Dijah Yellow dan Buku Seharga 145 ribu


Anisa AE - "Ya ampun .... Anisa kali ini ikut-ikutan nulis tentang Dijah. Please deh! Apalagi yang akan kamu bahas tentang wanita satu ini? Apanya coba?”
Please jangan komentar seperti itu sebelum membaca artikel ini sampai tuntas. Kan kasihan, kamunya jadi su'udzon. Padahal saya menulis ini untuk kita juga.
Okelah, akan saya mulai darimana mengenal sosok ini. Awalnya, saya melihat di hape suami saat dia membuka akun Mbak Dijah. Vidio dan foto yang diunggah lumayan lucu, kami tertawa ketika melihatnya. Lumayan menghiburlah untuk artis dadakan. Lalu, ada whatsapp dari salah satu teman wartawan yang memberikan sebuah link tentang bagaimana buku Mbak Dijah yang baru.
Dengan penuh penasaran, saya pun mulai mencari informasi tentang siapa itu Dijah Yellow. Ketinggalan sekali updatenya, bukan karena apa, karena saya tak punya televisi di rumah. Instagram pun juga jarang aktif.
Tapi ketika membaca status-status yang ditulis di fanspagenya, oh no! Selain PD abiz, sepertinya tak pantas diucapkan oleh ibu-ibu (gadis umur 33 tahun) kepada para artis yang lain. Semisal Agnes M, Sahrini (begini tulisannya?) atau yang lainnya. Semua kan ada etikanya. Bagaimana kalau orang-orang yang diejek dan dihinanya balik menuntut?
Lepas dari itu, banyak sekali hujatan pada Mbak Dijah. Bahkan tak jarang diucapkan oleh para hijabers di fanspagenya Mbak Dijah. Miris memang. Kalau tak suka, ya sudahlah. Blokir atau laporkan saja. Jangan sampai satu kebun binatang dan barang-barang yang keluar dari perut ditulis semua di FB. Hargailah orang lain, mungkin itu adalah caranya Mbak Dijah untuk tenar. 
Bagaimana dengan Shinta dan Jojo yang juga terkenal dari youtube? Bahkan banyak sekali yang mengidolakan. Well, apa karena mereka cantik? Lantas, apa karena tak cantik, lantas Mbak Dijah tak puya kesempatan seperti mereka? Terkenal dan menjadi bintang lewat sosmed?
Sedih juga ketika para penulis favorit mulai menghujat buku Mbak Dijah karena isinya yang bisa dibilang tidak sesuai EYD, menulis sak karepe dewe dan harga selangit, 145 ribu. Bahkan, penulis terkenal yang bukunya tebal-tebal juga tak semahal itu. Bahkan mereka membanding-bandingkan dengan karya orang lain. Tak sudi membeli bukunya dan lain sebagainya. Jika tak suka, ya sudahlah. Tak perlu seperti itu, cukup sewajarnya saja. Ada juga penulis dari Malang yang juga menulis seperti itu dan juga penulis besar yang menulis dengan gaya sarkastik. Ah ... itu para penulis favorit saya lho.
Apa karena Mbak Dijah menerbitkan secara indie, lantas kalian mengklaim seperti itu? Bukan karena saya pemilik penerbit indie, bukan. Itu lebih kepada sebuah proses menulis yang memakan banyak waku dan bukan sim salabim. Proses tersebut itulah yang perlu dihargai karena bukan instan. Kalau dibilang hanya asal-asalan, mungkin karena kurang pengetahuan di dalam dunia menulis.
Lalu bagaimana jika ada penerbit mayor yang tertarik untuk menerbitkan karena dia mulai terkenal? Iri dan merasa karya kalian lebih baik? Ah, ini tak ada sangkut pautnya dengan harga selangit dan penerbit indie kan? Toh banyak juga penulis tak cantik, indie, serta tulisan berantakan lain. Kenapa Mbak Dijah? Apa karena dia mulai tenar?
Dari banyaknya follower Mbak Dijah, memang ada beberapa yang membela. Walaupun itu bisa dihitung dengan tangan. Seperti saya? Ah, saya tidak membela, hanya menuliskan realita. Inilah yang saya lihat saat ini. Semua tentang Mbak Dijah, selalu Mbak Dijah. Entah itu hujatan atau pujian yang berseliweran di beranda. Dulu, tak sesanter ini, sudah beberapa bulan yang lalu. Namun, karena teman-teman di FB saya kebanyakan penulis, dan Mbak Dijah menulis buku, akhirnya bias terkenal di antara para penulis.
Nah, bagaimana agar tiap orang bisa melihat Mbak Dijah dengan baik? Saya juga mulai intropeksi diri.

1. Sadari Bahwa Dia Ciptaan Allah
Ya, Mbak Dijah adalah ciptaan Allah yang sempurna menurut-Nya. Sempurna dengan segala hal yang ada pada dirinya secara fisik. Jika berkata Mbak Dijah itu jelek, bagaimana dengan Allah yang telah membuatnya? Bukankah sama dengan menghina-Nya?

2. Sadar Diri
Memang sudah sifat manusia jika sombong ketika melihat orang yang ada di bawahnya. Namun, bukan berarti karena Mbak Dijah sombong, lantas kita ikut menghujat dong? Mungkin itu adalah caranya untuk eksis. Bisa dibilang cukup kreatif dengan segala yang dimilikinya.

3. Istighfar 
Sadarlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna di mata manusia lain. Pun dengan Mbak Dijah, ada saja banyak kekurangannya yang dilihat oleh mata kita. Ada perkataan buruk dari mulut Mbak Dijah yang didengar oleh telinga da membuat kita marah. Apa karena itu lantas kita bisa mencaci seenaknya? Istighfar adalah jalan satu-satunya agar melepaskan Mbak Dijah dari otak kita.

4. Tak Berguna
Apa yang kita lakukan ketika mencacinya? Apa dia lantas akan balik mencaci kita, lantas tak eksis di panggung hiburan? Yang mencaci tidak hanya satu atau dua orang, apa seua akan dibalas? Tentu tidak. Ah, selain menambah dosa kita karena menyakiti orang lain, juga akan membuat kita jelek di mata publik. Nah lho? Coba jika ada teman atau guru yang membaca cacian tersebut. Apa pendapat mereka tentang kita?

Semoga virus Mbak Dijah Yellow ini akan segera berakhir. Pindah ke virus baru yang lebih baik. Oke, tak ada gading yang tak retak, begitu pun dengan tulisan saya tentang Mbak Dijah Yellow ini. Saya hanya tak ingin melihat cacian yang berseliweran lagi di beranda. Cukup rasanya.


Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari ^^v