Lagi-Lagi Salah (Dilema Bumil)

Anisa AE
Anisa AE
Anisa AE - Tak ada yang sempurna di dunia ini. Siang-malam adalah hal yang sangat wajar dan biasa. Tanpa ada yang tahu apa di baliknya. Begitu pula dengan hidupku. Mungkin itu yang membuat sifatku lebih tertutup pada orang lain.

Entah sejak kapan mulai ada jarak di antara kami, aku dan keluargaku. Tak tahu kapan tepatnya, yang pasti itu membuatku jauh dari mereka. Semakin jauh, sampai saat ini mereka seolah tak bisa kuraih lagi. Mungkin sejak SMP.

Izinkan kukeluarkan butiran bening dari mata.

Satu per satu mulai menjauh, kecuali adikku. Ibu dan kakakku, mereka seperti punya rahasia lain yang tak bisa kurengkuh, tentang keluarga kami. Padahal hanya ada kami berempat di keluarga ini, namun adikku sifatnya netral.







Mungkin ini karena hanya kehidupanku yang tidak normal. Belum bisa hidup sendiri, padahal sudah berkeluarga. Sementara kakakku sudah ikut suaminya dan adikku bekerja di luar kota.

Sebenarnya, siapa sih yang tak ingin hidup mandiri? Berpisah dari orang tua dan mulai menjalani semua dengan kepastian, tanpa campur tangan dari orang tua. Namun itulah aku dengan ketidaknormalan hidupku.

Aku masih tak tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah.
Masih tak bisa membiarkan Ibu membeli bahan dapur dan kebutuhan sehari-hari sendiri, karena Ibu tidak bekerja.
Takut terjadi apa-apa pada Ibu yang mulai menua.
Takut Ibu sendirian menghadapi segalanya yang datang tiba-tiba.

Ah, mungkin seharusnya adikku tak perlu keluar kota. Mungkin seharusnya kakakku tak usah ikut suaminya. Agar mereka bisa menggantikan posisiku. Lagi-lagi aku salah. Kehadiranku di sini bagai benalu. Tak bisa masak sendiri dan hanya bekerja. Belum lagi ketika harus ke kota untuk tugas yang lain. Padahal ketika kubilang untuk ambil pembantu, semua menolak. Pekerjaan rumah bisa dilakukan sendiri.







Begitukah? Sementara debay tak bisa diajak kompromi? Tubuh mulai lemas dan tak bisa diajak kerja. Lagi-lagi aku salah. Ketika hanya membiarkan bahan makanan mentah di atas meja, sama sekali belum diolah. Padahal aku selalu muntah ketika mencium bau-bau yang sedikit menyengat. Seringkali lebih memilih beli masakan matang di luar, tapi dicerca pula karena Asma tak mau makan.

Lagi-lagi aku salah, ketika rumah masih kotor, barang-barang berantakan di seluruh rumah. Aku harus bilang apa? Sementara Asma tak bisa diajak kompromi ketika mulai bermain dengan mainan anak  yang luar biasa banyaknya. Badan lemas ketika harus membersihkan rumah yang lumayan besar. Apa aku harus mengerjakan semuanya yang beresiko pada debay?

Ah ... lagi-lagi butiran bening meluncur, tak mampu lagi dibendung ketika tiap cerca diterima.
Seharusnya aku pergi dari sini. Memulai hidup baru dengan lebih baik.

Tapi lagi-lagi aku salah. Suami memikirkan segala dampak dan akibatnya. Bagaimana respon masyarakat ketika aku kos, bagaimana jika terjadi apa-apa denganku dan Asma ketika jauh dari keluarga? Padahal, siapa yang bisa kuandalkan di sini? Sementara suami kerja di luar kota.







Ke rumah mertua? Jangan ditanya. Entahlah, lagi-lagi aku salah. Jika sikon seperti ini, pasti menjadi gunjingan sekampung. Tak mungkin aku diam saja ketika mertua melakukan banyak hal, walaupun malas dan perut membesar. Belum lagi jika saudara suami pulang, karena semua masih berkumpul menjadi satu rumah. Mau tak mau, selalu aku yang mengalah, sebagai menantu dari anak paling bungsu.

Lagi-lagi aku salah. Ya, tak pernah ada yang benar untukku, termasuk menuliskan coretan ini.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v