Menikmati Sensasi Grebeg Tengger Tirtoaji

Grebeg Tengger Tirtoaji

Anisa AE - Beberapa hari lalu, 10 April 2016. Saya mengikuti acara Grebeg Tengger Tirtoaji bersama teman-teman blogger, Ihwan dan Iqbal. Yup, acara itu dilaksanakan di Taman Wisata Air Wendit di Pakis, Kabupaten Malang. Memang saya sempat mempromosikan acara tersebut beberapa hari sebelum dimulai.

Saya berangkat jam 6 pagi dari rumah karena sebelumnya sudah janjian dengan Iqbal untuk belajar ngeblog. Belajar? Iya dong ... kapan pun, blog itu selalu update. Ada saja pembaruan, apalagi untuk newbie seperti saya.

Belajar Ngeblog
Sampai jam 7 pagi, ternyata Iqbal belum datang, saya sempatkan selfie dulu di depan tempat tersebut. Saat Iqbal datang, kami pun langsung cuss belajar tentang template blog baru saya yang ternyata mudah. Duuuh berasa gimana gitu. Mudah gini kok gak bisa.

Jam 8 lebih, Ihwan datang. Kami pun menunggu rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang sebelum masuk ke tempat wisata tersebut. Kebetulan saya dan Iqbal kompakan pakai kaos kembar, sedangkan Ihwan ngeyel pakai kaos bertuliskan Wonderfull Indonesia. Tapi tetap saja dia ganti kaos biar kompakan. Heheh.

Saat pertama kali masuk area wisata, kami melihat Bapak Made Arya Wedhantara, SH, M.Si  selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang. Kami sempat bersalaman dan memotret beliau dan stafnya yang pada saat itu memakai baju batik abu abu. Setelah itu saya dan sahabat blogger lainnya berjalan menuju lokasi acara sambil berfoto ria. Ternyata di bawah sudah ada Mas Vicky Phalevi dan Mas Gede Arya menunggu kami.

Para Penari dari grup Laras Aji
Sebelum acara dimulai, kami sudah punya jadwal acara pada hari itu. Mulai dari jam 8 pagi sampai 1 siang. Sebelum acara dimulai, kami sempatkan memotret beberapa bidadari yang rencananya memang untuk menarikan tari Bedhaya Luk Suruh dan mengambil air suci dari Sendang Widodaren. Mereka terdiri dari tujuh bidadari cantik beserta dengan seorang Hanoman dan Prabu Rama Wijaya. Mereka bersembilan ternyata merupakan anggota grup tari Laras Aji yang akan menyajikan tari dalam ritual nantinya.

Rombongan Suku Tengger
Ternyata jamnya mundur, dimulai sekitar jam 10 saat rombongan dari suku Tengger yang ada di Kabupaten Malang datang. Itu pun saat saya dan Iqbal sedang menikmati gorengan di warung. Ihwan yang merasa kecolongan, langsung berlari menyusul rombongan tersebut dengan kameranya.

Rombongan Suku Tengger
Rombongan yang datang seperti karnaval. Ada banyak sekali bawaan seperti tumpeng besar dan bahan pangan. Para lelaki dan perempuannya pun menganakan pakaian khas suku tengger, tak lupa make up yang membuat mereka lebih cantik. Rombongan tersebut sangat panjang, ada lebih dari 200 orang mulai dari anak-anak sampai lansia. 
   




Grebeg Tengger Tirtoaji adalah nama lain dari upacara adat pengambilan air suci di sumber mata air Sendang Widodaren Mbah Kabul dan Mbah Gimbal yang berada di Taman Wisata Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Ritual tersebut biasanya dilakukan oleh suku asli Tengger dari empat kabupaten, yaitu Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo. Namun pada saat itu hanya dihadiri oleh suku tengger di wilayah Kabupaten Malang saja. Memang masih belum banyak yang tahu meskipun warga Malang sendiri. Jujur saja termasuk saya. Padahal Pemerintah Kabupaten Malang sudah menggelar acara ini semenjak tahun 2013. 

Iring iringan masyarakat tengger tersebut membawa puluhan sesaji yang terdiri dari tiga tumpeng nasi kuning berukuran besar dan beraneka macam hasil bumi, ada ketela, pisang, apel, jeruk dan lain sebagainya. Mereka rela datang jauh jauh dari Gubuk Klakah Tengger untuk mengambil air suci di sendang Widodaren. Mereka menganggap sumber air tersebut membawa berkah dan manfaat dalam bercocok tanam.

Acara dibuka oleh Bapak Made Arya Wedhantara, SH, M.Si
Tidak lama kemudian acara dimulai, dibuka oleh Bapak Made Arya Wedhantara, SH, M.Si selaku penyelenggara acara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Grebeg Tengger Tirto Aji yang dipimpin oleh Bapak H. Abdul Malik selaku Sekda Kabupaten Malang. Pada saat itu beliau mendapat penghormatan berupa pemakaian udeng khas suku tengger dan sempet sebagai pakaian pimpinan ritual.   

Mendak Tirto Bedhaya Luk Suruh
Sebelum para peserta ritual menuju Sendang Widodaren, rombongan grup tari Laras Aji memberikan suguhan tari Mendak Tirto Bedhaya Luk Suruh terlebih dahulu. Kata Mendak Tirto memiliki arti mengambil air dan Luk Suruh adalah nama lama tempat pengambilan air tesebut.  Para penari yang sebelumnya sempat berfoto bersama saya tadi ternyata dapat menampilkan tarian dengan anggun dan gemulai. Tak heran jika banyak kamera yang mengekspos gerak gerik mereka saat tarian berlangsung. 

Para penari ini untuk selanjutnya bertugas mengambil air sendang seperti yang ada dalam cerita. Mereka akan membawa air dari sendang untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara Prabu Rama dan Hanoman akan bertugas menjadi cucuk impah (penunjuk jalan) bagi Bapak Made menuju tempat sendang. Unik tentu kalau bisa melihat, mendengar dan merasakan suasana ritual Grebeg Tengger Tirto Aji tersebut.

7 Bidadari menuju sumber air suci
Setelah tarian selesai, seluruh warga yang hadir di pendopo bergerak menuju Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal dengan dipimpin oleh Bapak H. Abdul Malik. Dalam ritualnya, Bapak Made dan Bapak Malik memasuki sumber air bersama dengan tujuh bidadari yang diikuti oleh warga lainnya. Saya sendiri tidak bisa mengikuti karena terhalang oleh kerumunan orang yang ingin menyaksikannya. Maklumlah, bumil, sudah tinggal menunggu hari.

Kemudian setelah air Sumber Mbah Kabul dan Mbah Gimbal dimasukkan dalam setiap tempatnya, Pak Made dan Pak Malik memberikannya kepada setiap perwakilan dusun yang ada di daerah Gubuk Klakah. Sedangkan sebagian sesaji yang dibawa tadi sebagian kecil dihanyutkan di tengah sumber wendit, sementara yang lainnya dilemparkan kepada semua warga yang hadir di situ. Warga pun berebutan untuk mengambil sesaji yang katanya penuh berkah tersebut.






Acara ditutup dengan dihanyutkannya sesajen ke tengah sumber Wendit menggunakan perahu. Karena saya tak ikut naik, langsung deh balik lagi ke pendopo. Eh ternyata di sana juga ada bule yang menikmati acara tersebut. Tiga bule tersebut dari Laos, Polandia, dan Taiwan. Kata mereka, acara seperti ini sangat bagus, tapi tidak mengerti maksud dan tujuannya karena datang terlambat. Setelah makan siang, mereka pun ikut menari Morena dengan iringan gending. Lucu sekali.

Grebeg Tengger Tirtoaji

Grebeg Tengger Tirto Aji sekaligus sebagai representasi nilai budaya tradisional warga Tengger di wilayah Provinsi Jawa Timur ini sangat mena. Semoga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang selalu bisa mengadakan acara ini lagi agar warga negara Indonesia, khususnya Malang lebih memiliki wawasan dan bisa mewarisi budaya tradisional warisan nenek moyang. 

Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v




Share on Google Plus

About Anisa Ae

36 komentar:

  1. Waw acara grebegnya seru mbak, tapi ada yang lebih seru itu penarinya cantik-cantik sekali mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, emang lelaki liatnya yang bening

      Delete
  2. Nguri2 budaya ya, Mbak.
    Itu bulenya menikmati bener narinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iya Mbak :D Bulenya suka narinya

      Delete
  3. Hmm pasti rasanya muantappp ya bisa merasakan langsung, duh sayang banget nih saya belum pernah merasakan secara langsung.

    ReplyDelete
  4. Ciieee newbi, terus saya apa dong :) *pupuk bawang ya mbak

    Semoga acara ini bisa berlangsung tiap tahun ya mbak Anisa, suku Tengger ini kan terkenal sekali ya, saya pernah dengar juga sebelumnya. Iyap benar sekali mbak, kalau bukan kita yang melestarikan tradisi nenek moyang siapa lagi ya :)

    Itu ada kalimat : cucuk impah (penunjuk jalan), memang istilahnya begitu ya mbak, sebab kalau di Semarang : cucuk lampah. Mungkin beda daerah beda istilah juga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.

      Aamiin. Mungkin beda-beda juga bahasanya

      Delete
  5. Ntar kalo ke Malang coba deh mampir ke sini juga, siapa tau bisa liat langsung tempat air sucinya

    ReplyDelete
  6. Di Jawa memang masih kental bgt ya bunda tradisi seperti ini.
    menarik banget pke bidadari gitu, wih serunya.
    jadi pengen ke Jawa, bosen di sumatera trus. malah msh disini sini aja gak pernah melancong :( hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixix, di sini sebenarnya juga mulai gak ada kok, sayang bangat. Malah lebih kental di Sumatera

      Delete
    2. Bunda pernah ke Sumatera ya? kemana bun? ayo bun kesini lagi..hehe

      Delete
    3. Gak pernah, Say. Cuma baca doang :D

      Delete
  7. Kalo liat ritualnya, seru ya mbak..
    Bumil masih semangat aja..padahal udah menunggu hari ya..hi..hi..Ati-ati Mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixi, entah kalo ginian semangat banget :D Makasihhh

      Delete
  8. Waaah acaranya seru ya sepertinya.. Jadi makin dekat sama budaya sendiri.. Kerennn. Makasi sharingnya ya Maaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harus lebih dilestarikan :D

      Delete
  9. Keren acaranya mbak nambah pengetahuan dan cinta pd budaya lokal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihhh. Memang acara ini digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Selain melestarikan budaya, bisa menarik wisatawan asing

      Delete
  10. wah keren bisa ikutan meliput acaranya Mbak..pengen banget niy kalo ada acara acara kayak gini bisa ikut ambil bagian, maksudnya meliput..hehe. itu banyak bule juga yang datang ya Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehee, hayuk ke sini. Nanti tak ajakin :D Iya, ada bule juga

      Delete
  11. kereeenn...aku baru tahu lho suku tengger di sekitaran Malang *kemana aje ye

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixix. Ayo main ke sini. Liat suku tengger langsung

      Delete
  12. Wooooow.. acaranya seru ya mbaaaaa anis.. memang kebudayaan seperti ini harus lebih banyak di explore dan di budayakan lagi..
    www.sistersdyne.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. ^^ Gak boleh dimakan zaman

      Delete
  13. Pantesan mbak, aku berkunjung ke blog mbak kok ada yang beda gitu, nggak seperti dulu ew ternyata memang udah ganti tamplate blog tow,,, tambah bagus dan apik, :-)
    Duh penarinya ituloh, bikin mata jadi melek, hahaha,,,,
    Owalah Grebeg Tengger Tirto Aji itu pengambilan air dari sumber air tow,,,,
    eh by the way ada kaitannya dengan cerita Roro Anteng dan Joko Seger nggak mbak? hehehe, maklm kemarin habis baca tentang mereka yang ada kaitannya di Kawah Bromo, :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, makasih .... Kamu juga ganti template gitu.

      Xixixix, aku gak tanya sih ada kaitannya apa enggak

      Delete
  14. Aku yow baru tahu loh, Mbak..
    Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kamu kan bukan orang sini :D

      Delete
  15. acaranya seru ya, apalagi yang cewek-cewek, manis pisan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uyyy main ke sini aja biar liat cewek manis :p

      Delete
  16. Bisa jadi salah satu destinasi wisata lokal, tapi ini acaranya pada tanggal2 atau waktu tertentu kan yah? :)
    tfs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hanya di tanggal tertentu :)

      Delete
  17. lihat orang yang nari, jadi pingin nari, sudah lama gak manggung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieee biasanya manggung ya, Mbak? :D Aku malah gak bisa nari

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.