Seorang Driver Ojek Online Dipecat Karena Plat Nomor Beda

February 28, 2018





Anisa AE - Miris melihat postingan salah satu driver ojek online beberapa waktu lalu. Di akun Facebook Abdul Jana yang kemarin telah membagikan sebuah postingan dan sampai viral karena dibagikan sampai 117rb kali di Facebook.

Dalam postingan Abdul Jana pada tanggal 26 Februari 2018, tertulis kekecewaannya terhadap konsumen atau pelanggan yang telah melaporkannya pada pihak Grab, sehingga Abdul Jana harus disuspend atau diberhentikan dari pekerjaannya sebagai driver Grab.

Alasan customer melakukan tindakan ini bahkan terbilang sepele. Hanya karena plat nomor motor yang digunakan oleh Abdul Jana saat bertugas tidak sama dengan plat nomor yang tertera pada di aplikasi Grab. Setelah mengetahui kejanggalan ini, si customer dengan lancangnya melaporkan Abdul Jana pada pihak Grab. Tak berselang lama, Abdul Jana sudah mendapat suspend dan tidak bisa mencari nafkah sebagai driver ojol (ojek online).

Isi postingan Abdul Jana benar-benar menarik perhatian para netizen untuk berkomentar. Tak sedikit yang merasa iba dan mendoakan Abdul Jana agar tetap tabah, karena rezeki bisa datang bukan hanya melalui driver ojol. Ada juga beberapa yang memberikan komentar pedasnya pada customer yang sudah melaporkan Abdul Jana, “Harusnya penumpang lebih bijaksana, hanya karena plat nomor beda kenapa harus dilaporkan.. di mana hati nurani kalian :’(“ tulis akun Dhian Budhi Prabaswara.

Baca juga : Cara Regristrasi Ulang Kartu SIM


Saya juga termasuk orang yang geram dengan tipe customer kayak gini nih. Sok tahu banget! Boleh lah situ waspada karena plat nomor yang digunakan berbeda dengan yang ada di aplikasi. Tapi bukan dengan begitu bisa seenaknya melaporkan tanpa tahu fakta yang sebenarnya.

Saya sangat setuju dengan komentar akun Dhian di atas, lebih baik kita jadi customer yang bijak. Jika merasa janggal, tanya langsung pada ojolnya kan bisa. Tanyakan yang perlu ditanyakan, toh nantinya si ojol juga akan menjawab selama itu tidak berhubungan dengan privasinya.






Bisa saja kan, itu motor pinjam punya temannya, atau gimana. Yang jelas sangat tidak etis main lapor-lapor kayak gitu. Apalagi sampai si ojol yang nyatanya tidak salah apapun sampai diberhentikan dari pekerjaannya. Mereka itu juga butuh kerja untuk memenuhi nafkah keluargannya.


Fakta yang lebih mengahrukan dari Abdul Jana adalah dia yang nyatanya orang tua tunggal atau single parent. Abdul Jana membesarkan putrinya yang masih usia sekolah dasar seorang diri. Istrinnya meninggal tahun 2014. Menjadi driver grab ini adalah satu-satunya mata pencahariannya sebagai seorang single parent dan harus menyekolahkan anaknya yang masih sekolah dasar.


Setelah disuspend dari satu satunya mata pencahariannya, membuat Abdul Jana sangat terpukul. Bagaimana lagi dia akan mencari nafkah untuk menyekolahkan anaknya nanti. Kalau sudah begini, saya juga jadi ikutan sedih. Padahal hasil dari ojol itu gak seberapa. Belum lagi kalau customernya itu banyak tingkah alias banyak komplain.

Etikanya kita sebagai customer yang baik harusnya memberikan feedback yang baik pada si ojol. Saya pribadi beberapa kalai memesan driver grab mobil untuk keperluan di kantor. Seperti beberapa waktu lalau saya sempat memesan driver untuk mengirim buku Malang. Biasanya kalau kalau tidak begitu banyak buku yang dikirim saya bakalan kirim sendiri pakai motor. Tapi karena bukunya banyak, jadi saya pakai Grab mobil.

Alhamdulillah pelayanan yang diberikan oleh driver Grab waktu itu sangatlah baik. Bahkan saya sempat ada tambahan pemberhentian lokasi tetapi sama si driver Grab tidak dikenakan biaya tambahan.

Setelah selesai dan tiba di tempat tujuan, saya memberikan penilaian yang bagus pula untuk feedback si driver Grab, sekalian bayar ongkosnya sesuai yang tertera di aplikasi, padahal saya nambah tujuan pemberhentian tapi gak ada ongkos tambahan, hehe. Makasih lho Mas driver, hehehe.

Alangkah baiknya sebagai customer itu tidak seenaknya berbuat. Diperhatikan jugalah, itu orang lagi cari nafkah, bukan babu mu yang seenaknya bisa dilapor-laporkan. Kalau si ojol yang salah, diselesaikan dengan baik-baik dulu, jangan asal dilaporkan. Kan kasihan kalau sampai disuspend gitu, padahal cari uang cuma dari ngojek online.





Kalau kalian sudah selesai dengan si driver ojol dan sudah sampai di tempat pemberhentian sesuai dengan tujuan awal, alangkah baiknya berikan penilaian yang baik. Percayalah, nilai bintang yang kalaian berikan itu berharga bagi si driver ojol. Saya kalau tidak ada problem, selalu kasih bintang 5.

Beberapa waktu lalu juga ada kasus serupa. Seorang customer melaporkan driver ojek yang sudah lansia gitu. Tapi ini berbeda dari kasus plat ini. Si customer melaporkan si driver ojol lantaran si driver tidak mempunya kembalian uang kecil untuk si customer.

Baca juga : Alasan Kenapa Harus Sarapan Pagi


Karena kelamaan menunggu kembalian ongkos, si customer jadi telat untuk bekerja. Padahal ongkos yang dibutuhkan untuk membayar si driver ojol ini tidak sampai 20.000 rupiah dan uang si customer pada saat itu pecahan seratus ribuan.

Karena meras dirugikan dengan alasan telat bekerja gara-gara si driver yang kelamaan ngasih kembalian, jadilah si customer melaporkan si driver. Tak menunggu lama si driver langsung mendapat pemberitahuan pemberhentian kerja sama sebagai mitra. Kebetulan yang ini kasusnya di Gojek.


Kalau begini saya pingin tuh ya ngatain si customer, serius. Eh, yang salah itu bukan drivernya tapi si customer. Harusnya dia dengan bijak menyiapkan uang kecil untuk membayar ongkos drivernya. Toh waktu memesan ojol di aplikasi sudah tertera berapa tarifnya. Salah situ kan gak nyiapin uang kecil, jadi kalau telat ya jangan nyalahin drivernya dong.

Emangnya si driver penjual asongan yang punya banyak uang receh untuk jaga-jaga kalau si customer uangnya besar. Yang kayak gini, aku bilang customer gak sehat. Pingin rasanya bikin gerakan, "sediakan uang receh kalau mau pesan ojek online."

Kalau gak mau repot kan bisa top up saldo go pay di aplikasi tuh. Jadi kalau gak punya duit receh tinggal bayar pakai saldo go pay, masalah beres. Bukannya marah-marah gak jelas dan merugikan orang.

Kasian lho, apalagi si drivernya udah lansia gitu. Mau kerja apa lagi cobak. Huhu, saya berharap orang Indonesia lebih bijak dan memakai hati nurani sebelum bertindak. Supaya tidak ada lagi kasus seperti ini di kemudian hari.

Untuk pak Abdul Jana dan driver ojol lain yang mengalami hal serupa, semoga mendapat rezeki lain yang lebih besar. Allah itu nggak tidur, pasti akan ada hikmah dibalik kejadian ini. Hanya perlu kesabaran dan mencoba hal lain, mungkin saja rezeki datang dari pekerjaan lain. Aamiin.


Untukorang yang sudah berbuat dzolim pada driver ojek online di Indonesia, ingat saja pasti akan ada balasan setimpal. Karma its real. Mata pencaharian seseorang bukanlah suatu candaan yang bisa dibuat little joke or something. Semoga kalian yang suka iseng ngerjain driver ojol ataupun suka melaporkan driver ojol dengan seenak jidatnya segera dibukakan hati nuraninya.

Sekedar reminder nih, kalau mau berbuat sesuatu, coba posisikan diri kalian di posisi orang itu, atau bayangkan saja jika si driver ojol itu adalah bapak atau saudara kalaian. Gimana rasanya disuspend tanpa tahu sebab kesalahan kita. Sakit tahu gak sih :(.

Semoga kita semua dilancarkan rezekinya dan jauh-jauh dari tipe customer seperti ini. Bukan hanya ojol, tapi semua orang yang bergelut dengan customer setiap harinya. Aamiin.





Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v

26 comments:

  1. Turut prihatin, kasihan ya, customer memang kadang ada saja seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iy betul Pak, saya kesal juga nih.

      Delete
  2. Duh, sedihnya baca ini. Sampe nangis saya dibuatnya.

    Saya juga sering menggunakan jasa transportasi online dan pernah satu kali marah-marah sama driver gegara muter-muter nggak nemu alamat saya. Saya pandu beberapa kali sampe saya mau meledak saking emosinya pingin cepat sampai rumah sakit, tapi kakak saya tiba-tiba keluar marahin saya. Sejak saat itu saya mulai mengerti bahwa driver transportasi online itu meskipun dia adalah driver, tapi tidak semua jalan ia kuasai posisinya. Jadi kalo ada yang kesusahan cari alamat, biasanya saya memilih jalan keluar blok agar drivernya nggak bingung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak Ima. Saya malah sering pesen driver yang kebetulan gak bisa baca GPS. Saya maklum aja kalau datangnya terlambat. Soalnya orangnya gak bisa baca peta.

      Delete
  3. haduh sedih banget denger tentang kang Abdul Jana, kadnag orang tidak peka akan orang sekitar. Semoga kang Abdul diberikan kesabaran dan rezeki yang lebih baik lagi yaaa..

    ReplyDelete
  4. Wah kasian juga ya jadi begitu akhirnya! Semoga sang driver dilancarkan rizkynya!

    ReplyDelete
  5. Sama mbak, saya juga prihatin kasus seperti ini.
    Harusnya sebagai pengguna, kita ya harus bijak dan punya kemanusiaan lah, nggak sembarang seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyup betul banget. Setidaknya kasihani bapaknya yang juga lagi cari rezeky.

      Delete
  6. Prihati ama kisahnya mbak.
    Dan kesek juga ama penggunanya yang seenaknya melaporin hal-hal sepele kayak gitu.
    Harusnya kita sebagai pengguna bijak dan lebih punya manusiawi dong.

    ReplyDelete
  7. Aku pengguna setia ojek and taksi online juga. Tapi aku tipe yg hampir sama dgn cust itu, plat mobil harus = aplikasi. Kalo beda itu jadi persoalan bagi aku. Tapi aku gak melapor, aku bilang ke drivernya dan tulis di bagian komen. Karena apa yg dilakukan cust itu sbnrnya benar mba, melaporkan apa yang tidak seharusnya. Plat nomor itu harus = yg di aplikasi. Krn kalau tidak ke depannya bs jd masalah. Bisa jadi di tengah jalan terjadi sesuatu dan si penyedia jasanya tdk bs tanggung jawab krn plat nomornya beda. Dikhawatirkan sperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya kalau saya bisa tanya dulu Mbak, nanti kalau masih mencurigakan baru dilaporin. Kasihan si Bapknya kalau gak salah apa pun sampai dipecat gini.

      Delete
  8. Aduh tega banget ya mbak, si customer yang main lapor saja, harusnya itu bisa ditanyakan langsung alasannya apa, pasti ada alasannya kan ya. Semoga Bapak Abdul Jana segera mendapat pekerjaan lain untuk menghidupi putrinya ya aamiin..

    Kalau anak saya seringnya pesan gofood lewat Gojek mbak, dia selalu memberi bintang 5 dan kalau nggak ada kembalian juga nggak masalah. Bahkan saya sarankan misalnya habis 28.000 bayar saja 30.000 gak usah kembali, supaya bapaknya senang meskipun hanya sedikit :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pengguna driver ojek online Mbk, aku selalu kasih bintang lima setelah melakukan transaksi.

      Delete
  9. memang akan lebih bijak, jangan main lapor begitu saja, karena mereka pun kan mencari nafkah. Semoga rejekinya akan tambah 2x lipat dari sblmnya. Aamiin. Semoga Allah memudahkan

    ReplyDelete
  10. Kasihan, ya. Dengan jadi driver ojol itu, lumayan penghasilannya tapi jadinya malah dipecat.

    Jadi ingat, saya pernah melaporkan saldo GoPay yang kepotong gegara driver gegabah tekan tombol yang menyatakan saya sudah diangkut padahal belum. Saya minta batalin karena HP dimainin anak. Saya panik saldo GoPay kepotong. Cuma 15ribu, sih tapi saat itu, posisi keuangan sedang di ujung tanduk. Lima belas ribu itu bisa buat 3 hari si sulung naik GoJek ke sekolahnya :(

    Saya laporin hanya minta supaya saldo kembali. Gak tahu ya gimana nasib drivernya. Saya bukan melaporkan si driver, hanya minta saldo GoPay balik karena sedang berhemat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasihan banget. Apalagi orangnya juga single parent. Huhu.

      Delete
  11. Ya Allah, jahat banget si orang. Saya pikir orang2 jahat begini cuma ada di sinetron ternyata nyata ada di depan mata banget. Aku juga pernah nulis kyk gini supir gojek dikerjain pesen makanan tapi nyatanya fiktif kampret beneeeeer, pengen rasanya tu customer dilempar ke jahanam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sinetron terus dicontoh sama orang beneran Mbak. Jadinya gini deh.

      Delete
  12. Ingat kemarin waktu mau pulang dari Malang ke Bandara Juanda, pesan GRAB dan udah masuk pula dalam mobil. Sekitar 2 Kilometer dari tempat saya naik tadi, mobil berhenti. Mas saya nggak bisa nganter sampai juanda....ongkosnya nggak nyampe. Saya mau saja menambah, tapi abang sopirnya tetep nggak mau nganter. Jadilah terlantar 1 jam lebih di pinggir jalan sambil mesan travel.
    Sampai sekarang, saya nggak laporin...toh saya sudah berhasil sampai juanda (meski hampir ketinggalan pesawat), intinya bersyukur saja.

    ReplyDelete
  13. resiko mbak, gak semua orang baik. Semoga kejadian ini ada hikmahnya bagi para pengemudi tersebut dan pintu rejeki mereka dibukakan dari tempat lain ya.

    ReplyDelete
  14. Keterlaluan banget. Saya suka sebel dgn tindak laku semena2 gitu. Saya juga sering dpt ojol beda no plat tp ga harus mematikan penghasilan org laen juga


    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.

Powered by Blogger.