Tentang Saya dan Luka


Anisa AE - Katanya, tak ada yang lebih menyenangkan selain menceritakan diri sendiri. Menulis biografi diri karena lebih tahu bagaimana kisah kehidupan yang sebenarnya. Tapi itu katanya.
Beda dengan saya yang harus menguak luka lama. Terlalu banyak luka yang tak bisa diceritakan pada orang lain. Lebih menderita daripada kisah difitnah, hampir dibunuh paman, dan putus sekolah saat SMA. Antara pilihan tetap hidup atau harus bunuh diri.


Seperti apa sih lukanya? Penasaran? Sebaiknya jangan karena yang saya ceritakan akan terlalu banyak satirnya. Hal-hal biasa dalam hidup saya, bukan hal luar biasa tentang dalamnya luka yang tak bisa diraba.

Saya anak kedua dari 3 bersaudara. Lebih tepatnya yang tengah. Kakak saya umurnya 2 tahun lebih tua, adik saya lebih muda 5 tahun. Saat memiliki anak, Abah sudah berumur lebih dari 50 tahun, lebih pantas saya panggil kakek. Abah wafat di umurnya yang ke-73, saat saya berumur 16 tahun.

Bayangkan betapa kolotnya Abah.






Kenapa saya panggil Abah? Well, ada pondok pesantren di belakang rumah. Abahlah kyai di sana. Lebih tepatnya, saya anak kyai yang punya pondok pesantren. Dulu, Abah membangun pesantren tersebut dengan istri pertamanya. Sayangnya mereka tidak punya keturunan sampai istrinya wafat. Lalu menikah lagi dengan ibu saya yang saat itu juga janda di usia senja.

Saat kecil, saya sangat aktif. Sayangnya dilahirkan sebagai perempuan mengharuskan untuk selalu menjaga diri. Tak bisa nyani ataupun menari di acara tertentu, katanya biar kelihatan sopan. Tak boleh main air hujan, harus membantu ibu di dapur, dan lainnya. Kalau soal panjat pohon dan sikap lelaki lainnya, saya yang paling jago. Apalagi Abah memang ingin anak lelaki setelah anak pertamanya perempuan. Namun sikap lelaki itu hanya boleh terlihat jika di dalam rumah saja.


Tak ada PAUD, langsung TK. Saya bersekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal, tempat anak saya menuntut ilmu saat ini. TK yang tahun ini merayakan milad ke-44 tahun. Umurnya sudah terbilang sangat tua.


Sejak TK nol kecil, saya sudah berangkat dan pulang sekolah sendirian, karena adik saya sudah lahir. Di TK itulah saya pertama kali merasakan menjadi juara lomba menggambar tingkat kabupaten. Dari ratusan peserta, saya meraih juara pertama. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Sayangnya piala dan piagam sudah hilang, maklum anak TK, maunya dibawa ke mana-mana buat pamer. Hahaha.

Jangan tanya foto masa kecil, saya tak punya. Lebih tepatnya tak punya uang untuk bisa mengabadikan tiap moment special. Abah lebih memilih menginvestasikan uangnya entah untuk apa. Saya masih terlalu kecil untuk tahu hal-hal seperti itu.

Masuk SD, saya bersekolah di SDN 2 Kepanjen. Tiap mau berangkat sekolah selalu disuruh minta uang saku ke Ibu. Kelas satu, saya dapat uang saku seratus rupiah, kalau saat ini seribuanlah. Paling sedih ketika Ibu meminta saya untuk minta uang lagi ke Abah. Diputer-puter.

Jangan tanya soal uang belanja, untungnya Ibu adalah orang paling kreatif di dunia. Membuat kerudung yang dihias untuk dijual. Jangan tanya pula soal penghasilan seorang kyai, gak ada penghasilan. Kadang dapat oleh-oleh dari para santriwati. Untuk makan sehari-hari mengandalkan dari sawah yang luasnya tidak seberapa. Ya, untungnya saya dan kakak masih bisa bersekolah.






Sholat dan mengaji sudah suatu keharusan setelah Isya. Tak ada waktu bermain bagi saya kecuali sepulang sekolah. Hm, jangan tanya televisi, kami tak punya. Kata Abah, tivi itu tivu. Bisa menipu otak dan mata untuk jauh dari-Nya. Well, mungkin itu benar. Tapi saya selalu melihat televisi ke rumah tetangga dan selalu dijemput Abah dengan membawa ranting kayu atau tongkat. Saya dan kakak selalu berlari-lari pulang ketika melihat Abah, takut kena tongkatnya.

Naik ke kelas 3 SD, Abah memasukkan ke pesantren milik paman. Sekolah di MI dan diniyah. Mungkin karena terlalu dikekang, saya tak bisa bersosialisasi dengan baik. Walau bisa dibilang selalu menduduki peringkat dua di kelas. Ada saja masalah dengan teman pesantren, apalagi saya lebih suka bebas, bermain di sungai bersama anak-anak kampung, mencari barang rongsokan di tempat sampah, dan main ke kebun milik penduduk setempat. Kata Bu Nyai (bibi saya), bermain dengan anak kampung menjadikan saya tak berpendidikan.

Sampai saya akhirnya keluar dari pesantren dan benar-benar tak melanjutkan sekolah. Itu pun karena tak ada lagi kamar yang bisa membuat saya tidur dengan nyaman. Saya tidur di mushola pesantren dg kedinginan, kadang juga di mushola. Baju-baju dan buku ada di aula atas, bukan lagi kamar.

Saya putus sekolah di kelas 4. Abah tak mau lagi menyekolahkan saya jika tak mondok. Miris memang, tapi bagi Abah, tak perlu sekolah tinggi jika nantinya hanya menjadi ibu rumah tangga. Apalagi tanpa pengetahuan agama yang cukup. Menyesal? Tidak! Saat itulah saya merasakan kebebasan. Walau harus antar jemput adik ke TK, kadang ikut berangkat dan jemput tetangga seumuran saat mereka pulang sekolah.






Mungkin karena semangat sekolah yang luar biasa, saya disekolahkan oleh Alm Pak Pur (dulu pernah menjabat sebagai Camat Kepanjen) di SD saya dulu. Akhirnya saya bisa menikmati lagi sekolah di kelas 5 dan 6 (Terima kasih kepada Pak Pur dan Bu Pur Alm, jasa kalian luar biasa).

Di sekolah itu saya merasakan bagaimana mencari uang sendiri dengan menjual jambu biji di halaman rumah. Miris? Tidak juga. Saya tak pernah merasa seperti itu. Abah memang tak pernah memperhatikan hal-hal kecil dan remeh seperti itu. Buatnya, ilmu agama lebih penting.  Ibu juga hanya mengurusi keperluan adik dan saya harus fokus pada kakak yang ada di pesantren.

Ya, saat saya keluar pesantren, kakak saya mulai masuk ke sana. Tentunya dengan alasan kalau tak di pesantren, tak melanjutkan sekolah di SMP. Untungnya kakak saya itu lebih bisa bersosialisasi dan membawa diri, tidak seperti saya yang ugal-ugalan dan luar biasa nakal. 

Lulus SD dengan NEM 40,60 di 5 mata pelajaran membuat saya punya impian bersekolah di tempat yang lebih baik. Ya, bisa dibilang kurang bagus pada pelajaran IPS, hanya dapat 5, padahal yang lain 8 dan 9. Walaupun saat itu Abah memaksa saya untuk kembali ke pesantren yang dulu itu, rasanya tak sudi.






Dengan modal nekat dan beberapa ribu, saya mendaftar di SMP favorit di kota. Besar harapan untuk bisa diterima di sana, walaupun nantinya harus pusing memikirkan biaya sekolah yang pastinya mahal. Tapi kata tetangga, di sana ada beasiswa untuk murid yang tidak mampu. Oke, saya makin nekat.

Awal masuk sekolah, saya harus meminta Ibu untuk mendapat surat keterangan tidak mampu dari RT - RW - kelurahan agar mendapat keringanan biaya. Apalagi untuk uang muka, uang gedung, dan lainnya. Ibu pun terpaksa menggadaikan anting dan cincin pernikahannya untuk biaya sekolah saya yang masih saja terasa mahal, walaupun sudah meminta keringanan.

Masa-masa di SMP adalah masa yang tak cukup menyenangkan. Memakai sepatu yang sama, bahkan sampai tak muat dan harus diberi lem pada bawah sepatunya. Memakai seragam itu saja, sampai 2 tahun dan dimarahi guru karena seragam kekecilan dan sampai di atas lutut. Bajunya tampak sangat kusam, bahkan berlubang di pundaknya dan harus saya beri selotip.

Jangan tanya kaos kaki, sudah tak lagi berbentuk karena banyak lubang di jari-jarinya. Seminggu pun tak ganti, hanya dicuci saat hari Minggu. Inginnya beli yang baru, tapi apa mau dikata, untuk makan saja susah. Uang saku di SMP hanya 300 rupiah.

Paling menyebalkan adalah saat ulangan karena harus membeli kertas ulangan di koperasi seharga 150 rupiah. Hasilnya, saya harus rela tidak jajan. Bayangkan jika banyak sekali ulangan. Belum lagi LKS yang selalu berganti tiap catur wulan. Harus beli karena mengisi tugas di sana dan belajarnya juga dari sana. Saya harus rela menyalin semua isi LKS di buku tulis ataupun fotokopi agar lebih murah.

Abah hanya membantu ala kadarnya dan selalu mengeluh ketika saya minta uang untuk beli buku ataupun yang lain. Walaupun SPP bulanan sudah tidak ada beban karena masuk beasiswa. Lagi-lagi ibulah yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah. Maafkan anakmu yang selalu merepotkan ini, Bu.






Di SMP ini pula saya mengenal yang namanya cinta monyet. Mulai menyukai laki-laki karena banyak sekali interaksi dengan mereka. Walaupun Abah selalu wanti-wanti agar menjauh dari mereka. Sayangnya harus bertepuk sebelah tangan karena saya terlalu jelek untuk mencintai seorang bintang. Mungkin lebih tepatnya dibilang kagum dengan wajah yang rupawan dan kebaikan hati.

Di umur ini saya mengenal cinta monyet, hm ... lebih tepatnya fix punya pacar setelah menyukai seorang laki-laki sejak TK. Dan ... pacar saya ternyata adalah mantan pacar kakak saya. Menyakitkan, padahal kakak sudah tahu bahwa saya menyukainya sejak kecil. :(

Soal sahabat, saya tak punya. Sekali lagi saya katakan bahwa tak pandai bersosialisasi. Apalagi masuk kategori tidak mampu di sekolah yang tergolong elit tersebut. Saya hanya bisa akrab dengan seseorang itu paling lama hanya 2 bulan. Entah itu kawan sekelas ataupun beda. Jadi, sesuatu banget saat saya punya teman seperti Ihwan yang berani jujur dan blak-blakan.


Kelas tiga, saat ujian melukis. Jujur saja, tak mampu untuk membeli cat air. Hanya bisa beli kuas dan kanvasnya. Tapi lukisan ini yang dinilai paling jelek sekelas adalah ungkapan hati saya yang sejujurnya. Paling jujur yang saya rasakan. Sebuah kapal yang terlihat kecil di tengah lautan luas, berbeda dengan sebuah kapal yang terlihat hanya cerobong asapnya karena terlalu besar. Langit senja dengan matahari yang tertutup awan. Sayalah kapal kecil itu.

Lulus SMP, nilai tidak cukup memuaskan karena saya lemah di Bahasa Inggris, hanya dapat 4. Untung saja lulus dengan total NEM 21. Lalu melanjutkan SMA, masa di mana saya harus dibunuh atau bunuh diri, pernah saya tuliskan sebelumnya. Sangat panjang jika saya tulis ulang di sini. 

Keluar dari pesantren itu, demi Ibu, saya pindah ke pesantren di dekat rumah nenek. Di sana pun tidak berjalan dengan mulus karena kepentok cinta monyet. :( Duh, apalah saya ini. Sering sekali dibohongi lelaki.

Berteman lagi dengan wanita-wanita membuat saya kembali trauma. Pacar saya direbut semuanya. :( Duh, nasib gak boleh pacaran kali, ya? Sampai saya temukan seseorang yang selalu menjadi kenangan sampai saat ini, kami berpisah kebodohan saya. Bahkan seluruh perjalanan cinta kami saya tuliskan di dalam sebuah novel dengan judul 'Selalu Ada Campur Tangan Tuhan'. Sebuah buku yang menguak luka dan ingatan saat remaja dulu. Periiih.



Baca Juga : Kisah di Balik Novel Selalu Ada Campur Tangan Tuhan

Soal pekerjaan, saya selalu berpindah-pindah. Pekerjaan pertama adalah di warung nasi plus cafe selama 2 minggu, lalu di warung nasi juga 2 minggu, pindah menjaga wartel 3 bulan sambil membantu Bapak menjaga tempura (kisah di wartel ada di novel), zaman dulu sih masih ada, kalau sekarang sudah kalah dengan hape. Dilanjutkan ke pabrik rokok Gudang Baru sebagai karyawan borongan selama 3 tahun, lumayan lama.

Di pabrik, saya menyambi dengan menulis di infokepanjen.com dan Kepanjen Media. Lumayanlah buat pemasukan. Lalu gak kerja di pabrik selama 3 bulan karena sakit-sakitan, pindah lagi ke pabrik rokok Djolie sebagai karyawan borongan selama 3 bulan, lalu keluar karena beser berlebih. Mungkin karena kecapekan. :(

Wah sepertinya biografi saya sudah sangat panjang, ya? :D Tanpa sadar sudah menulis sebanyak ini. Semoga tidak bosan membaca masa kecil saya. Setelah itu, saya menikah, perjalanannya pun tidak semulus jalan tol. Bahkan penuh air mata dan penolakan, lebih parah dari kisah masa kecil saya. Tai sepertinya suami keberatan kalau saya menceritakan hal itu. Demi kebaikan bersama, akhirnya saya sudahi tulisan ini. ^^

So? Anisa itu tidak sesempurna yang kalian kira. Apalagi dengan tiba-tiba punya penerbitan dan bisa ngeblog, padahal cuma lulusan SMP, Masa kecil sudah menggembleng saya dengan lumayan. :) Mohon maaf tidak ada foto masa kecil dan remaja, kebanyakan foto saat sudah menikah, heheh.

"Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway" 

Oh iya ketinggalan, tentang Mbak Ika nih .... 

Saya lupa kenalnya di mana, kalau gak salah sih di KEB, itu pun udah lama banget. Sering mengunjungi blognya untuk sekadar membaca tiap coretan kecilnya #abaikan. Blognya simpel, tapi isinya padat. Saya suka gaya tulisannya yang to the point dan pas banget dengan info terkini yang dia tuliskan. 


Share on Google Plus

About Anisa Ae

40 komentar:

  1. Salut...tidak semua orang punya keberanian untuk menceritakan tentang kisahnya...

    ReplyDelete
  2. Spechless mba...kehidupan sudah menempa mental mba anisa...hug

    ReplyDelete
  3. salut juga mbak..aku kayaknya blm berani menceritakan kisahku ga pede...terlalu kelam he..he..

    ReplyDelete
  4. Duuh...mb Anisa itu pinter bercerita, jadi aku seolah bisa merasakan betapa sulitnya masa kecil mb NIsa. Semangat ya...insyaAllah pribadi menjadi lebih tangguh setelah mampu melewati semuanya ;)

    ReplyDelete
  5. Saya selalu mengharu biru kalau baca kisahnya Mbak Anisa. Jatuh bangunnya, hingga menjadi blogger kece seperti sekarang, sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  6. Pengalaman yang sangat berharga karena tidak setiap orang punya :)

    Allah tidak akan memberi cobaan diluar kekuatan manusia utk menerima. Kalau akhirnya bisa lepas dari semua masalah itu artinya memang sudah'dipilih' untuk menjalani krn tidak semua manusia sanggup :)

    Cemunguuutttt mbak Anisa :)

    ReplyDelete
  7. Aiih maaak,, koq berhenti... lagi enak baca ini....

    hihihihihihi..

    pengalaman kerjanya, mantap mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sama2.. salut deeh,, bisa kerja sana sini.. kalau aku, cuma nongkrong di tempat 2 kerja :D
      sampai berakar ini gak pindah2 hihihihihi

      Delete
    2. Aku malah pingin yang kerjaannya netap sih :D

      Delete
  8. kalau saya dulu ngajinya habis maghrib mbak,habis isya belajar hehehe. Waktu kuliah pernah nyambi jaga di tempat print2nan,lumayan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, aku pingin kuliah belum keturutan

      Delete
  9. MasyaAllah mba... perjalanan hidup yg penuh liku ya...
    Mba.. link nya gak hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. :) Makasih udah diingatin. Udah hidup, Mbak :)

      Delete
  10. Udah berkaca kaca ini... hidupmu Mbak... salut aku buat kamu...

    ReplyDelete
  11. Mba Annisa perjuangann hidupnya masyaAllah. Semangat ya, mba. Luar biasa semangatnyaa.

    ReplyDelete
  12. Perjuangan hidup yang luar biasa. Barakallah Mba, sekarang manjadi ibu yang tangguh untuk Asma :)

    ReplyDelete
  13. Pengalaman adalah guru yang terbaik, Mbak.

    Semuanya ini menjadikan Mbak Nisa sebagai perempuan tangguh.

    Bicara soal luka, saya pun punya luka. Hampir setiap orang punya luka di dalam hidupnya. Mudah2an kita semua bisa belajar dari luka kita dan anak2 kita tak merasakan luka yang sama ...

    Sukses GA-nya, Mbak.

    ReplyDelete
  14. Blogwalking ke teman-teman banyak mendapat artikel tentang perjalanan hidup. Duh sangat menginspirasi. Semakin saya yakin bahwa saya bukanlah sapa-sapa. Banyak orang2 hebat di luar sana, termasuk salah satunya Mbak Anisa.

    Membaca kisah perjalanan2 teman2 blogger membuat saya berkaca juga Mbak, apa yg sdh saya lakukan apa kontribusi saya dan lainnya. Senang sekali berkenalan dengan orang2 hebat dan menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap orang memang diciptakan berbeda. :) Pebedaan itu yang bikin dunia berwarna. :)

      Delete
  15. hebat kamu mbak.. percaya deh, pengalaman keras waktu kecil dulu, pasti menempah mbak jd pribadi yg kuat :)..

    dan aku jd pgn baca novel yg mbak tulis ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak. ^^

      Novelnya ready kok mbak. ^^

      Delete
  16. inspiratif kisah hidupnya mbak..
    salut

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.