Anisa AE - Assalamualaikum. Lagi nungguin Dik Sasha dan Mas Brama? Cerita kali ini buat kalian yang penasaran dengan cerita sebelumnya. Geregetan banget ya sama sikap Brama dan sikapnya Sasha cukup dapat acungan jempol. Hehehe.

Cerita ini untuk para pembaca setia Suami Rahasia mulai dari pertama tayang. Bahkan pembaca yang mengikuti cerita saya lainnya. Makasih buat dukungannya. Love all. Mohon maaf saya pindah di web pribadi ya .... Ini pun setelah berpikir selama beberapa hari. Bisa langsung share linknya dan kasih komentar di bawah.

🌼🌼🌼🌼🌼
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

"Hari gini masih hoax? Bayar berapa buat bikin surat nikah kaya' gitu?"

Brama langsung berdiri saat melihat salah satu dari wanita itu telah mengambil buku nikah milik Sasha. Tak menyangka bahwa si wanita akan senekat itu.

"Dengar ya, Mbak? Ini surat nikah asli. Dia memang istri saya dan asalkan si mbak tau, dia lebih cantik dan menarik berkali lipat dari kalian." Brama mengambil buku nikah itu dengan cepat. Buku itu pun berpindah tangan. "Ayo, Sayang, kita pulang."

Wajah dua wanita itu kecut mendapat ucapan pedas dari Brama, lalu mencibir dan pergi dari tempat itu. Sementara Brama dan Sasha pun langsung pergi. Sudah cukup menjadi tontonan gratis untuk beberapa menit tadi.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Brama saat mereka berada di dalam mobil.

Sasha mengangguk, tak berkata sama sekali. Dia masih kaget saat Brama mengembalikan buku nikahnya dan menggandengnya keluar dari tempat itu menuju tempat parkir. Apalagi saat suaminya itu memanggil sayang. Sayang? Wajah Sasha langsung bersemu merah saat mengingat kata itu.

Melihat Sasha yang tak bersuara, Brama langsung mengemudikan mobil menuju rumah Atmaja. Tak ada keinginan sama sekali untuk menggoda istrinya, takut hal itu malah membuat Sasha marah.

Tak berapa lama, mobil sudah sampai di halaman rumah Atmaja. Namun, belum ada yang turun dari mobil walaupun mesin telah dimatikan.

"Kak. Boleh minta tolong?" Sasha bersuara pelan.

"Ya? Kamu mau minta apa?" Brama memandang Sasha dengan intens.

"Tolong jangan panggil Sasha dengan sebutan sayang," ucap Sasha sambil memandang Brama.

Wajah Brama langsung kaku mendengar permintaan itu. Tadi dia refleks memanggil Sasha dengan sebutan tersebut. Selain berniat melindungi istrinya, juga agar dua wanita itu pergi. "Kenapa?"

"Jangan panggil sayang, jika ternyata Kak Brama belum bisa sayang sama Sasha. Toh Kak Brama ingin kita bercerai nanti. Jadi, jangan sampai Kak Brama nantinya membuat Sasha kehilangan." Sasha menarik napas panjang.

"Hm, oke, Sha. Adalagi?" tanya Brama setelah terdiam beberapa saat.

"Jangan selalu tunjukin wajah baik kalo gak suka. Gak ada salahnya kok jujur sama diri sendiri dan orang lain. Kakak bukan malaikat yang harus selalu terlihat sempurna di depan orang lain."

"Maksudnya gimana?" Brama bertanya memastikan.

"Sasha tadi liat Kak Brama gak suka dipegang-pegang gitu, tapi tetep aja senyum ke mereka. Memangnya Kak Brama gak bisa jujur, ya? Kalo gak suka, ngomong aja gak suka."

Brama memandang Sasha dengan pandangan tak bisa diartikan. Seolah gadis itu bisa membaca apa yang ada di dalam hatinya. Membuat orang lain bahagia adalah hal yang selalu dia lakukan, walau nyatanya dia sendiri tak menginginkannya.

"Iya, Tuan Putri. Cepet masuk rumah sana, besok sekolah."

Sasha mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Tanpa berpamitan pada suaminya, dia langsung masuk ke rumah. Seharusnya dia tak langsung pergi, meminta sedikit pelukan pada suaminya tak apa, kan? Nyatanya dia terlalu takut untuk meminta itu. Takut hatinya masuk terlalu dalam dalam permainan itu, lalu tenggelam dan tak ada yang menolongnya.

Brama masih tersenyum saat mengingat bagaimana reaksi Sasha ketika ada wanita yang memegangnya. Apalagi wanita itu mengatakan bahwa dirinya adalah milik umum sebelum janur kuning melengkung. Memang tak ada janur kuning yang melengkung, tapi mereka telah sah di mata hukum dan agama sebagai suami istri.

Jika Brama tak mengajak istrinya untuk segera pulang, mungkin akan terjadi pertengkaran hebat antar wanita. Apalagi Sasha memang seperti menantang para wanita itu. Gaya bicaranya yang asal nyablak itu mengingatkannya pada saat pertama kali mereka bertemu.

Setelah dilihatnya sang istri masuk rumah, Brama langsung menghidupkan mesin mobil. Melaju meninggalkan rumah Atmaja.

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

"Sha, hari ini praktik renang lho." Diana, teman sebangku Sasha, langsung menyerbu gadis itu di pintu gerbang.

Sasha mengangguk lemah, bukannya tidak tahu jika akan ada praktik renang, tapi Sofia sudah berjanji padanya untuk memberikan nilai. Sayangnya Sasha lupa memberikan buku yang diminta oleh guru olahraga tersebut. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini, tugas sekolah semakin banyak dan waktu belajarnya bertambah.

"Kamu udah siap?" tanya Diana dengan pandangan tak percaya.

"Boro-boro siap, aku tuh takut sama air. Mataku sangat sensitif dan langsung perih kalo bersentuhan dengan air." Sasha menjawab sambil terus berjalan ke kelasnya. "Masih nanti jam pelajaran keempat, kan?"






Diana mengangguk sambil terus mengekor Sasha. Dia memang bukan sahabat dekat, tapi sudah jelas mengkhawatirkan gadis sebangkunya itu. Siapa pun tahu jika Sasha paling lemah dalam pelajaran olahraga.

Teman sekelasnya tak ada yang membenci Sasha, mereka sangat bergantung pada gadis itu. Apalagi saat ulangan tidak pernah pelit memberikan jawabannya untuk disalin secara sembunyi-sembunyi oleh teman-temannya. Jika ada tugas kelompok, mereka akan berlomba mencari perhatian Diana agar dipilih dalam satu kelompok.

Sasha tak pernah banyak bicara, Diana adalah orang yang selalu menjadi tangan kanan gadis itu. Sasha tak pernah menolak siapa yang akan masuk ke dalam kelompoknya jika Diana yang meminta. Walaupun namanya tugas kelompok, tapi Sasha mengerjakannya sendirian. Teman yang ikut dalam kelompoknya hanya ikut nama dan menyumbang untuk membeli bahan ataupun makan Sasha.

Soal makan, selain membawa bekal dari rumah, di laci Sasha selalu ada makanan yang diberikan secara bergilir oleh teman-teman sekelasnya. Tak jarang ada traktiran saat jam istirahat. Bagi Sasha, itu adalah simbiosis mutualisme. Uang saku dan iuran sekolah miliknya tetap utuh.

Tiga jam pelajaran sudah usai. Murid-murid kelas Sasha mulai menuju ruang ganti untuk berganti baju renang. Ini adalah waktu yang tepat untuk para gadis yang bertubuh seksi. Mereka memakai baju renang yang ketat dan menunjukkan lekuk tubuh yang indah. Berbeda dengan Sasha yang hanya mengganti seragamnya dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek setengah paha. Menurutnya, tubuhnya sama sekali tak menarik, seperti triplek. Tak ada yang dibanggakan dari bentuk tubuhnya.

Setelah berganti pakaian, semua berkumpul di pinggir kolam renang untuk melakukan pemanasan. Sofia yang sudah memakai baju renang pun tidak menghiraukan Sasha sama sekali, dia sibuk dengan arahan pemanasan pada murid-murid yang lain. Sasha tidak bisa melakukan pemanasan dengan baik, dia terlalu takut jika mendapatkan nilai jelek.

Beberapa murid lelaki mulai menelan air liurnya saat melihat para bidadari memakai baju renang mulai menceburkan diri ke dalam air. Sofia meminta mereka berenang bebas terlebih dahulu selama sepuluh menit sebelum mulai praktik.

"Paaak. Main air yuuuk!"

Suara ramai mulai masuk dalam gendang telinga Sasha. Satu per satu temannya naik ke atas, kolam renang tak pernah sesepi ini pada sepuluh menit pertama. Sasha tahu siapa penyebab semua itu, suaminya.

"Pak, siapa nih dari kami yang paling seksi." Lima gadis berdiri sambil bergaya memperlihatkan bentuk tubuh mereka.

"Kalian kan tadi Ibu suruh berenang buat pemanasan! Kenapa sekarang malah naik semua? Mau dapat nilai jelek?" Sofia menghardik murid-muridnya. Tubuhnya tak kalah bagus dengan para gadia itu, tapi siapa pun akan langsung tertarik melihat gadis cantik yang mengenakan pakaian renang. Termasuk lelaki di sampingnya.

"Ada apa, Bu? Kenapa meminta saya datang ke kolam renang?" tanya Brama sambil tersenyum saat murid-murid sudah masuk ke dalam kolam renang.

"Eh, anu, Mas. Mungkin Mas Brama ada waktu nanti sepulang sekolah? Kita bisa keluar beberapa jam mungkin?" Sofia mengajukan pertanyaan sambil memperlihatkan bagian tubuhnya yang seksi. "Pastinya akan menjadi hari yang tak terlupakan untuk kita," lanjutnya sambil berbisik.

Brama bukannya tak tahu jika Sofia akan mengajaknya ke suatu tempat istimewa dalam beberapa jam. Itu adalah hal sering dilakukan oleh para wanita yang ingin mengajaknya bercinta. Tak terkecuali dengan Sofia yang kini terlihat menggodanya dengan memperlihatkan bentuk tubuh yang luar biasa seksinya di kolam renang.

Lelaki itu masih normal, dia hanya tersenyum menanggapi. Jelas dia meneguk air liur saat melihat tubuh seksi berkeliaran di sekelilingnya. Ingin meraih dan menikmati tiap jengkal tubuh mereka yang indah. Apalagi jika sampai ada yang menggodanya seperti ini dan akan memberikan hari yang tak bisa dilupakan nantinya.

Sasha mengerucutkan bibirnya tak suka. Suaminya melihat banyak gadis cantik dan digoda oleh guru seksi di depan matanya. Jelas hal itu membuat hatinya memanas walaupun dia hanya berendam di pinggir kolam renang sambil berpegangan pada besi di pinggiran. Benak gadis itu bertanya, apa Brama tidak melihat dirinya juga ada di kolam renang?

Apalagi saat Sasha melihat Brama tersenyum sambil memperhatikan Sofia, jelas hatinya memanas. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan cemburu. Dia hanya tak suka.

Pandangan mata Brama dan Sasha bertemu. Sasha langsung membuang muka, dia sungguh tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Bukankan mereka bukan siapa-siapa saat di sekolah? Ah, mereka memang bukan siapa-siapa, bahkan pernikahan pun hanya di atas kertas. Bodohnya.

Sasha menenggalamkan seluruh tubuh sampai dengan kepalanya ke dalam air. Dia masih waras, tak mungkin berharap lebih pada lelaki yang jelas-jelas selalu menebar pesona di mana pun dia berada. Tebar pesona? Mungkin memang dia terlalu memesona, bahkan tanpa perlu mempromosikan diri dan menebar pesonanya.

Tiba-tiba betis kaki Sasha terasa sakit. Sasha reflek melepas pegangan tangannya pada besi, dia memegang betisnya. Tak lama, dia menyadari bahwa tubuhnya makin ke dasar kolam renang dengan kedalaman dua meter itu. Tubuhnya menegang menahan sakit karena kram di betisnya, dia tak bisa naik ke permukaan. Dia tak bisa bernapas, air sudah masuk memenuhi tenggorokannya.

Sasha menahan kram dan juga perih yang menyapa matanya. "Tolong, tolongin aku. Bu Sofia, teman-teman, tolongin aku. Kak Brama, tolongin aku, Kak," batin Sasha sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’
🌼🌼🌼🌼🌼

Dag dig dug. Duh Dik Sashaaa, kalo mau berenang itu pemanasan yang bener, biar kakinya gak kram. 😭😭😭

Ditunggu komentarnya yaaa. Langsung di kolom komentar aja. Kalo ada typo, langsung konfirmasi aja. :) Part selanjutnya nunggu ada 20 komentar dulu, ya? Cepet kan? Yuk komentar biar part selanjutnya bisa tayang besok. Share juga linknya di sosial mediamu, ya. Ada di pojok atas sebelah kanan. 

Salam sayang buat pembaca, Anisa AE. πŸ₯°πŸ₯°






Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v






Anisa AE (Suami Rahasia) - Sasha menarik napas panjang saat Brama mengajaknya ke taman belakang rumah. Tak jauh berbeda dengan taman belakang miliknya, ada gazebo kecil dengan kolam ikan. Bedanya, kolam ikan di rumahnya Brama mengelilingi gazebo, biasanya dibuat juga untuk terapi kesehatan dengan ikan. Ada banyak pepohonan rindang yang membuat taman itu terasa sangat sejuk.

Sasha membenamkan kakinya sampai mata kaki di dalam kolam. Pun dengan Brama. Ikan-ikan kecil yang tadinya berpencar, mulai berkumpul di bawah kaki mereka, terasa geli.

Mereka masih diam tanpa kata, masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri. Berharap ada yang memulai dengan pertanyaan kecil. Sementara Widya dan Viona membuat camilan dan memasak bersama di dapur, menyiapkan makanan untuk suami mereka nanti. Mereka sudah janjian akan makan malam di rumah Brama.

Sasha menarik napas panjang. Kesanggupan perjanjian sebelum menikah yang dikatakan oleh Brama membuat hatinya tak kuasa berpaling dari sosok yang kini tengah duduk di sampingnya. Matanya mulai melirik lengan lelaki yang menggunakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan celana training panjang dengan merk Adidas berwarna abu-abu. Terlihat otot berwarna biru menyembul dari balik kulit lelaki itu. Lengan itu terlihat sangat kokoh untuk sekadar dijadikan bantal. Sasha pun menelan salivanya dengan susah payah.

"Mau ngelirik sampai kapan?" tanya Brama tiba-tiba saat melihat Sasha. Jengah dilihat seperti itu oleh gadis di sampingnya.

"Eh?" Wajah Sasha bersemu merah, sudah seperti tomat matang. Dia membetulkan kacamatanya yang melorot dengan salah tingkah. Bagai kucing kecil yang hanya bisa menelan air liur saat melihat ikan emas di depan mata.

"Sejak kapan pake kacamata?" tanya Brama sambil terus memandang Sasha.

"Sejak SD sebenarnya. Tapi dari dulu pake lensa kontak." Sasha menjawab tanpa melihat Brama.

"Kamu tadi kenapa pergi saat aku tawarin makan di kantin?" tanya Brama lagi.

"Satu jam pelajaran udah habis. Sebenarnya tadi aku dihukum gak boleh masuk gara-gara telat," jelas Sasha, tetap tanpa melihat ke arah Brama.

"Bukan karena aku nraktir murid-murid cantik itu, kan?"

Sasha melengos. Kali ini tak tahu harus menjawab apa. Apalagi mengingat bagaimana Brama melancarkan kata-kata yang membuat tiap wanita pasti klepek-klepek.

"Gak lah. Kak Brama bebas mau nraktir siapa aja. Mau ngrayu wanita mana aja juga bebas, pake banget. Itu kan hak Kak Brama." Sasha mulai melihat ke arah lelaki di sampingnya, tak ingin terlihat jika dia cemburu.

Cemburu? Wajah Sasha memerah saat menyadari hal itu. Cemburu pada lelaki yang baru dikenalnya? Ralat, cemburu pada calon suaminya. Bolehkah? Apa itu dilarang. Sasha bahkan tak menyadari sejak kapan jadi menyukai lelaki itu. Pesona lelaki itu memang tak bisa dihindari begitu saja. Sangat pantas jika hampir seluruh siswi di sekolahnya tertarik dengan Brama.

Brama tertawa tanpa suara. Terlihat giginya yang tertata rapi dengan rahang kokoh yang sempurna. Ada sedikit lesung pipi di wajahnya. "Kamu kenapa judes gitu sih?"

"Judes? Yang judes duluan kan kamu! Ingat pas kedua kali kita ketemu? Sok banget ngelempar spidol ke dahiku. Sakit tau?" Sasha merengut sambil memajukan bibirnya.

"Kamu juga sih yang bilang sombong saat pertemuan pertama."

"Eh? Kamu dengar?"

"Ya kan aku gak tuli."

"Habis kamu sih, habis tanya langsung pergi. Ngucapin terima kasih gitu kek. Sopan dikit." Sasha tetap pada pendiriannya bahwa dia tak salah.

"Oke-oke, aku yang salah."

"Kamu jahat tau? Ngelempar spidol dua kali di dahi yang sama. Ini dahi, bukan ring basket. Sakitnya terasa banget, sampe di hati." Sasha berkata sambil memegang dadanya. Mengingat hari kedua mereka bertemu, membuat mata Sasha memerah. Saat itu sebenarnya dia ingin menangis, tapi ditahannya.

"Dahinya masih sakit?" tanya Brama merasa bersalah. Dia yakin jika lemparannya pasti terasa sakit. Sebagai orang yang suka bermain basket, sangat mudah melempar spidol itu tepat di dahinya.

"Bukan dahinya kalo sekarang."

"Terus? Hatinya yang sakit?" tanya Brama sambil tersenyum.

"Ya ampun! Kamu jadi lelaki angkuh banget sih. Emang kamu gak belajar gimana bilang maaf? Susah banget ya bilang maaf sama orang lain? Susah ya bilang makasih? Dua kata itu emang keliatan sepele banget, tapi bermakna buat orang lain!" Sasha tak habis pikir dengan lelaki itu. Bisa-bisanya mau melancarkan rayuan gombal yang biasanya diucapkan untuk para wanita di luar sana.

Brama tersenyum kuda, lalu mengalihkan pandangannya dari Sasha. Dia terdiam beberapa saat. Apa memang dia terlalu angkuh untuk sekadar meminta maaf dan berkata terima kasih? Dua kata itu memang jarang diucapkannya. Dia lebih banyak menerima kata itu dari orang lain.

"Udah, aku mau ke dapur! Percuma juga di sini kalo temen ngobrolnya kamu. Sama sekali gak enak, bikin eneg." Sasha mulai mengangkat kakinya dari kolam, dia berdiri dengan cepat.

Namun, sebelum sempat kaki gadis itu melangkah, Brama sudah menahannya. "Duduk!"

"Kamu itu gak bisa ya bilang tolong? Benar-benar deh!" Sasha jengah. Dia tetap berdiri dan akan melangkah keluar gazebo.

Dengan cepat, tangan Brama menahannya dan menarik tubuh kecil Sasha agar duduk. Sasha kehilangan keseimbangan mendapat tarikan kuat dari lelaki itu, dia langsung roboh dan menimpa tubuh Brama. Tubuh Sasha tepat berada di pelukan calon suaminya, membuat gadis itu memerah dan diam saja, tak tahu harus berbuat apa.

Pandangan mata Sasha bersirobok dengan mata Brama. Pipi Sasha langsung bersemu merah saat menyadari wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajah lelaki itu. Sangat dekat, bahkan bisa dirasakannya napas lelaki yang kini menyangga tubuhnya. Keringat dingin mulai membanjiri seragam yang dia kenakan. Dia belum pernah sedekat ini dengan lelaki.

"Puas mandangin aku seperti itu? Wajahmu udah seperti tomat masak yang digoreng pake teflon." Brama akhirnya tersenyum, tapi tidak melepas pelukannya.






Sasha langsung melepas pelukan Brama, duduk di samping lelaki itu sambil memalingkan muka. "Bukan aku lho yang mau meluk kamu! Kamu aja yang cari kesempatan buat meluk aku."

Brama tertawa lagi. Mencari kesempatan? Benar-benar deh, lelaki itu tak tahu bagaimana jalan pikiran Sasha. Apa memang seorang kutu buku itu punya perbendaharaan kata yang luar biasa banyak, sehingga ada saja yang dikatakannya untuk membuat Brama tak bisa berkata-kata.

"Udah, kamu gak usah bawel. Duduk di sini temani aku. Jangan pergi ke dapur, nanti masakan Mama jadi berbeda rasanya kalo dimasak oleh tangan yang berbeda." Akhirnya Brama bersuara setelah terdiam beberapa lama.

"Kamu bilang aku gak bisa masak?" tanya Sasha dengan mata yang mulai melebar.

Brama menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah lagi deh apa yang dikatakannya. Apa sebaiknya dia diam saja? Namun, kalau diam, tak akan ada yang akan memulai pembicaraan di antara mereka.

Mata lelaki itu menyipit saat melihat sebuah makhluk berbulu yang bergerak di pundak Sasha. Dia pun refleks memegang pundak gadis itu, berniat akan menyingkirkan makhluk itu dari sana.

Sasha yang merasa Brama mendekat, langsung menjauhkan tubuhnya. "Jangan cari-cari kesempatan, ya?"

"Diem, atau kamu bakal gatal-gatal kena ulat bulu. Tunggu di sini, aku cari ranting dulu," kata Brama sambil menunjuk pundak gadis itu.

Sasha terkejut, dengan cepat dia menutup matanya. Dia merasakan geli di sekujur tubuhnya. Dia memang suka kupu-kupu, juga tak benci dengan ulat bulu. Namun, saat makhluk kecil berbulu itu ada di tubuhnya, entah bagaimana bisa sekujur tubuhnya merasa geli secara otomatis. Sampai rasa geli itu hilang saat sesuatu sudah menyentuh pundaknya.

Sasha membuka matanya perlahan, memperhatikan ulat yang menggeliat pelan di atas ranting yang tengah dipegang oleh Brama.

"Makasih, ya?" ucap Sasha sambil menghirup napas panjang dengan lega. Tubuhnya sudah kembali normal.

Brama tersenyum, lalu melempar ranting itu menjauh, ke rumput yang mengelilingi gazebo.

"Kamu lucu ya kalo ditempelin ulat?" kata Brama sambil tersenyum dan hendak memegang pundak Sasha lagi.

"Eits! Jangan pegang-pegang. Aku gak mau tangan kamu yang biasanya pegang perempuan itu juga pegang aku!" Lagi-lagi Sasha menjauh.

Kali ini Brama tergelak dengan sangat keras. "Eh, tanganku belum pernah pegang cewek lho. Kalo mereka yang pegangin aku sih, itu tiap hari. Kalo aku yang pegangin mereka, gak pernah. Kecuali kalo emang mendadak banget dan gak bisa dihindari."

Sasha membuka mulutnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya. Tak pernah memegang cewek? Rayuan apalagi yang akan dia lontarkan? Tadi di sekolah bilang gak punya pacar, sekarang gak pernah pegang cewek. Sasha menggelengkan kepala dengan pelan.

"Kata Mama, hargai wanita dengan tak memegang mereka secara asal, kecuali memang dibutuhkan. Gak semua wanita suka dipegang-pegang," kata Brama sambil tersenyum.

"Lha itu tadi? Napa mau pegang aku? Napa narik tanganku juga?"

"Gak boleh ya sama calon istri sendiri?" kata Brama yang membuat pipi Sasha bersemu merah.

"Terus? Kenapa selalu ngrayu gadis-gadis di sekolah? Kenapa cium tangan Bu Sofia saat pertama kali bertemu?"

"Hm? Kamu memata-matai aku?"

"Itu udah jadi rahasia umum kales. Banyak yang bilang kamu pacaran sama Bu Sofia."

Brama tergelak lagi, "kecuali memang dibutuhkan. Wanita itu suka dirayu dan ditinggikan. Ya gak salah dong?"

"Apa? Jelas-jelas itu salah! Itu artinya kamu ngasih harapan sama Bu Sofia. Pake ngrayu murid-murid wanita juga."

"Oh, ada yang mulai cemburu nih?"

"Bodo! Gak boleh ya sama calon suami sendiri?" Sasha berkata cuek sambil membuang muka.

Skak mat. Brama tersenyum, lalu mengusap kepala Sasha pelan. Gadis itu memang tak pernah bisa dikalahkan dengan ucapan.

Entah sudah berapa kali Brama membuat wajah Sasha memerah. Bisa-bisa kulit wajahnya berganti menjadi berwarna merah jika terus-menerus berada di samping lelaki itu. Ingin rasanya dia menghilang, pulang ke rumah, masuk kamar, lalu menelungkupkan kepalanya di atas bantal.

"Ya udah, kamu mandi. Aku carikan kaus buat ganti. Nanti kamu bisa gatal-gatal kalo sampe gak mandi. Apalagi seragammu kena." Brama beranjak dari duduknya, lalu mengangsurkan tangan, membantu Sasha berdiri.

Sasha menyambut tangan besar Brama. Mereka menuruni tangga, dengan berpegangan tangan, menuju ke dalam rumah.

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’






Bayangin Dik Sasha sama Mas Brama lagi berduaan. Aih, Author jadi pingin ada di sana juga. Ada yang mau ikutan ngintip mereka? 🀣🀣

Maafin kalo masih banyak typo, nulis di hape penuh perjuangan πŸ˜….

Salam sayang buat pembaca. πŸ₯°πŸ₯°

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v

Anisa AE - Mobil berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa klasik yang didominasi dengan warna putih. Sangat kontras dengan warna mobil milik Brama yang merah menyala. Rumah yang ukurannya dua kali dari rumahnya itu memiliki halaman yang sangat luas. Dikelilingi oleh rumput yang tertata rapi dengan beberapa tumbuhan hias setinggi tubuhnya. Ada jalan beraspal menuju ke pintu utama.

"Kamu mau duduk di situ terus?" tanya Brama tanpa memandang Sasha.

Sasha pun mulai bergerak ke arah pintu, dibukanya pintu mobil, tapi tak bergerak sama sekali. Sasha pun melipat tangannya di atas dada sambil melirik ke arah Brama yang tersenyum kecil.

"Bilang apa?" tanya Brama sambil menoleh ke belakang.

Sasha tetap tak bersuara, dia malah mengeluarkan lidahnya, mengejek calon suaminya.

"Cih dasar bocah!" Brama bersungut-sungut, lalu membuka kunci mobilnya.

Tanpa senyum, Sasha langsung keluar, meninggalkan kursi penumpang. Dia menuju pintu utama yang telah terbuka. Apalagi di dekat pintu sudah ada mobil ibunya yang terparkir dengan manis.

"Selamat siang," ucap Sasha sebelum masuk ke rumah itu.

Beberapa orang di ruangan itu menoleh. Mereka tersenyum saat melihat Sasha masuk yang di belakangnya diikuti oleh Brama. Sasha pun langsung menuju ke arah dua orang yang sudah menunggunya, Widya dan Viona. Tanpa menunggu lama, Sasha mencium tangan kanan kedua orang itu.

Brama tertegun di tempatnya, dia sudah lama tak mencium tangan sang mama. Mereka lebih sering berpelukan dan mencium pipi. Tanpa diberi aba-aba, Brama mengikuti apa yang dilakukan oleh Sasha. Hal itu jelas membuat mamanya terkejut.

"Brama? Kok tumben nyium tangan Mama? Udah ketularan Sasha?" tanya Viona tak percaya.

Brama tersenyum malu, "refleks aja ngikutin apa yang dilakukan anak itu."

"Kok anak sih? Dia calon istri kamu lho," tegur Viona.

"Sasha kan masih anak-anak, Ma. Dia baru tujuh belas tahun!" Brama tak mau disalahkan.

"Eh, umur tujuh belas tahun itu udah boleh nikah lho. Bukan anak-anak lagi." Widya menimpali ucapan Brama dengan wajah yang tidak mengenakkan mendengar putri kesayangannya dibilang anak-anak.

"Iya, Tante Cantik, dia bukan anak-anak. Oke, Brama nyerah deh. Wanita selalu benar. Tante jangan pasang muka gitu, nanti cantiknya ilang." Brama mulai melancarkan aksinya sambil mengerlingkan sebelah matanya.

"Sana mandi dan ganti baju. Bau asem. Setelah itu ke bawah, kita makan siang dulu," ucap Viona sambil menutup hidungnya dengan sebelah kanan.

Otomatis Brama mencium ketiaknya sebelah kanan. Mencari bau asam yang dikatakan oleh mamanya. "Mama bohong ih, Brama wangi gini kok dibilang bau asem sih?"

"Pokoknya kamu mandi!"

"Kok Brama aja? Sasha juga dong! Dia malah keliatan kucel banget tuh. Liat aja kacamata dan rambutnya yang dikepang dua."

"Bramaaa!"

"Oke, oke." Brama pergi menuju lantai atas, mengerti jika sang mama sudah tak bisa diajak negosiasi sama sekali.

Viona menggelengkan kepalanya pelan, memang sifat sang putra seperti itu. Keras kepala dan mau menang sendiri. Dia tak ingin kehilangan muka di depan calon besan jika sampai putranya itu tidak menurut padanya. Padahal niatnya agar Brama bisa tampil lebih optimal saat menemui calon mertuanya.

Sasha diam di tempatnya memperhatikan ibu dan anak itu bercengkerama. Memang terlihat tak ada yang istimewa, tapi melihat Brama mencium ketiaknya sendiri, menjadi sebuah adegan yang sangat lucu untuknya.

"Sasha memang begini ya kalo sekolah?" tanya Viona saat melihat Sasha.

"Iya, Tante."






"Wah bersyukur banget Brama bisa liat kamu pas cantik di rumah. Kalo di sekolah, kamu bakal gak digangguin sama cowok-cowok di sana, kan?" Viona mengacungkan dua jempolnya.

Sasha tersenyum kecil. Tak menyangka bahwa pemikiran calon ibu mertua dan ayahnya hampir sama. Hm, saya dengan pemikirannya juga. Sepertinya Sasha bakal cocok dengan calon ibu mertuanya itu.

Gadis itu hanya diam saat melihat dua wanita yang diseganinya itu mulai membahas tentang undangan pernikahan dan resepsi yang akan mereka lakukan. Tak lupa gaun pernikahan yang akan dikenakan Sasha nanti. Tak hanya gaun, bahkan sampai pada dekorasi tempat, makanan yang akan disajikan, dan lain sebagainya. Semua terdengar sangat mewah.

"Em, anu Ma, Tante. Sasha punya permintaan." Akhirnya gadis itu membuka suara saat kedua wanita itu melihat-lihat gaun pernikahan.

"Iya, Sayang? Ada apa?"

"Sasha mau ada perjanjian pra-nikah sebelum kami menikah." Sasha memberanikan diri mengungkapkan hal yang mengganjal hatinya.

"Hah? Kenapa pakai perjanjian segala sih, Sayang? Bukannya kalo kalian udah nikah nanti, maka milik Brama juga milik kamu juga?" tanya Viona tak mengerti.

Widya pun mengernyitkan kening, bingung dengan apa yang dikatakan oleh putrinya. Rasanya tak pantas jika ada perjanjian pra-nikah sebelum pernikahan itu terjadi. Seolah-olah itu hanya pernikahan main-main.

"Bukan gitu maksudnya, Tante. Sasha sama sekali tidak ada niat melakukan perjanjian pra-nikah soal harta." Sasha berusaha meluruskan permintaannya. Dia tak ingin kedua orang itu salah paham.

"Ya udah, lanjutin. Apa yang kamu pingin?" tanya Viona sambil tersenyum.

Sasha menarik napas panjang, bersiap memberi penjelasan. "Pertama, pernikahan ini harus dirahasiakan dari siapa pun. Hanya keluarga saja, sampai Sasha lulus SMA. Tujuannya adalah agar kami tidak menjadi bahan gosip di sekolah. Pastinya Kak Brama juga tak ingin karirnya terganggu. Kedua, antara Sasha dengan Kak Brama harus seolah sama sekali tidak pernah punya hubungan khusus saat di sekolah. Jadi, hubungan antara guru dan murid pasti akan terjaga. Yang ketiga dan yang terakhir, Sasha tidak ingin tinggal satu kamar dengan Kak Brama. Sasha masih kecil dan belum siap jika harus melakukan 'itu' dengan Kak Brama."

Viona dan Widya tertawa mendengar penjelasan Sasha. Sungguh tak menyangka bahwa apa yang diprediksikan oleh Atmaja akan terjadi. Atmaja bahkan sudah membicarakan tentang perjanjian pra-nikah itu, sebelum mulai mempertemukan Sasha dan Brama.

"Terus, kenapa belum siap melakukan itu? Memangnya, itu itu apa?" tanya Viona menggoda, seolah tak mengerti.

"Anu Tante. Sasha gak mau hamil saat masih sekolah. Bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah." Sasha menjawab sambil tersenyum.

Widya dan Viona tertawa lagi. Sasha benar-benar polos dan mengatakan apa adanya.

"Kan bisa KB?" ujar Widya sambil memandang putrinya.

"Buuu, Sasha belum siap kalo harus ngelakuin itu sama orang yang belum Sasha suka." Sasha mulai merajuk.

"Trisno iku jalaran soko kulino, lho, Nduk," timpal ibunya sambil tersenyum.

"Kalo gak disetujui, Sasha gak mau nikah cepat-cepat. Nanti aja setelah lulus sekolah." Sasha pun melancarkan jurus terakhirnya.

Lagi-lagi dua wanita itu tertawa. Sifat Atmaja memang menurun pada putrinya, tanpa ada perbedaan sama sekali. Pantas saja jika Atmaja sudah mewanti-wanti sejak dahulu.

"Buuu, Tanteee. Kok malah tertawa sih?" Sasha mengerucutkan bibirnya, air matanya hampir saja meleleh. Merasa dipermainkan oleh dua orang di depannya.

Sebenarnya Sasha takut. Dia takut jika suatu saat Brama meninggalkannya setelah mereka berhubungan layaknya suami istri. Lalu, tiba-tiba saja dia menjadi janda di usia yang masih sangat muda. Tak ada yang bercita-cita menjadi janda, sama sekali tak ada.

Tiap wanita pasti menginginkan pernikahan yang indah, berbunga, dan bisa sehidup semati dengan pasangannya. Namun, saat melihat sikap Brama di sekolah yang selalu menggoda gadis-gadis cantik, membuat Sasha harus berpikir dua kali lipat. Apa Brama bisa mencintainya? Apa lelaki itu bisa menjadi suami yang baik untuknya?

"Iya-iya, kami setuju dengan syarat kamu. Tapi gak tau dengan Brama, dia mau apa gak." Viona berkata sambil tersenyum. Pancingannya hari ini membuahkan hasil. Sebenarnya, tak ada rencana sama sekali untuk melaksanakan pernikahan dan resepsi yang meriah.

"Brama mau kok," ucap Brama dari bawah tangga. Dia sudah ada di sana sejak pertama Sasha mengajukan permintaan. Dia hanya diam sambil mendengarkan, tak ingin menyela sama sekali. Ingin tahu bagaimana Sasha saat mengutarakan keinginannya.

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’






Alhamdulillah part ini sudah selesai. Maafin ya kalo ada typo atau ada yang kelewat.

Jangan lupa komentar dan share cerita ini ya? Sangat berarti buat kelanjutan cerita ini lho.

Salam sayang buat pembaca. πŸ₯°πŸ₯° Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v


Serunya Film Mahasiswi Baru - Hiburan Segar untuk Keluarga - Tahun pelajaran baru nih, disambut dengan kampus yang baru juga dong. Nah, saat ini saya juga menjadi seorang mahasiswi baru lho. Kebetulan saya kuliah di Universitas Terbuka, Malang. Walau sudah 30 tahun, saya masih semangat buat kuliah lho.

Nah, sekarang, apa sih yang ada di pikiran kalian  ketika mendengar kata mahasiswi baru? Pasti yang ada di pikiran kalian adalah orang yang masih muda, cantik dan gaul. Iya nggak? Tapi kalau mahasiswinya nggak sesuai dengan yang kalian pikirkan gimana? Seperti saya misalnya. Hihihi.

Coba deh bayangkan kalau teman kampus kamu adalah usianya jauh di atas kamu? Kayaknya nggak mungkin nih, ya? Tapi, nyatanya saya sekarang juga menjadi mahasiswi baru lho. Namun, kalian bisa menjumpai seseorang yang tua, bisa dibilang sudah nenek-nenek di film lho. Gimana bukan nenek-nenek kalau usianya sudah 70 tahun? Film apa sih ini?

Nah, di bulan mendatang tepatnya bulan Agustus ada film yang tayang dengan genre komedi. Film ini berjudul Mahasiswi Baru. Film ini adalah film garapan Monty Tiwa yang dikemas dengan sangat unik. Karena di dalam film ini menceritakan tentang sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi baru yang mempunyai usia yang berbeda-beda.

Salah satu yang membuat film ini menarik adalah mahasiswinya yang berusia cukup tua. Mahasiswi ini bernama Lastri yang diperankan oleh Widyawati. Selain itu, ada beberapa artis papan atas yang juga ikut meramaikan film ini. Misalnya saja, ada Morgan Oey, Umay, Mikha Tambayong, Slamet Rahardjo, dan Slamet Rahardjo.



Lastri ikut gank mahasiswa dan tawuran, sampai anak perempuannya yang diperankan oleh Karina geregeten. Gimana gak geregeten, emaknya ikut tawuran uy. Wkwkwk. Belum lagi saat teman-temannya Lastri hanya manggil Lastri pada ibunya.

Pertama kali lihat trailernya, udah bikin saya dan suami ngakak abis lho. Apalagi pas Widyawati ngomong, "Yooaaa Braaay." Pas akhir trailer, saat para mahasiswa mau kabur dari kelas juga bikin ngakak. Gimana gak ngakak, mereka lupa kalau itu kelasnya ada di lantai tiga, dan mereka mau kabur lewat jendela. Bayanginnya duh pasti lucu banget ya.

Buat yang mau liat keseruan film ini, bisa tungguin tayang di bioskop pada tanggal 8 Agustus nanti lho. Jangan sampai gak liat lho. Soalnya nanti bakal nyesel banget karena film ini cocok ditonton bareng keluarga. Kenapa? Karena dengan menonton film keluarga ini, bisa mendekatkan kita lho. Belum lagi buat yang sudah punya anak remaja dan jarang kumpul, bisa banget lho diajakin.

Buat yang kepo sama trailer Film Mahasiswi Baru ini, bisa langsung lihat di vidio di bawah ya. Awas, kalo ketawa jangan keras-keras. Hihihihi. Mau ketawa makin keras? Langsung aja nonton di bioskop nanti kalo udah tayang, ya?


Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v






Anisa AE - Sasha kali ini tidak mengambil bekal di kelas. Sebenarnya setiap hari, ibunya selalu membuatkan bekal untuk makan siang. Biasanya Sasha memakannya pada jam istirahat kedua. Jam istirahat pertama digunakannya untuk meminjam di perpustakaan, nantinya di jam kedua, dia akan makan sambil membaca novel. Setelah selesai makan, dia mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru, juga mengerjakan PR. Novelnya dilanjutkan dibaca di rumah, setelah mengulang pelajaran terakhir.

Langkah kecilnya menuju kantin, diambilnya satu roti dan satu gelas air mineralppp, lalu memasukkan uang di kotak. Di sini ada kantin kejujuran. Di mana tiap kue ada label harganya. Para murid tinggal ambil kue dan membayarnya, memasukkan pada kotak yang tersedia. Namun, untuk makanan berat ada penjualnya sendiri. Misalnya bakso dan mie ayam. Tak jarang murid-murid melebihkan uang pembayaran, walau masih ada juga yang malah mengambil tanpa membayar.

Setelah mengambil tempat duduk di pojok taman, Sasha menikmati rotinya dengan membaca novel. Taman terletak tak jauh dari kantin, seumpama ingin makan berat, dia bisa dengan mudah berjalan ke san. Setelah membaca beberapa halaman, serta makanan yang dia beli habis, sampai telinganya mendengar murid-murid di kantin ramai.

"Huuu Bu Sofia curang!" teriak salah satu siswi yang bisa ditangkap oleh telinganya.

Kepala Sasha mendongak. Dilihatnya para murid yang tidak masuk kelas bergerombol di kantin membantuk lingkaran. Penasaran, Sasha menutup novelnya. Dibawanya novel itu dan juga bungkus makanan dan air mineral. Dibuangnya sampah di tempatnya, lalu menuju kerumunan.

Tanpa bertanya, Sasha melihat ke dalam kerumuman, dia membetulkan kacamatanya, memastikan pandangannya. Dilihatnya Brama tersenyum sambil memandang Sofia, sementara wanita itu menjelaskan pada murid-muridnya.

"Bu, ikut gabung juga dong."

"Kalian kan udah gabung!" kata Sofia sambil mengibaskan rambutnya.

"Yaelah Bu Sofia. Kita satu meja aja ya makannya?"

"Jangan satu meja, nanti saya jadi kenyang, tak jadi makan," kata Brama sambil tersenyum menggoda.

"Huuuu Pak Brama! Emang pingin berduaan dengan Bu Sofia, ya?"

"Hancur hati adek, Bang! Kamu hancurkan dalam sekejap mata!"

"Hush hus pergi sana! Kalian gak masuk kelas?" Sofia menghalau murid-murid centilnya.

"Pak Brama, jawab dong pertanyaannya. Emang Pak Brama pingin berduaan sama Bu Sofia?"

"Iya nih Pak Brama! Gak asik ih!"

Brama tersenyum manis, "Kalian boleh kok duduk di sini. Tapi apa kalian tega sama saya? Saya jadi gak bisa makan lho. Karena liat kalian aja, rasanya sudah kenyang. Nanti malah salah masukin gula dan garam karena gak fokus liat wajah kalian yang cantik."

"Waaaa!!!" teriak murid-murid berbarengan.

"Nah kan Pak Brama bukan milik Bu Sofia. Jadi, kami bisa gabung dong! Yeeey!" Murid-murid tadi langsung duduk bersama di meja Brama dan Sofia.

"Masih ada kesempatan dong buat jadi pacar Pak Brama?"

Brama tersenyum, tidak menggeleng maupun mengangguk. Dia hanya tersenyum sambil memainkan alis dan bola matanya, terlihat tampan.

"Pak Brama udah punya pacar apa belum sih?"

"Belum. Gak ada yang mau sama Bapak."

"Bohooong! Bapak cakep juga. Apa jangan-jangan Bapak maunya yang cantik pake banget? Bisa milih lho, Pak. Di sini anaknya cantik-cantik, seksi lagi!"

"Kalian jangan godain guru! Guru sama murid gak boleh pacaran!" Sofia jengah mendengar pertanyaan murid-muridnya. Baru kali ini para siswi terlihat sangat kecentilan pada guru mereka. Biasanya mereka centil pada kakak kelas, ketua basket, atau murid tampan lainnya.

"Kalo sekolah gak tau, kan gak apa-apa, Bu."

"Iya nih, Bu Sofia sirik banget."

"Tuh mi ayamnya udah datang. Kalian mau sekalian pesan juga? Saya yang bayarin." Brama berkata sambil melihat ke arah penjual yang membawa dua mangkuk mi, untuknya dan Sofia.

"Wih, Pak Brama selain cakep, baik hati dan gak pelit, ya? Makin suka deh sama bapak!"

Brama tersenyum saat para siswi mulai menuju ke arah penjual untuk memesan makanan favorit mereka. Pandangannya langsung terpaku pada Sasha yang melihatnya tanpa berkedip. Sasha sudah ada di sana sejak tadi.

"Kamu mau makan juga? Pesan aja di kantin, nanti saya yang bayar," kata Brama pada Sasha yang tak dijawab sama sekali.






Sasha berbalik, pergi meninggalkan kantin. Jam pelajaran pertama akan berakhir. Dia harus masuk kelas untuk mengikuti ulangan yang tinggal satu jam pelajaran.

"Dasar lelaki playboy. Semua digombalin! Hadeh, pake ngaku gak punya pacar juga!" Sasha bersungut-sungut di perjalanan menuju kelasnya.

"Belum. Gak ada yang mau sama Bapak. Hadeh, ucapan apaan tuh? Iyalah gak ada yang mau, judes gitu. Bisa mati kaku pacaran ma dia." Sasha masih saja bersungut.

"Pesen aja di kantin, nanti aku yang bayar. Idih. Gak usah dibayarin juga aku bakal beli sendiri. Kaya' aku gak punya duit aja buat beli di kantin. Dia itu sok banget jadi guru baru. Mentang-mentang disukai murid-nurid!" Sasha tak berhenti berkata sampai dia berada di depan kelasnya.

Guru langsung memberikan soal saat gadis itu masuk. "Kurang satu jam pelajaran, cepat kerjain."

Sasha mengangguk, "Terima kasih, Pak."

Tak menunggu lama, saat guru berkata jika jawaban harus dikumpulkan, Sasha sudah berdiri, ikut mengumpulkan. Tiga puluh soal sudah dikerjakannya dalam satu jam pelajaran.

"Lain kali jangan ketinggalan masuk saat jam mata pelajaran saya. Jika guru lain bisa memberikan toleransi, saya tidak!"

"Iya, Pak." Sasha mengangguk lagi, lalu kembali ke tempat duduknya.

"Ini berlaku untuk siapa pun. Tidak hanya Sasha. Saya tak ingin ada yang telat. Tepat waktu adalah satu hal yang perlu dilakukan oleh tiap muslim. Tepat waktu dalam segala hal, khususnya dalam beribadah. Kalian paham?"

"Iya, Pak!"

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

Sasha melihat jam tangannya, dia menunggu di terminal. Biasanya sopir tak pernah telat menjemput, bahkan selalu menunggu lebih dulu. Dia duduk di samping penjual es degan langganannya. Sudah segelas es degan sudah tandas dan berpindah ke dalam perutnya.

"Belum dijemput juga, Non?" tanya penjual es sambil mengibaskan topinya.

"Belum, Pak. Biasanya juga nunggu di sini, kok lama, ya?"

"Coba ditelpon, Non."

Sasha menepuk keningnya sambil tertawa. "Oh iya-ya, kenapa gak kepikiran buat telepon, ya?"

Sasha mengeluarkan ponselnya, menghubungi ibunya. "Bu, kok Pak Sopir belum jemput Sasha?"

"Lho? Kamu kan pulang bareng Brama?"

"Siapa yang bilang? Sasha nunggu di terminal sendirian nih!" Sasha menyandarkan kepalanya di tembok. Sungguh jengkel rasanya telah menunggu sekian lama.

"Ini Ibu sama Pak Sopir lagi di rumahnya Brama. Tadi, Mama Brama udah telepon ke Brama buat barengin kamu pulang ke sini." Suara Widya mulai membuat Sasha mengerucutkan bibir.

"Brama gak ngomong apa-apa tuh sama Sasha! Mungkin malah udah pulang dari tadi. Ya udah Sasha pulang sendiri aja naik ojek." Nada suara Sasha terdengar marah.

"Ini Brama belum pulang kok. Ya udah gak usah ngambek. Kamu naik ojek aja, langsung ke rumah Brama, ya? Mama kasih alamatnya di WhatsApp."

Sasha menutup teleponnya, lalu menunggu pesan WhatsApp dari ibunya. Benar saja sopir tidak menjemput, mereka semua ternyata telah berkumpul di keluarga Brama.

Tin tin. Sebuah mobil merah menyala sudah berhenti di depan penjual es degan sebelum Sasha sempat membuka aplikasi. Sasha menoleh, dilihatnya kaca mobil terbuka dan Brama melihatnya.

"Masuk!" Satu kata yang diucapkan lelaki itu.

Dengan wajah ditekuk, Sasha membayar esnya, lalu menuju mobil. Dia membuka pintu mobil penumpang di belakang, lalu meletakkan punggungnya di sandaran. Tak ada keinginannya untuk duduk di samping Brama. Duduk di samping lelaki menyebalkan yang sudah membuatnya menunggu terlalu lama.

Brama menatap Sasha dari kaca spion tengah mobil di depannya. Gadis itu memalingkan muka sambil membetulkan letak kacamatanya. Mobil melaju tanpa ada pembicaraan di antara mereka.

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’






Alhamdulillah sudah part ini.

Brama nyebelin banget, ya? Seperti Kutub Utara, dingin uy sama Sasha. Mau dibawa ke mana lanjutan cerita ini?
Buat teman-teman yang tidak punya Instagram, bisa berteman dengan saya di Facebook juga lho.

Link akun :
🏡️https://facebook.com/AnisaAeKepompong dengan nama FB : Khoirun Nisa.
🏡️ Instagram : @anisa.ae dan @anisabooks
🏡️ Twitter : @anis_sa_ae
🏡️ Web : anisae.com

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v







Anisa AE - Kota Malang memang mempunyai banyak tempat wisata yang bisa kalian kunjungi. Untuk kategori wisatanya juga banyak banget lho. Mulai dari wisata alam, wisata modern, wisata edukasi hingga wisata yang ramah anak juga ada di kota ini. Jika kalian tertarik untuk datang ke Kota Malang dan kamu sedang lagi ada di Jakarta kalian nggak perlu khawatir nih. Karena ada banyak cara untuk kalian bisa datang ke Kota Malang ini. Kalian bisa naik pesawat, mobil pribadi ataupun naik kereta api. Kalau saya lebih memilih naik kereta api aja deh ya.

Baca juga : EXPLORE DESA WISATA PUJON KIDUL

Selain harganya yang lumayan murah. Namun, juga untuk menyenangkan si kecil. Si kecilkan biasanya suka banget tuh kalau diajak naik kereta api hehe.Nah, buat kalian yang berencana ke Kota Malang untuk travelling bersama dengan keluarga dan juga si buah hati. Bunda bisa datang ke beberapa tempat wisata yang ramah anak di Kota Malang. Selain ramah anak bahkan beberapa wisata ini juga mempunyai nilai edukasi lho. Jadi, sekalian nih liburan dan juga belajar. Iya nggak? Nah, kalau kalian bertempat tinggal di Jakarta. Kalian bisa nih naik salah satu transportasi yaitu kereta api untuk datang ke Kota Malang. 

Untuk naik kereta apinya sendiri kalian bisa berangkat dari stasiun Gambir. Kalian juga nggak perlu antri panjang di stasiun untuk membeli tiket kereta api. Karena sekarang sudah bisa membeli tiket kereta api secara online. Salah satu situs aplikasi yang bisa kalian gunakan untuk membeli tiket kereta api secara online adalah Traveloka. Kalian juga bisa cek keberangkatan dari stasiun Gambir ke stasiun Malang. Nah, untuk tempat wisatanya sendiri ada beberapa daftar tempat wisata yang bisa kamu kunjungi di Kota Malang :

1. Plaza Garden, Wisata Edukasi Rabbit Field



Siapa nih yang suka dengan binatang mamalia yang imut dan banyak digemari ini? Yups kelinci namanya. Hewan pemakan wortel ini bisa kalian kunjungi ketika berada di Kota Malang lho. Karena di Kota Malang ini juga ada rumah kelinci yang minimalis dan juga lucu. Rumah kelinci ini sendiri dibangun di bawah lubang tanah yang berundak. Rumah ini juga menjadi salah satu spot foto yang ada di wisata ini. Nah, ketika kalian berada di Plaza Garden Wisata Edukasi Rabbit Field, kalian bisa menemui banyak kelinci yang berkeliaran di tempat wisata ini.

Jadi, kalian bisa mengenalkan langsung kepada si kecil tentang binatang yang lucu dan menggemaskan ini. Mau memberi makan kelinci? Boleh banget dong. Kegiatan memberi makan ini pasti sangat disenangi si kecil. Pada saat itulah kalian bisa mengabadikan momen tersebut. Untuk alamat wisata ini sendiri berada di Jalan Paralayang, Desa Pandensari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Untuk tiket masuk ke kawasan wisata ini sebesar Rp10.000 per orang.

2. Predator Fun Park








Baca juga : WISATA EDUKASI, KEBUN BINATANG SURABAYA

Selain binatang kelinci. Kalian bisa nih menemui binatang reptile ganas nih. Binatang apa sih itu? Yups binatang buaya. Ketika kalian berada di kawasan wisata Predator Fun Park ini, kalian bisa melihat buaya secara langsung. Karena di tempat ini terdapat penangkaran buaya. Untuk kalian yang mau memberi makan buaya juga boleh lho. Hanya saja pada spesies binatang buaya yang tertentu ya. Di tempat penangkaran buayanya sendiri mempunyai banyak atraksi yang disuguhkan mulai dari kereta buaya (croco train), taman bermain yang bertema predator (Predator Playdround).

Selain buaya ada apalagi nih? Kalian juga bisa nih mengajak si kecil untuk melihat ke galeri fauna, museum angklung dan juga bisa bermain ke kawasan air. Makanya jangan sampai lupa membawakan si kecil baju renang ya. Untuk alamat tempat wisata ini berada di Jalan Raya Tlekung No 215 Junrejo, Kota Wisata Batu. Untuk tiket masuknya sendiri sebesar Rp30.000 per orang (hari biasa) dan Rp50.000 per orang (akhir pekan).

3. Eco Green Park



Salah satu tempat wisata yang mengedukasi adalah Eco Green Park. Wisata yang satu ini adalah wisata yang tadinya merupakan lahan perkebunan tanaman jeruk dan juga jati. Akan tetapi, tidak hanya itu tempat wisata Eco Green Park ini mempunyai koleksi burung yang bisa dibilang sangat banyak. Burung yang ada di tempat wisata ini mulai dari burung flaminggo sampai burung elang. Tidak hanya spesies burung saja yang ada di tempat wisata ini. Namun, juga ada tentang pertanian. Kalian juga bisa langsung belajar di tempat ini.

Misalkan saja, cara bercocok tanam secara hidroponik yang bisa diterapkan di rumah. Eits, di tempat wisata ini ada wahana yang juga menarik perhatian lho. Mau tahu nggak, wahana apa itu? Jadi, wahana ini adalah wahana rumah terbalik. Semua ruang dan benda yang ada di dalam rumah ini terbalik. Kalian bisa nih berfoto-foto di dalamnya. Jangan lupa ajak si kecil berfoto juga ya :D. Untuk alamatnya sendiri berada di Jatim Park 2, Jalan Oro-oro Ombo No. 9A, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.

4. Museum Satwa



Baca juga : CARA MENGATASI POST HOLIDAY SYNDROME

Masih ngomongin tentang binatang nih. Nah, kamu juga bisa datang ke Museum Satwa yang ada di Jatim Park 2. Museum Satwa sendiri merupakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi ketika berada di Jatim Park 2. Apasaja sih yang ada di dalam museum ini? Nah, kalian bisa mengajak si kecil untuk melihat beberapa fosil binatang yang sudah punah. Eits, tidak hanya yang sudah punah saja ya. Ketika kalian datang ke Museum Satwa ini, kalian akan disambut dengan kerangka tulang belulang atau yang biasanya disebut dengan fosil binatang dinosaurus.

Tidak hanya fosil hewan dinosaurus saja. Namun, juga ada kerangka yang cantik dan unik seperti kupu-kupu. Serangga ini diawetkan dan di masukkan ke dalam sebuah bingkai yang diberikan keterangan untuk mempermudah pengunjung yang datang. Untuk lokasinya sendiri berada di Jatim Park 2, Jalan Oro-oro Ombo No. 9A, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu. Nah, dengan datang ke Jatim Park 2. Kalian bisa menikmati 2 wisata nih. Yaitu Eco Green Park dan juga Museum Satwa. Iya nggak?

Bagaimana banyak banget kan tempat wisata yang ada di Kota Malang. Kota Malang memang mempunyai banyak sekali wisata hehe. Yuk buruan deh datang ke Kota Malang dan jadikan pengalaman travellingmu menyenangkan. Apa sudah ada yang pernah travelling ke Kota Malang nih, terutama ke tempat yang sudah saya sebutkan di atas. Bisa share pengalamanmu di kolom komentar ya ^^

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v