Tak ada yang membuat Sasha bahagia selain bersama Brama. Apalagi mendapat perhatian yang luar biasa dari lelaki itu. Walau akhirnya Brama meninggalkan UKS terlebih dahulu untuk kembali ke kelasnya, tapi tak ada rasa kecewa yang menggelayut hati seperti saat ditinggal lelaki itu untuk mengambil bubur ayam. Setidaknya, Sasha tahu jika lelaki itu sangat perhatian padanya. 

Sasha kembali ke kelasnya dengan langkah ringan. Satu styrofoam yang tersisa dimakan secara bersamaan dengan Brama, lumayan untuk mengganjal perut. Masih ada satu jam lagi untuk istirahat, nanti dia bisa makan mi ayam di kantin. 

"Sha, kamu dipanggil Bu Sofia." Sebuah suara mengagetkan gadis itu, dia urung melangkah. 

"Di mana? Ruang guru?" tanya Sasha memastikan.

"Bukan. Ruang ganti di belakang."

"Eh? Tumben banget manggil ke sana? Habis ada pelajaran olahraga?" 

"Entahlah. Kamu tanya sendiri sama orangnya."

Sasha mengerucutkan bibirnya, lalu membetulkan letak kacamatanya sebelum akhirnya melangkah ke ruang ganti. Tak ingin berlama-lama ketinggalan pelajaran.

Ruang ganti sangat sepi. Murid-murid sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Sekarang sudah jam pelajaran ke tiga, tapi sepertinya tidak ada jam pelajaran olahraga. Sasha memasuki sebuah ruangan dengan banyak loker di dalamnya, di pojok ruangan sudah ada Sofia yang duduk dengan menumpukan satu kaki di atas kakinya yang lain.

"Akhirnya kamu datang juga." Sofia menoleh, lalu mendekat ke arah Sasha yang juga berjalan mendekat.

"Ada apa, Bu?" tanya Sasha tak mengerti setelah mereka berdiri dengan berhadapan.

"Sudah berapa kali gak ikut pelajaran olahraga?"

"Belum pernah, Bu. Kemarin kan saya masih masuk."

"Iya, masuk. Tapi gak ikut pelajaran, kan? Malah tenggelam di kolam."
Sasha menundukkan kepalanya. Malu rasanya saat mengingat dirinya di mobil, sebelum ke rumah sakit bersama Brama.

"Kamu sekarang dekat sama Pak Brama, ya?" tanya Sofia dengan tatapan tajam.

"Eh? Enggak kok, Bu." Sasha terkaget karena mendapat pertanyaan yang jauh dari perkiraan.

"Oh ya? Pak Brama yang nolongin kamu saat tenggelam, bahkan ngasih napas buatan buat kamu. Terus diantarin juga ke rumah sakit."

"Itu cuma kebetulan saja kok, Bu. Kami gak dekat." Sasha menjawab dengan cepat. Tak mungkin dia katakan bahwa Brama adalah suaminya, bisa geger satu sekolah hanya gara-gara hal tersebut.

"Oh ya? Tadi kenapa kalian akrab banget di UKS?" tanya Sofia menginterogasi.

"Pak Brama kan memang selalu baik pada semua orang," akhirnya Sasha menjawab dengan jujur. 

"Tidak hanya pada saya, pada yang lain juga baik, kan?"

"Syukur deh kalo kamu tau. Dan, perlu kamu sadari, kamu itu cupu dan jelek. Jangan harap Pak Brama tertarik sama kamu!"

"Iya, Bu." Sasha menjawab sambil menundukkan kepala. Iya, suaminya itu tak akan tertarik padanya. Bukankah mereka nantinya akan bercerai?

"Perlu kamu ingat baik-baik. Ini terakhir kalinya ada gosip tentang kamu dan Pak Brama. Gak usah caper dengan alasan tenggelam atau pingsan. Heran deh. Tiap ada masalah ma kamu, selalu dia yang maju lebih dulu. Kalo sampai ada gosip baru, siap-siap aja dapat nilai jelek dari saya."

"Iya, Bu." Kali ini Sasha hanya bisa mengangguk pasrah. Jika nilai adalah taruhannya, mending dia tak mendekati suaminya sama sekali di sekolah. Guru olahraga itu tak segan-segan memberi nilai jelek.

"Kamu gak pake pelet kan?" tanya Sofia dengan pandangan menusuk, memperhatikan Sasha dari atas sampai bawah. Memang tak ada yang menarik dari gadis itu.

"Hah? Saya gak pake gituan, Bu," jawab Sasha dengan kaget. Tidak menyangka bahwa gurunya itu akan berprasangka buruk tentangnya.

"Sukur deh. Kamu murid terakhir yang saya panggil. Moga aja gak ada yang ganjen lagi sama Pak Brama. Biar gak ada saingannya. Capek jomlo, pingin segera nikah sama beliau." Sofia menyunggingkan senyum kemenangan. Kini tak ada lagi saingan yang akan berusaha merebut lelaki pujaan hatinya.



Sasha duduk termangu di tempat penjual es degan depan terminal. Tak ada keinginan sama sekali untuk meminum es di depannya, tangannya hanya mengaduk-aduk malas. Mengesalkan saat harus tak mempedulikan suaminya. Apalagi mereka saling membuang muka saat mata mereka beradu.
Gadis itu malas kembali ke rumah. Apalagi jika nanti bertemu dengan Brama dan tak tahu harus berbuat apa. Dia bisa salah tingkah dan serba salah.

"Tiin." Sebuah klakson mobil mengagetkan gadis itu. Dia langsung menegakkan duduknya. Matanya melihat ke arah mobil merah yang baru saja membuat kaget. Mobil yang tak pernah asing untuknya.
Brama membuka kaca mobil, memberi isyarat agar Sasha masuk ke dalam mobilnya.

Sasha menggeleng, lalu mengisyaratkan agar Brama pergi dari terminal. Dia tak ingin ada yang melihat mereka berdua di dalam mobil yang sama.

Brama menarik napas panjang. Bahkan untuk pulang sekolah pun, istrinya tak mau bersama. Berbagai macam pertanyaan masuk ke dalam otaknya. Sampai satu nama muncul di sana. Apa jangan-jangan Sasha janjian pulang bersama Galang?

Gadis itu memang benar-benar ingin mengerjainya. Apa dia memang berjanji dengan Galang untuk pulang bersama? Brama menepuk dahinya pelan. Bahkan setelah mereka menikah dan tinggal satu atap, Brama tak tahu berapa nomor telepon Sasha. Sungguh suami macam apa itu. Padahal sudah beberapa kali lelaki itu memegang handphone jadul milik istrinya.

Handphone jadul? Entah apa yang ada di pikiran Sasha. Kenapa harus menggunakan handphone murahan yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, padahal jelas orang tuanya mampu untuk membelikan handphone yang lebih mahal. Bahkan jika Sasha mau meminta, Brama pun akan langsung membelikan handphone baru yang lebih canggih.

Sasha melebarkan matanya, menandakan tak suka ada lelaki itu di sana. Akhirnya Brama melajukan mobil, tapi berhenti tak jauh dari terminal. Ingin tahu dengan siapa gadis itu pulang sekolah nanti. Dia terus melihat dari spion mobil, tak ingin ketinggalan barang satu detik pun untuk melihat gerak-gerik gadis itu.

Sampai Brama bisa menarik napas panjang setelah melihat Sasha naik ojek, pulang menuju rumah mereka. Tak ada Galang, hanya seorang tukang ojek dengan sepeda motor tua yang berjalan melewati mobilnya.

"Khawatir yang berlebihan. Tentu gadis itu bisa menjaga dirinya sendiri," ujar Brama sambil menggelengkan kepala pelan. Senyum tersungging di bibir saat mobilnya mulai mengikuti motor yang dinaiki Sasha. Minimal, dia bisa memastikan bahwa Sasha tidak pingsan di jalan.

"Mbak, itu mobil merah di belang itu kenapa ngikutin kita terus?" tanya tukang ojek sambil melihat ke arah spion.

Sasha menoleh, dilihatnya mobil Brama berjalan pelan mengikuti. Sasha mendengkur, lalu berkata, 

"Biarin aja, Pak. Emang gak ada kerjaan tuh orangnya."

"Kenal, Mbak?"

"Suami saya," jawab Sasha pelan. Entah mengapa dia bisa dengan entengnya berkata bahwa Brama adalah suaminya. Padahal bukankah dia yang ingin pernikahan mereka dirahasiakan?

"Lho? Mbak masih sekolah, tapi sudah bersuami?" tanya tukang ojek tak paham.

Sasha tertawa kecil. Perjalanan hidupnya tak semua orang bisa mengerti. Termasuk bagaimana hubungan antara dia dan Brama. Jadi, tak ada yang bisa dijelaskan pada tukang ojek di depannya. Dalam hati kecilnya, dia memohon agar lelaki itu bisa menjadi suaminya, selamanya. Tidak ada perpisahan di antara mereka.



Alhamdulillah part ini udah selesai. Siap-siap ke part selanjutnya yaaa.
Selamat memperingati Hari Kemerdekaan. Doa yang terbaik untuk Indonesia. 殺





Anisa AE - Siapa nih yang hewan kurbannya masih ada? Hihi. Atau sudah pada habis semua nih? Atau bahkan ada yang dagingnya sudah membusuk bahkan belum sempat dimasak? Hmm sayang banget kan kalau daging hewan kurbannya masih belum sempat dimasak tapi sudah membusuk. Nah, kalian tahu nggak bagaimana cara untuk  menyimpan daging kurban agar tidak cepat membusuk? 

Mungkin banyak yang menjawab disimpan saja di freezer. Iya nggak nih? Memang benar cara menyimpan daging hewan kurban yang benar itu disimpan di dalam freezer. Hal ini dikarenakan dengan disimpan di freezer daging hewan akan tetap segar. Namun, pada kenyataannya sebaiknya tidak langsung semuanya disimpan di dalam freezer. 

Ada beberapa tahapan yang bisa kamu lakukan agar daging hewan kurbanmu tetap awet :

1. Mencuci daging

daging sapi

Nah, hal yang pertama yang bisa kalian lakukan adalah mencuci daging terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam freezer. Meskipun hal yang satu ini sudah menjadi perdebatan publik dan ada yang berkata bahwa dengan tidak dicuci terlebih dahulu, daging hewan akan tahan lebih lama. 
Namun, hal ini justru adalah hal yang salah dan sangat tidak dianjurkan. Bahkan ketika kalian membeli daging di supermarket pun seharusnya harus dicuci terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam freezer. Kalian bisa mencuci dagingnya di bawah air yang mengalir sampai bersih. Usahakan jangan sampai ada darah yang menetes lagi.

2. Keringkan daging terlebih dahulu

daging sapi

Selanjutnya yang kalian lakukan adalah mengeringkan daging terlebih dahulu. Jangan sampai menyimpan daging hewan ini langsung ke dalam freezer atau masih dalah keadaan lembab. Hal ini bisa membuat daging ini cepat membusuk karena adanya banyak bakteri dan kuman yang membantu proses pembusukan. 

Selain itu, daging yang disimpan ke dalam freezer dalam keadaan mengandung air yang banyak membuat air yang ada di dalam daging membeku. Nah, ketika hewan hendak diambil dan airnya mencair. Hal ini bisa membuat kualitas daging menjadi menurun. Maka dari jangan lupa untuk mengeringkan dagingnya terlebih dahulu.

3. Bagi menjadi kecil-kecil





daging sapi
Setelah dikeringkan kalian bisa memotongnya menjadi beberapa bagian. Misalnya saja ketika kalian mempunyai daging 1 kilogram. Kalian bisa memotongnya menjadi 4 bagian yang masing-masing bagiannya mempunyai berat sekitar 250 gram. Setelah dipotong kalian bisa mengemasnya dengan plastic yang ditutup rapat. 

Kemudian baru simpanlah ke dalam freezer. Dengan cara yang satu kalian juga tidak perlu repot untuk mencairkan bongkahan daging yang beku. Nah, jadi kalau kamu mau ingin memasak beberapa daging saja. Kalian bisa mencairkan beberapa daging yang akan kalian masak.

4. Membumbui daging terlebih dahulu

daging sapi

Dengan membumbui daging sebelum di masukkan ke dalam freezer kalian bisa memberi daging tersebut dengan beberapa bumbu. Misalkan saja kunyit, garam, gula, bawang dan masih banyak lagi. Bumbu-bumbu ini akan bersifat antibakteria yang akan membuat sifat awet pada daging tersebut. Selain itu daging yang dibumbui tersebut bisa membuat daging menjadi lebih awet dan juga makin lezat. Hal ini dikarenakan bumbu tersebut akan meresap ke dalam daging.

5. Jangan langsung diletakkan di freezer

daging sapi
Mungkin tips yang satu ini masih belum diketahui banyak orang. Bahkan banyak orang pasti langsung menyimpan daging ke dalam freezer. Namun, ternyata itu bukan hal yang dianjurkan. Hal ini dikarenakan daging yang berasal dari suhu ruangan, tidak baik jika langsung disimpan ke dalam freezer yang mempunyai suhu rendah. 

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Kamu bisa meletakkan daging ini di rak ke 3 atau ke 4 di dalam kulkas. Dengan begitu daging agar tidak keras dan juga lebih awet. Kalian bisa menyimpannya selama 5 jam an sebelum dipindahkan ke dalam freezer.

Bagaimana, kamu sudah melakukan tips yang ada di atas apa belum nih? Kalau belum yuk buruan praktekkan agar daging hewan yang kamu dapatkan bisa lebih awet dan tidak cepat membusuk. Apa kalian mempunyai cara lain nih dalam menyimpan daging hewan? Kalian bisa share di kolom komentar ya ^^ 

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v








Anisa AE - Kota Malang yang sudah terkenal dengan laga persepak bolaannya, AREMA. Namun, hari hari ini Arek Malang atau warga Malang mengalami kericuhan dengan adanya sekelompok Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang melakukan aksi demo. Aksi ini sendiri terjadi di kawasan Basuki Rahmad yang biasanya disebut dengan pertokoan Kayutangan Kota Malang atau yang berada di simpang empat Jalan Semeru dan Jalan Kahuripan, Kota Malang. 


Beberapa oknum mahasiswa Papua ini awalnya akan melakukan aksinya di Balaikota Malang. Namun, ketika masih dalam perjalanan yang lebih tepatnya berada di Jalan Basuki Rahmad, ada masyarakat yang tidak setuju dengan aksi yang akan dilakukan oleh beberapa mahasiswa ini. Hal inilah yang membuat terjadinya bentrokan dan kericuhan di Kota Malang. Bahkan sampai terjadi saling lempar batu antara beberapa oknum mahasiswa Papua dengan masyarakat dan juga pihak kepolisian. 


Akan tetapi warga Malang juga tidak mau kalah mereka memukul mundur mahasiswa Papua hingga ke Jalan Basuki Rachmad dan Jalan Semeru yang kemudian mereka diamankan oleh pihak polisi. Kericuhan ini terjadi sekitar jam 09.00 pagi tadi. Kejadian ini sendiri dimulai ketika Aliasnsi Mahasiswa Papua akan menggelar aksi protes yang terkait dengan perjanjian antara Amerika dengan Indonesia. 

Bahkan ada yang mengatakan bahwa aksi ini juga dipicu oleh ketidaknyamanan warga sekitar dengan adanya sekelompok mahasiswa Papua yang menuntut bahwa mereka akan memisahkan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Peristiwa ini sempat membuat lalu lintas yang awalnya berjalan normal menjadi terganggu. Hingga pihak kepolisian terpaksa menutup akses lalu lintas ini, kemudian beberapa kendaraan yang lewat dialihkan ke jalan belakang Rumah Sakit Saiful Anwar.







Namun, sebenarnya pihak kepolisian sendiri sudah melakukan pengamanan di titik-titik yang akan digunakan untuk mereka berkumpul dan melakukan aksi ini yang diantaranya berada di  Stadion Gajayana dan juga di Alun-alun Merdeka. Akan tetapi ternyata masih di Jalan Basuki Rahmad sudah terjadi bentrokan. Beberapa saat setelah kejadian bentrokan terjadi, lebih tepatnya pukul 10.30 WIB. Pihak kepolisian dan juga TNI sudah berhasil mengendalikan situasi. 

Pihak kepolisian sendiri juga memisahkan para mahasiswa Papua karena salah satu syarat untuk mengajukan unjuk rasa ini tidak boleh mengganggu persatuan dan juga kesatuan. Selain itu pihak kepolisian ini memisahkan demo ini dengan aturan hukum. Hal ini dikarenakan di dalam demo ini ada unsur Papua Merdeka yang mana mereka ingin memisahkan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).


Pada saat kejadian ini terjadi ada seseorang yang merekam kejadian ini dan menyebarkannya pada grup whatsapp kantornya. Dengan tujuan memberi tahu kepada pegawai kantor lainnya untuk berhati-hati ketika mau membeli makan atau keluar pada saat jam istirahat.
Namun, untuk sekarang lalu lintas yang ada di Jalan Basuki Rahmad sudah lancar seperti semula. 

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v




"Pak, kali ini Sasha jangan dihukum, ya? Kan baru pertama kali telat," pinta Sasha pada guru piket yang sedang mencatat siapa saja murid yang terlambat.

Guru piket tidak mengindahkan permintaan Sasha, beliau terus menulis semua nama di dalam buku pelanggaran tata tertib sekolah. Sasha hanya bisa menarik napas panjang saat dirinya bersama beberapa murid lain diharuskan berdiri di bawah tiang bendera selama satu jam pelajaran pertama.

Berdiri dengan anak-anak yang juga telat, tak pernah sekalipun ada di benak Sasha. Tak ada kata terlambat sekolah di kamusnya, dia terkenal sebagai murid paling rajin. Namun, kali ini para guru bisa melihat Sasha berdiri berdampingan dengan murid yang melakukan pelanggaran. Sungguh, dia sangat malu menjadi tontonan.

Brama yang keluar dari ruang guru, kaget saat mendapati Sasha berada di bawah tiang bendera. Lelaki itu menepuk dahinya, tak menyangka bahwa Sasha akan masuk sekolah walaupun sudah hampir terlambat. Tentunya mudah bagi gadis itu untuk mengikuti pelajaran yang tertinggal, bukan malah telat masuk ke sekolah.

Untungnya kelas yang diajar oleh Brama, kali ini berada dekat dengan tiang bendera. Jadi, lelaki itu bisa mengamati istrinya dari kejauhan. Bohong jika berkata bahwa dia tak khawatir dengan kondisi Sasha. Setidaknya dia bisa memastikan bahwa Sasha baik-baik saja.

Belum tiga puluh menit lelaki itu mengajar, ada kegaduhan di bawah tiang bendera. Matanya memicing, menajamkan penglihatannya. Dilihatnya dari kejauhan, Sasha telah pingsan dan dipegangi oleh murid-murid yang lain.

Tanpa mempedulikan kelasnya, dia langsung berlari ke arah tiang bendera. Membuat murid-murid lain yang berkerumun langsung minggir memberi jalan. Dengan cepat, lelaki itu mengangkat tubuh kecil Sasha, tujuannya hanya satu, membawa gadis itu ke UKS. Tak ada kesulitan berarti saat mengangkat tubuhnya.

Brama meletakkan tubuh Sasha di atas tempat tidur di UKS. Petugas UKS pun segera datang dengan minyak kayu putih  yang akan digunakan untuk menyadarkan Sasha.

"Beasiswa lagi?" tanya petugas UKS.
Brama mengangguk, lalu segera mengambil teh yang masih panas.

"Beruntung, ya? Tiap kali pingsan, dibawa terus oleh Pak Brama."

Brama mengernyitkan kening. Beruntung? Bukankan sudah kewajiban lelaki itu untuk menjaga Sasha? Bahkan dia tak akan rela jika gadis itu diangkat oleh orang lain. Tak rela jika tubuh kecil gadisnya dipegang dan diraba oleh orang lain.

"Saya ke kelas dulu. Titip Sasha, ya?" kata Brama saat melihat gadis itu mulai siuman sambil memberikan gelas teh yang diambilnya pada petugas.

Petugas itu tersenyum, lalu membantu Sasha minum teh. Melihat Sasha yang sudah sadar, Brama tak ingin berlama-lama di UKS. Toh nanti pada jam pelajaran ke tiga dan empat, saat tidak ada kelas yang harus diajar, dia masih bisa menemui gadis itu. Lagipula, perhatiannya yang terlihat berlebihan pada gadis itu bisa membuat Sasha malah tak suka.


"Kamu belum makan?" tanya Brama saat sudah kembali ke UKS.
Sasha menggeleng lemah. Dia terakhir kali makan adalah saat berkumpul dengan keluarganya.

"Di dapur kan ada mi goreng, kenapa gak kamu makan?" ujar lelaki itu naik pitam. Gadis itu sudah dua kali membuatnya khawatir. Padahal tadi pagi dia sudah menyempatkan diri untuk membuat sarapan.

"Mi goreng?" tanya Sasha tak mengerti?

"Kamu gak liat di atas meja?"

Sasha menggeleng lagi. Bagaimana mungkin dia bisa melihat mi goreng di atas meja, jika melihat dapur berantakan saja membuat kepalanya mau pecah. Membayangkan bagaimana nanti saat membersihkan dapur. "Jadi, kamu yang bikin dapur ancur seperti kapal pecah?"
Tanpa menjawab, Brama mengeluarkan handphone, lalu memesan makanan via aplikasi. "Jangan diulangi lagi."

"Kamu tuh yang jangan diulangi. Kenapa aku gak dibangunin? Seneng ya kalo aku dihukum?" tanya Sasha pelan, namun dengan nada yang menusuk.

"Mana aku tau kalo kamu mau ke sekolah? Lagian kamu semalaman tidur seperti orang mati." Brama pun tak mau kalah. Bukan salahnya jika dia ingin Sasha istirahat lebih lama.

"Seneng banget ya kalo aku ketinggalan pelajaran?"

"Kamu gak bakal ketinggalan pelajaran kok. Kan udah pinter dari sononya," ujar Brama sebelum akhirnya melihat layar handphone sambil keluar dari UKS.

"Eh? Aku ditinggal? Dasar lelaki gak peka. Sebeeel!" Wajah Sasha memerah, air matanya mulai merebak. Brama benar-benar membuat gadis itu jengkel. Dia merasa menyesal karena telah menyetujui permintaan kedua orang tua mereka untuk tinggal bersama. Toh dia sebenarnya bisa tinggal di rumahnya sendiri dengan bibi dan pak sopir.

"Nyesel banget tinggal sama dia. Lelaki jahat dan gak punya perasaan. Nyebelin banget!" Sasha melanjutkan omelannya sambil menahan sesak di dada.

"Ngapain marah-marah gak jelas?" tanya Brama yang tiba-tiba muncul di ambang pintu UKS dengan membawa bungkusan. Tepat saat itu juga, air mata Sasha menetes.

Brama tertegun di tempatnya. Hatinya tercubit saat melihat gadis itu menangis. Apa yang dirasakan gadis itu sehingga membuatnya menangis? Apa perutnya terlalu sakit?

Sasha membuang muka, segera menghapus air matanya yang terlanjur jatuh. Dia tak ingin terlihat cengeng di depan suaminya.

"Makan dulu, Sha. Aku bawain bubur ayam." Brama mendekat, lalu membuka bungkusan yang dibawanya. Di dalam kresek terdapat dua styrofoam yang saat dibuka salah satunya, menguar wangi bubur ayam.

"Gak lapar." Sasha menjawab sambil terus memalingkan muka.

"Kamu bisa makin lemas kalo tidak makan."

"Tapi aku gak lapar!" sentak Sasha pada lelaki itu.

"Dengar, ya, anak manja! Aku sebenarnya gak peduli kamu mau makan atau enggak. Tapi, kalo sampai kamu sakit lagi dan masuk ke rumah sakit, aku gak bakal jagain kamu. Biar kamu sendirian di sana."

"Biarin. Ada Galang kok yang pastinya mau jagain aku," jawab Sasha sinis.
Dengan cepat, Brama memegang dagu Sasha, lalu diarahkan agar menoleh ke arahnya. "Kamu makan! Atau aku kasih nilai C."

Mata Sasha terbelalak mendengar ancaman guru yang sekaligus suaminya itu. Apa-apaan itu? Gara-gara tidak makan, seorang murid yang mendapat beasiswa, mendapat nilai C? Benar-benar guru yang tidak profesional.

"Oke. Sekarang kamu buka mulut." Brama sudah mengambil sendok plastik yang di dalamnya ada bubur hangat.

Mau tak mau, Sasha pun membuka mulutnya. Bubur itu berpindah tempat, enak. Lalu dengan cepat meluncur ke dalam perutnya. Tak menunggu lama, satu styrofoam telah tandas.

"Kamu kenapa marah-marah gak jelas? Sampe nangis gitu?" tanya Brama sambil tersenyum.

"Habis, kamu langsung pergi ninggalin aku. Aku kan takut. Petugas UKS juga gak ada lagi," jawab Sasha sambil mengerucutkan bibirnya.

"Ya Tuhan, Sha. Baru juga ditinggal bentar aja. Aku kan keluar buat ambil bubur ayam yang udah sampe di depan sekolah." Brama tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tak menyangka jika gadisnya menangis hanya karena itu. "Nih sebagai permintaan maaf, satunya kamu habisin aja. Kamu masih lapar, kan?"

Sasha mengangguk malu-malu. Dia memang terlalu kekanakan, hal sepele seperti itu saja ditangisi. Dia bahkan berpikiran macam-macam pada Brama yang telah baik hati membelikannya sarapan.
Brama menyuapkan bubur ayam lagi ke dalam mulut Sasha. Sasha pun membuka mulutnya dengan senang hati. Kapan lagi bisa disuapi oleh lelaki tampan itu? Wajahnya pun langsung memerah.

"Maaf, ya. Aku bikin dapur berantakan. Tadi sih rencananya mau kita sarapan bareng. Ya, walaupun hanya semangkuk mi goreng. Karena kamu belum bangun, aku makan sendiri aja." Brama berkata sambil tersenyum dan terus menyuapi istrinya.

Sontak Sasha menutup mulutnya. Kenapa dia baru menyadari kalau suaminya itu membuatkan mi goreng untuknya? Nasib mi itu, bahkan dilirik pun tidak. Dia terlalu fokus memperhatikan dapur yang berantakan.

"Jadi, Kak Brama mau kita sarapan bareng?" tanya Sasha dengan mengulum senyum.
Brama membuang muka, wajahnya memerah.

"Berarti Kak Brama tadi cuma sarapan mi goreng? Belum makan nasi?" tanya Sasha lagi yang tak membutuhkan jawaban.

Brama masih diam, sendok yang tadi dipegangnya sudah diletakkan di atas bubur yang masih berkurang sedikit.

Sasha segera mengambil sendok itu, lalu berkata, "Sekarang Kak Brama yang makan, ya? Buka mulutnya."

"Hah? Apa?" tanya Brama kaget.

"Sekarang ganti Kak Brama yang makan, ayo," kata Sasha sambil mengangsurkan sendok ke depan mulut Brama.

Akhirnya mau tak mau, Brama pun membuka mulutnya sambil menahan senyum di hati. Ini kedua kalinya dia disuapi oleh Sasha, setelah yang pertama di court food. Sungguh, tak pernah ada yang menyuapi lelaki itu selain perempuannya. Kali ini Sasha yang melakukan hal itu. Seringkali wanita-wanita yang mendekatinya itu ingin menyuapi, tapi selalu ditolak oleh Brama. Pada Sasha, entah kenapa tak ingin membuat gadis itu kecewa, bahkan selalu ada senyum dan debar di hatinya saat mendapat perlakuan istimewa dari Sasha.

"Tuhan, buatlah waktu berhenti sejenak agar aku bisa menikmati rasa ini," bisik Brama dalam hati.


Sudah mulai jujur nih kalo si Brama perhatian. Eaa. 藍藍
Mau pingin yang romantis atau ada sedikit konflik panas nih? 




Anisa AE - Kota Malang memang mempunyai banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi. Nah, buat kalian yang mau ke Kota Malang ada banyak transportasi yang bisa digunakan. Salah satunya adalah dengan jasa travel XTrans. Kalian bisa melihat juga jadwal tiket travel XTrans ini. Memang zaman sekarang itu serba mudah. Jadi, nggak perlu bingung laigi kalau mau ke Malang hihi.


Nah, Kota Malang sendiri selain mempunyai wisata yang ramah anak. Kota Malang juga mempunyai tempat wisata lainnya. Misalkan saja wisata alam air terjun. Air terjun atau yang biasanya disebut dengan coban memang banyak banget terdapat di Kota Malang. Apa saja sih coban yang ada di Kota Malang? Nah, ini dia beberapa coban yang ada di Kota Malang :

1. Coban Rondo

Coban Rondo


Warga Kota Malang pastinya sudah tahu betul dengan coban yang satu ini. Masa iya sih belum tahu? Coban Rondo adalah salah satu wisata alam air terjun yang paling terkenal di Malang. Untuk letaknya sendiri berada di Jalan Rondo, Desa Pandensari, Pandensari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Wisata air terjun ini mempunyai ketinggian 60 meter. Tidak hanya wisata air terjunnya yang indah. Melainkan juga ada beberapa taman dan juga outbond yang bisa dilakukan di Coban Rondo ini. Outbondnya meliputi flying fox, tubing, paintball dan masih banyak lagi.

2. Coban Talun

Coban Talun

Selain Coban Rondo, Kota Malang juga mempunyai coban yang indah lainnya. Yaitu Coban Talun. Coban ini terletak di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang. Nah, buat kamu yang mau datang melihat wisata ini bisa berangkat dari pusat Kota Malang dengan jarak 15 kilometer, waktu yang ditempuh adalah sekitar 1,5 jam. Selain air terjunnya yang bagus. Coban talun ini juga mempunyai banyak spot foto yang instagramable lho.

3. Coban Rais





Coban Rais

Coban yang satu ini juga tidak kalah indahnya dengan coban yang ada di atas. Coban ini sebenarnya merupakan salah satu objek pelengkap dari bumi perkemahan yang berada di Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo, Batu, Malang. Buat kalian yang mau datang melihat keindahan air terjun atau Coban Rais ini harus melewati jalan setapak yang landai, dan juga menyusuri sungai. Selain itu perjalanan untuk menuju air terjun ini juga penuh dengan tantangan. Akan tetapi semua itu akan terbayarkan ketika sudah sampai di air terjunnya.


4. Coban Kethak

Coban Kethak

Coban ini mempunyai keunikan tersendiri yaitu adanya batu yang berkepala singa. Batu ini berada di bawah aliran air terjun ini sendiri. Nah, selain itu Coban ini mempunyai luas area yang luas yaitu sekitar 4 hektar. Kalian bisa berkunjung ke Coban Kethak yang beralamatkan di Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

5. Coban Jahe

Coban Jahe


Nah, selain yang ada di atas. Masih ada lagi nih coban yang bisa kalian kunjungi yaitu Coban Jahe. Coban Jahe sendiri berada di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Coban ini memang berada di dalam lokasi yang tersembunyi. Hal inilah yang justru membuat coban ini semakin alami. Nah, kalian bisa melakukan beberapa kegiatan ketika berada di Coban  Jahe ini. Kalian bisa berfoto dengan background air terjunnya atau kalian juga bisa melakukan kegiatan lain yaitu seperti melakukan kegiatan outbond.

Bagaimana banyak banget kan wisata alam air terjun yang ada di Kota Malang. Nah, kalau kalian sendiri tertarik untuk datang ke wisata air terjun yang mana nih? Yuk share di kolom komentar ^^ 

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v




Sasha membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, tak berani keluar dari kamarnya sama sekali. Toh dia tidak lapar dan tidak ada yang harus dikerjakannya di luar kamar. Apalagi di rumah yang terbilang kecil itu, jika Sasha keluar kamar, maka otomatis akan melihat Brama. Lelaki yang dinginnya luar biasa.

Pikiran Sasha melayang, mengingat bagaimana Brama tadi saat keluar dari kamar mandi. Tanpa menyapa Sasha, lelaki itu langsung kembali masuk ke kamarnya. Dia tak keluar kamar lagi sampai Sasha keluar dari kamar mandi.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara lampu dinyalakan. Matanya pun awas, memandang pintu tertutup yang memang tak dikuncinya. Sama sekali tidak berharap Brama masuk ke kamarnya tanpa permisi.

"Sha, kamu udah tidur?" tanya Brama di balik pintu kamar yang tertutup, tanpa mengetuk pintu tersebut.

Sasha diam sambil terus menatap pintu kamarnya dengan hati berdebar. Bisa saja Brama langsung masuk ke dalam kamarnya, bukan? Lama, tak ada ketukan maupun suara handel pintu dibuka dari luar. Namun, tetap saja debaran di dada Sasha tak mau berhenti. Dia tinggal serumah dengan suaminya, orang yang bahkan baru saja dikenalnya.

Telinga Sasha mendengar suara iklan di televisi, tapi tetap tidak bersuara. Suara-suara iklan itu bergantian dengan iklan yang lain. Lalu terdengar suara sinetron yang sering dilihat oleh ibunya. Apalagi kalau bukan film tentang azab.

Sasha tersenyum kecil, tak menyangka bahwa Brama suka melihat film seperti itu. Debar di dadanya mulai berangsur normal. Namun, tak lama, saluran televisi berganti menjadi saluran olahraga. Ternyata dugaan gadis itu salah. Jelas, mana mungkin lelaki seperti Brama melihat film tentang azab, bukan?

Lama-lama Sasha lelah menebak suara-suara yang didengarnya. Lambat laun matanya pun terasa berat, sampai akhirnya terdengar suara dengkuran halus dari bibirnya.



Brama gelisah di depan ruang tamu. Berkali-kali dia melirik ke arah ruang makan, berharap Sasha tiba-tiba muncul karena kelaparan. Dia pun melihat ke arah kamar Sasha yang tertutup rapat. Pintu yang jaraknya hanya beberapa meter itu terasa sangat jauh. Tak ada tanda-tanda kehidupan di balik pintu tersebut.

Brama berjalan pelan, lalu menyalakan lampu di dalam rumah. Tubuhnya mematung di depan pintu kamar Sasha. Antara mau mengetuk atau memanggil gadis itu agar keluar menemaninya. Tangannya hendak mengetuk, tapi tertahan. Egonya yang tinggi mulai ikut memainkan perasaannya.

Minta ditemani Sasha? Yang benar saja. Bisa-bisa gadis itu GR dan berharap lebih padanya dan pada pernikahan yang tak pernah dia harapkan itu. Tak diharapkan? Bahkan Brama masih mencoba mencerna alasan kenapa mau begitu saja dijodohkan dengan Sasha. Apalagi melakukan pernikahan yang bisa dibilang sangat cepat.

"Sha? Kamu udah tidur?" Akhirnya sebuah kalimat tanya meluncur dari bibir Brama. Tidak minta ditemani, kan? Hanya bertanya apakah istrinya itu sudah tidur atau belum.

Brama masih berdiri di depan pintu, menajamkan pendengaran, barangkali terdengar gerakan dari dalam kamar. Nihil. Akhirnya lelaki itu menarik napas panjang, mungkin Sasha sudah terlelap karena terlalu letih seharian tidak berhenti beraktifitas. Ditambah dengan kondisi gadis itu yang memang baru sembuh.

Dengan perlahan, Brama berjalan ke arah televisi. Televisi memang diletakkan di sana, di atas lemari besar yang memang dipasang untuk memisahkan ruang tamu dan ruang makan. Dinyalakannya televisi tersebut, sama sekali tidak ada acara yang menarik perhatiannya.

Malam yang dingin dan sepi. Tak ada canda ataupun pertengkaran yang menghiasi hari ini. Brama pun merasakan ada kekosongan di hatinya. Keheningan membuat Brama mengingat sang perempuan pemilik hatinya yang telah pergi. Hati? Apakah Brama masih punya hati? Hatinya tak ada, hilang dibawa oleh perempuan itu.

Brama berjalan pelan ke arah jendela. Jendela di sini berbeda dengan di rumahnya. Rumah kecil dengan jendela yang juga kecil, tak bisa digunakan untuk melihat bintang. Dia menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu, memastikan sudah terkunci.



Brama sudah sibuk di dapur layaknya seorang chef profesional dengan dapur yang berantakan, padahal tujuan ya hanya satu, membuat mi goreng dengan telur dan sawi. Sampai dua mangkuk mi goreng tersaji di atas meja makan, dengan aroma khas yang menguar. Makanan favoritnya saat dia kelaparan, seperti pagi ini.

"Keliatannya enak banget nih. Bisa dibuat sarapan bareng ma Sasha," ujar Brama sambil tersenyum puas. Masa bodoh dengan keadaan dapur, nanti bisa dibersihkan sepulang sekolah.

Dilihatnya jam dinding yang jarum kecilnya menunjuk ke angka enam. Kurang tiga puluh menit lagi, dia sudah harus tiba di sekolah. Lalu pandangannya melihat ke arah kamar tidur Sasha yang pintunya tetap tak bergerak sejak gadis itu keluar dari kamar mandi.

Rencananya yang akan sarapan bersama Sasha, akhirnya harus diurungkan. Brama segera menghabiskan semangkuk mi jatahnya, lalu ke kamar mandi. Dia tak ingin terlambat. Keinginan untuk menunggu istrinya itu bangun pun memudar. Sasha bisa tak sekolah hari ini, toh gadis itu baru pulang dari rumah sakit.

Kini, lelaki itu mematut dirinya di depan cermin setinggi tubuhnya, memastikan bahwa tak ada yang salah dengan penampilannya. Rambutnya sudah licin, bahkan jika ada lalat yang mampir, akan terpeleset di sana. Tubuhnya juga telah harum, wanginya sudah bisa tercium dari kejauhan. Wangi khas parfum yang jelas tidak murahan. Kulit wajahnya pun telah diberi pelembab, agar terlihat segar. Seperti biasanya, dia terlihat tampan maksimal.

Brama keluar kamar, sepi. Tak ada tanda-tanda bahwa Sasha telah bangun. Dia mengangkat bahu pelan, lalu keluar rumah. Memanaskan mobil di luar pagar, agar tak membangunkan istrinya. Setelah mobil siap, dia pun melajukan mobilnya pergi.



Sasha menguap lebar. Dikerjapkan matanya perlahan. Sungguh dia tak pernah merasakan tidur selama ini, tubuhnya terasa sangat lelah. Matanya melihat ke arah jendela, sudah terang.
Gadis itu langsung melompat dari tempat tidurnya, diambilnya handphone jadul yang berada di samping bantalnya. Matanya melihat angka yang menunjukkan waktu. Ternyata sudah lebih dari jam enam.

"Ya Tuhan. Kenapa dia gak bangunin aku sih?" Sasha menggerutu sambil mengambil handuknya. Dengan cepat dia berlari ke arah kamar mandi. Tak sempat untuk mandi, dia hanya cuci muka dan gosok gigi. Siapa yang akan peduli dengan mandinatau tidaknya gadis itu, bukankah yang penting itu wangi?

"Ya Tuhan, apalagi ini? Bramaaa!!!" ujar Sasha sebal saat melihat ke arah dapur yang berantakan. Tak ada bagusnya sama sekali.

Gadis itu melihat ke arah jam dinding, tak ada waktu untuk membersihkan dapur. Jangankan untuk membersihkan dapur, untuk menyiapkan buku-buku sekolah pun tak ada waktu. Semalam dia lupa menyiapkan buku yang sudah dibawakan sopir. Apa mungkin karena dia terlalu banyak membayangkan sosok Brama?

"Bodohnyaaa kenapa bisa mikirin lelaki egois itu? Bahkan sampai tak membangunkanku semalaman," Sasha berkata dengan kesal pada dirinya sendiri.

Setelah memastikan pintu rumah terkunci, gadis itu segera berlari menuju gerbang kompleks. Untungnya tak terlalu jauh, dia pun bisa dengan mudah mendapatkan ojek untuk menuju ke sekolah. Walau jarak sekolah bisa dibilang dekat, gadis itu tak berani ambil resiko terlambat.

Sasha berlari-lari kecil saat melihat pintu gerbang ditutup perlahan oleh guru piket. Dia tak pernah terlambat sampai di sekolah, tapi hari ini berbeda. "Paaak Sasha belum masuk ...!"

Sayangnya teriakan Sasha dan beberapa murid lainnya diabaikan oleh guru piket. Beliau tetap menutup pintu gerbang, sehingga murid-murid yang terlambat itu hanya bisa gigit jari di depan gerbang.

"Ini semua gara-gara lelaki sialan yang bego itu! Harusnya dia bangunin aku! Awas aja kalo sampe ketemu. Habis dia nanti!" Sasha bersungut dengan tangan yang mengepal geram.




Alhamdulillah selesai juga part ini. Sepertinya ada miskom deh dengan mereka berdua. Napa gak pada jujur aja, ya? Kan enak tuh?

Eh, btw, jadi gak seru dong. 



Menjelang end ya. Jujur saja saya sedih, berasa dikejar-kejar penagih utang sama pembaca. Saya gak pernah merasa punya utang. Padahal si kecil lagi sakit dari Senin kemarin dan saya gak bisa ngapa-ngapain.

Selain nulis, saya punya 3 anak yang harus diurusin. Belum lagi kerja di penerbitan dan ngajar di sekolah. Kalau pembaca pada gak sabar ma lanjutan cerita ini, mau saya tamatkan saja. Biar gak dikejar-kejar terus. Sekian.