Wanita Wajib Bangun Pagi





Lari Pagi

Anisa AE - "Kowe iku wedok! Ndango tangi!" Begitu selalu ucapan Ibu dulu ketika saya telat bangun pagi. Alasannya klise, cepat sholat Subuh dan berangkat sekolah.

Itu terus berlanjut sampai saya bekerja, alasannya agar tidak telat berangkat kerja. Namun, itu adalah hal simpel yang sangat sulit dilaksanakan. Buktinya saja, banyak sekali yang sulit bangun pagi, termasuk suami saya.

Lantas, apa hubungannya wanita dengan bangun pagi?

Sadar atau tidak, bangun pagi menjadi suatu kewajiban bagi tiap wanita, dan itu perlu ditanamkan sejak dini. Tidak hanya wanita sih, tapi semua orang dituntut untuk bangun pagi. Orang zaman dulu selalu berkata bahwa kalau tidak bangun pagi, maka rezekinya dipatok ayam. Kenapa bangun pagi? Karena saat itulah para malaikat datang ke bumi untuk membagi rezeki.

Jika ada lelaki yang bangun pagi karena begadang, banyak yang menganggap biasa. Beda dengan perempuan. Hanya perempuan pemalas yang bangun siang. Well, padahal tiap bangun siang pasti ada alasannya, entah itu sakit atau begadang.

Seorang Ibu akan lebih cerewet ketika mengetahui anak gadisnya bangun siang. Kenapa? Karena khawatir si anak akan meneruskan kebiasaan itu sampai menikah kelak. Iya kalau suami sudah punya rumah sendiri, kalau tinggal di pondok mertua indah?

Kebiasaan yang ditanamkan Ibu membuat saya suka bangun pagi. Berlama-lama memandang wajah Asma atau hanya melihat jam pada layar hape. Lebih sering kalau sudah bangun, langsung ke kamar mandi.

Lantas apa yang biasa saya lakukan jika bangun pagi? Memasak air, mengecek cucian, bersih-bersih rumah. Untuk masalah dapur, saat ini dipegang Ibu karena saya masih mual jika mencium bau yang sedikit menyengat. Saya selalu berharap tiap Asma berangkat sekolah, semuanya sudah rapi. Itu pun jika saat saya sedang teler, selalu berharap suami mau bantu pekerjaan rumah. Heheh.

Kembali ke wanita dan bangun pagi.

Bangun pagi itu wajib. Itu yang selalu ditanamkan Ibu. Dapurlah yang paling utama. Selalu berharap anak dan suaminya sarapan dulu sebelum beraktifitas. Lalu cucian baju dan piring, sehingga saat sore semua sudah kering. Well, pekerjaan sebagai Ibu tak akan pernah berhenti dari pagi hingga pagi lagi. Lantas, apa saya punya alasan untuk bangun siang?

Selain alasan teler, saya jarang sekali bangun siang. Kalaupun saya kesiangan, selalu memastikan bahwa Asma sudah diurus oleh ayahnya dengan baik. Walaupun kadang suami jarang bantu, tapi dia selalu mengerti kondisi saya yang sering teler. Tak jarang dia ambil alih menyapu rumah, mengurus Asma, memasak, sampai cuci baju dan piring. Well, saat itulah dia terlihat sebagai lelaki paling tampan di jagad raya. Cieee.

Bayangkan jika seorang wanita tidak bisa bangun pagi.

Saat berada di pondok mertua indah akan menjadi gunjingan publik. Bahkan dicap sebagai wanita yang tak pantas dijadikan istri, apalagi jika tinggal di desa yang kebanyakan adalah orang rajin.

Jika sudah punya rumah sendiri, pasti suami dan anak terlantar. Mereka lakukan aktivitas sendiri di pagi hari, sampai belum sarapan saat mau berangkat kerja atau sekolah. Jika itu terus menerus terjadi, bisa jadi sang suami bosan dan anak jadi kekurangan gizi sarapan.
Iya kalau jadi nyonya, punya pembantu yang bisa disuruh mengerjakan semuanya. 

Bagaimana kalau buat makan saja pas-pasan? Apa masih punya alasan untuk bangun siang?

Mungkin bagi yang belum menikah dan masih ikut ortu, tak merasakan hal ini. Apalagi yang belum merasakan bagaimana hidup sendiri di kos. Cari uang sendiri buat makan, jalan-jalan, sampai kebutuhan sehari-hari. Apa-apa sendiri.

Saat ini saya merasakan bahwa gemblengan Ibu sangatlah berarti. Ketika punya keluarga sendiri, punya tanggung jawab sebagai seorang Ibu dan juga istri.

So, jangan remehkan bangun pagi. Lebih baik tidur lebih awal daripada bangun kesiangan.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v