Negeri yang Tak Cinta Budaya Sendiri





Berbagi dan menginspirasi

Namanya Sheira. Senang aja rasanya ketemu dan kenal dia. Ternyata ngga semua orang Amerika itu 'nyebelin'. Sama kayak orang Indonesia. Ngga semuanya gaptek, malu-maluin, apalagi doyan ngebom. Hemmm ....

Tahu ngga apa kata Sheira tentang Indonesia?

Bule cantik asal Massachusetts Amerika itu bilang, dia belum lama di Indonesia. Sebelum sampai di Bali, bule cantik itu singgah dulu di Kota Jogja untuk belajar Bahasa Indonesia di sebuah kursus bahasa sederhana di sana. Setelahnya, dia lanjut ke Bali untuk kerja di lab Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

"Hei, udah lama kita ketemu tapi ngga pernah ngobrol, ya?" sapaan bule cantik itu membuat saya mengangkat kepala, yang tadinya konsen ngitungin duit hasil jualan. Sapaan itu akhirnya dilanjutkan dengan obrolan ringan.





Setelah ngobrol lama, saya tanya sama dia, "Gimana rasanya tinggal di Indonesia, khususnya Bali?"

Dia bilang, "Wow, Indonesia keren banget. Saya suka sekali dengan Indonesia. Saya suka mataharinya, budayanya, pantainya, cuacanya, keramahan masyarakatnya, semuanya," katanya penuh binar. "Memang sih, tinggal di Indonesia awalnya harus sabar. Saya yang terbiasa terburu-buru di Amerika, sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan budaya masyarakatnya yang terlalu santai.Tapi lama-lama saya jadi ikutan santai. Haha!" jelasnya panjang lebar seraya diakhiri tawa lepas.

Saya juga ikut tertawa mendengarnya. 

"Cuman yang ngga enak di Indonesia itu politiknya, kebanyakan korupsi." 

Saya yang orang Indonesia, agak tertusuk mendengarnya. Tapi ya, mau dikata apa. Itu memang kenyataan.

Sheira bilang, suka banget sama Bali. Suka surfing dan jalan-jalan keliling Bali kalo lagi waktu senggang.  Yang bikin saya salut banget nget sama dia, semua percakapan di antara kami, menggunakan Bahasa Indonesia. Belum ada hitungan tahun lho dia di negeri kita, tapi udah ngewes bahasanya. Benar-bener terbaik dengan keadaan di Indonesia sendiri, ya?

Anak muda jaman sekarang sukanya nggaya kebarat-baratan. Ngomong juga pake bahasa kebarat-baratan. Bahkan terang-terangan menyepelekan Bahasa Indonesia. Negeri macam apa yang ngga kenal bahasa sendiri? Negeri macam apa yang ngga bisa mencintai budaya sendiri? Bolehlah kita berpikiran kebarat-baratan. Tapi hati dan sikap, tetap lokal, semestinya.