Dukung Gerakan Dokter Pro Rakyat






Anisa AE - Orang miskin dilarang sakit! Pasti pernah mendengar tagline seperti itu, bukan? Tagline tersebut tak sepenuhnya salah, karena memang biaya pengobatan itu luar biasa mahalnya. Apalagi jika penyakit yang diderita termasuk penyakit parah seperti leukemia, kanker payudara atau berbagai penyakit baru yang semakin banyak bermunculan belakangan ini.

Jika orang berada saja dibikin pusing dengan biaya perawatan kesehatan, lantas bagaimana dengan orang yang tak mampu? Daripada dibikin makin susah dengan biaya perawatan yang selangit, akhirnya mereka memilih pasrah dan tak melakukan apa-apa, sampai akhirnya nyawa pasien tak tertolong lagi.


Kalau sudah begini, biasanya yang disalahkan adalah pihak medis karena mereka tak mau memberikan perawatan dengan tarif yang terjangkau, atau setidaknya melakukan perawatan tanpa harus DP biaya, bahkan ada kalanya BPJS pun malah ditolak pihak rumah sakit. Mungkin ada beberapa oknum medis yang membeda-bedakan pelayanan antara yang berada dengan yang kurang mampu, tapi kebanyakan pihak medis memang tak mampu melakukan apa-apa saat pasien tidak memenuhi syarat administrasi yang sudah ditetapkan oleh pihak rumah sakit.

Hal itu terjadi karena sudah terjadi kesenjangan sejak masa pendidikan bagi tenaga medis, terutama pendidikan dokter. Biaya pendidikan yang sangat tinggi, kurangnya fasilitas dan adanya jatah kursi di tiap fakultas kedokteran untuk calon dokter spesialis telah membatasi jumlah dokter spesialis di Indonesia. Itulah mengapa kebanyakan dokter spesialis justru berasal dari luar negeri, karena di luar negeri sana dokter umum yang ingin memperdalam spesialisasi tak perlu mengeluarkan biaya apapun dan program pendidikannya tak dibatasi jumlah kursi.

Ikatan Dokter Indonesia





Maka karena itulah IDI berkomitmen untuk menyerukan dukungan terhadap program pemerintahan Presiden Joko Widodo yaitu NAWACITA, yang akan memprioritaskan penguatan upaya kesehatan dasar yang berkualitas dan terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat.


Kemudian dalam rangka memperingati Ulang Tahun lDl Ke-66 yang jatuh padatanggal 24 Oktober 2016, maka Dokter lndonesia secara serentak akan melakukan aksi damai di seluruh wilayah tanah air dengan pusatnya di depan Istana Negara di Jakarta. Aksi damai untuk menyuarakan Reformasi Sistem Kesehatan dan juga Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran yang Pro Rakyat, peserta aksi damai ini terdiri dari dokter umum dan juga dokter spesialis dari berbagai daerah. 



Dalam aksi ini akan meminta pemerintah untuk meluruskan kembali kebijakan negara dalam sektor pemerintahan, mencari solusi untuk membuat biaya pendidikan dokter dan dokter spesialis lebih terjangkau oleh semua kalangan, sehingga lebih banyak dokter ahli di Indonesia dan berdampak pada penyebaran dokter yangmrata ke seluruh daerah. Dengan penyebaran dokter yang merata, apalagi didukung dengan fasilitas penuh dan tenaga medis lainnya, maka kesehatan masyarakat akan lebih terjadmin dan biaya pengobatan pun tak perlu setinggi saat ini. 

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v



Share on Google Plus

About Anisa Ae

29 komentar:

  1. sebenarnya ya, yg juga mesti dididik jg karakter para calon dokter dan perawat ini... Berobat bayar sendiri aja, bbrp dari mereka suka jutek dan malah bikin tambah sakit...

    ReplyDelete
  2. Setuju! Perbaiki BPJS sebelum menarik biaya terlalu banyak. Udah sistemnya masih acak adul, kadang obat-obatannya juga ga optimal, plus dokter yang dituntut kadang dilarang ini dan itu hanya karena pasiennya pakai bpjs.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, belum pernah mengalami. Tapi dari berbagai caerita, kadang kejadian seperti itu. Aamiin. Semoga semua jadi lebih baik lagi. :)

      Delete
  3. saya kok merinding y mba hehehe semoga niat mulianya diapresiasi oleh pemerintah. Hidup para tenaga kesehatan :)

    ReplyDelete
  4. pakai BPJS setiap kali berobat, antrinya 4 jam (antri dokter), antri obat di apotiknya 2 jam. mungkin karena di luar jawa ya jadi tenaga medis masih sangat kurang. RSUD nya udah kayak pasar aza ^^ rame bangeut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di beberapa rumah sakit di sini juga kalau pakai BPJS agak lama antrinya. Cuma alhamdulillah, belum pernah mengalami. :)

      Delete
  5. Lihat kemarin beritanya di TV dipelintir, judulnya minta dinaikin tunjangan atau apa gitu, padahal jelas-jelas ada spanduknya permintaannya apa lho.. Ckck..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tv memang kadang terlalu membesar2kan. :(

      Delete
  6. Iya mba, sekarang ada aja kesenjangan sosial termasuk dalam dunia kesehatan.. kalau dokternya punya iman, karakter yg bagus sih pasti segala masalah ga terjadi.. ya semoga aja ke depan pelayanan medis di indonesia bisa lebih baik, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Jadi prihatin. Aamiin ... :(

      Delete
  7. wah ganti template again, keren mba nisa nih produktif banget, artikelnya saya setuju dengan perubahan dunia kesehatan yang lebih baik. Apalagi banyak mendengar kabar yang tidak menyenangkan BPJS ditolak, dokter jutek,dll. Semoga langkah awal dengan berubah dari diri sendiri baik jadi pasien yang baik dan dokter juga melayani dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makaih.Hehehee :D Aamiin, semoga ke depannya lebih baik lagi. :)

      Delete
  8. Ini beritanya banyak dipelintir sama berita di tv, Mbak. Untung aja baca spanduk yg didemo. Kalok enggak uda kemakan fitnah mentah mentah deh -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. :( Selalu deh TV kaya gitu

      Delete
  9. kasihan dokter kayaknya dg adanya bpjs sering dituntut banyak macam2, tapi kalau mau obat gak dikasih padahal memang pasien memerlukan, kalau ada apa2 dg apsien yang disalahkan juga dokter. perawat dan dokter bertugas melayani jadi harus sudah tahu itu ya, kebanyakan perawat2 judes2, suka sebel jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak semua sih Bund. Tapi emang yang judes mungkin gak paham etika. Bagaimanapun kan tugas mereka melayani pasien, seperti apapun keadaan pasien itu.

      Delete
  10. Setidaknya adanya BPJS ini sdh krmajuan (sdikit) drpd tak ada asuransi sama sekali. Mudah2an BPJS atau apapun nanti namanya bisa lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  11. salam kenal mbak, share dong cara buat blog keren kayak gini... hehehe
    tentang artikel diatas, setahu saya bpjs baik baik aja deh pelayanannya, tapi entah kalau di tempat lain ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya itu. Lain tempat lain cerita. Alhamdulillah, aku juga belum ada keluhan tentang penggunaan bpjs. :) Salam kenal juga, ya? :)

      Delete
  12. Urusan kesehatan memang rumit ya, mba. Mau berobat aja kadang ribet. Belum lagi servis di RS rujukan bisa bikin bete. Yah... semoga tetap sehat ajalah biar ngga berurusan dengan RS :).

    ReplyDelete
  13. Semoga saling pro
    dokter, kita dan pemerintah salling butuh satu lingkaran soale :")

    ReplyDelete
  14. jangan sampe dah masuk RS ribettt.. semoga sehat terus ajj deh.. buat semuanya sehat juga.. :)

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.