada juga ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar tapi anak2nya kena cobaan. Jadi bukan jaminan juga sih, bekerja atau tidak. Tergantung bagaimana setiap ibu memperlakukan anak2nya.

    Ah, jadi sedih deh -_-

    ReplyDelete
  17. Perdebatan antara worker mom sama full mom ini udah sering banget ada. Kalau saya menanggapinya dengan biasa aja. Ibu bekerja pasti punya alasan untuk kerja, begitu juga seorang ibu yang mungkin sarjana tapi memilih untuk jadi full mom, pasti juga punya alasan. Bekerja pun jika suami memang sudah mengizinkan kan tidak ada dosa juga. Keduanya memang pilihan yang kadang bikin dilema. Pengen dirumah aja tapi kebutuhan makin banyak, jadilah si ibu memilih bekerja.

    Semoga yang masih memperdebatkan antara worker mom dan full mom, bisa tercerahkan dengan postingan mba Anisa ini.

    ReplyDelete
  18. Menurut saya, full mom atau mom worker adalah pilihan, namun anak membutuhkan peran ibunya diantara kondisi keduanya. Sebisa mungkin kualitas waktu bersama anaklah yang jadi prioritas.

    ReplyDelete
  19. Saya sudah merasakan keduanya mba, dan sekarang menjadi Ibu yang tetap saja bekerja di rumah, biarpun tifak fulltime di kantor. Tetap saja saya pun banyak yang memojokkan di lingkungan. Tak apalah, karena semua butuh pilihan ya.

    ReplyDelete
  20. aku nangis baca tulisan ini mba..hikshiks.
    Gak ada secuil niatpun jadi Ibu yang "jahat" dengan kembali bekerja :'(

    ReplyDelete
  21. Indonesia tanah kusewa air kubeli ya mbak hehe....

    ReplyDelete
  22. Saya adalah seorang ibu dan saya juga karyawan, namun saya tetap pantas disebut seorang ibu, bangun subuh menyiapkan sarapan dan bekal anak, mengantarkan anak sekolah, pulang kerja sayapun meski masih lelah masih sempat memandikan anak sore dan menyuapinya, mengaji dan belajar bersama, tidak pantaskah saya disebut ibu? ah memang orang hanya bisa menjudge saja. Oiya satu lagi meski saya bekerja, setiap ada pertemuan orang tua di sekolah saya selalu hadir, tidak cukupkah saya disebut ibu? Terimakasih tulisannya mbak, :) dan baca tulisan ini saya sambil menangis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar mbak sayyy. Allah bersama kita

      Delete
  23. Biasalah, orang seharusnya nyari tahu kenapa wanita itu sampai bekerja dan terpaksa hanya punya sedikit waktu dengan anaknya? Dan benar, sekarang peran ayah juga penting. Intinya kedua orangtua perannya besar banget buat anak. Dan wanita itu juga tidak bisa disalahkan dong kalau mau bekerja juga untuk kebanggaan dirinya... Bisa memberikan hadiah untuk anak dari uang hasil kerja sendiri.
    Sama gak ngertinya juga kenapa orang harus komen seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah Mbak. Aku sendiri juga bingung

      Delete
  24. Kalau mau adil alangkah baiknya bila para pemuka agama juga menyeimbangkan porsi nasehat kpd para ayah juga ya. Seperti apa pemicu para wanita jd bekerja? Apakah karena suaminya banyak yang abai tgjwb sehingga kebutuhan makan sehari saja tdk bisa? Atau karena istri yang memang tdk puas dg rejeki yg ada..Bila sampai istri bekerja lalu kenapa2 suami2 ini yg plg berat diminta pertanggung jawabannya. Sudah pernah melihat suami2 yg menyesal ini, ketika akhirnya anak2nya jd tidak beribu..sedih sekali.

    Isu yg lebih penting sih karena di jaman internet ini banyak orang sdh rusak otak krn pornografi...bahkan org terdekat sendiri bisa tega menyodomi anak. Kalau sudah bolong anusnya apakah dapat dikembalikan seperti semula waktu2 yg hilang itu...kita2 yg seharusnya bisa menjaga dan waspada akan gelagat lain anak. Kita jaga saja terkadang masih terasa belum aman..

    Kalau single moms mereka memang harus survive, sebenarnya masuk pengecualian, jadi harus dibedakan kasusnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal seperti itu Mbak. :)

      Delete
  25. Suka dan sepakat banget dengan seluruh uraianmu, Mba Nisa! Keren banget ini tulisannya! Apa kabar, Mba Nisa? Semoga sehat selalu yaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Al. ^^

      Alhamdulillah baik, mau fokus ke kesehatan.

      Delete
  26. Misi mbak ane mau tanya nih,,
    Klu bikin akte kelahiran itu brapa biaya nya skarang ini,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk di wilayah kab Malang, masih gratis :)

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.