Saat Harus Menjadi Yatim


Tak ada anak yang ingin menjadi yatim, tapi siapa yang bisa melawan kehendak Allah? Hidup dan mati seseorang ada di tangan-Nya. Begitu pun dengan menjadi janda, tak ada yang mempunyai cita-cita seperti itu.

Siang tadi ada seorang sanak saudara jauh yang ke rumah. Dia bersama dua anak kembarnya berumur empat tahun. Rencananya akan menginap di rumah, Ibu mengiyakan saja sambil bercerita kalau dua anak itu adalah yatim. Belum 40 hari kematian ayah mereka, sayangnya hidup ini terlalu pelik.

Sang ibu terlalu bosan di rumah sendirian, apalagi dengan dua anak yang tak bisa diam. Anak-anak tersebut tiap malam selalu minta untuk tidur di kamar ayahnya. Saya bisa merasakan rasa rindu yang dalam dari mereka. Apalagi bagi seorang istri yang kini berganti menjadi tulang punggung keluarga.






Ada perih ketika melihat mereka. Seolah mata itu membicarakan banyak hal yang tak sanggup saya raih.

Makin perih ketika sang ibu harus memulai semuanya dari nol karena harta dikuasai oleh anak bawaan dari suaminya. Ups, dulu saudara saya itu menikah dengan duda. Entah berapa anaknya, saya tak terlalu mengikuti perkembangan mereka.

Sampai akhirnya mereka ke sini, padahal sudah lebih dari 10 tahun tidak pernah datang. Dari cerita sang ibu, terlihat banyak sekali tekanan batin. Apalagi dengan mengurus dua anak yang sangat aktif, ditambah tak ada dukungan dari keluarga.






Ahh, saat anak-anak itu harus menjadi yatim, maka tugas saya untuk ikut menjaga mereka. Memberi perlindungan dan kenyamanan seperti yang saya berikan pada Asma, karena saya tak akan tahu bagaimana masa depan Asma kelak. Apa saya dan suami bisa menemaninya sampai dewasa nanti? Padahal ada banyak rahasia Tuhan tentang hidup dan mati.

Ingin rasanya saya mengajarkan dunia tulis menulis dan blogger bagi sang ibu. Sayangnya harus tertawa getir ketika dia tak bisa mengoperasikan handphone saya, apalagi hanya ber-ohh dengan tiap penjelasan saya tentang dunia blogger dan tulis menulis. Padahal saya berharap dia bisa menggunakan banyak waktu untuk mengasuh anak sambil bekerja, daripada bekerja sebagai tukang pencetak genteng yang gajinya tidak seberapa.






Di akhir pembicaraan, kami pun sama-sama berdoa agar anak kembar tersebut dan Asma bisa menjadi anak salihah dan hidup dalam lindungan-Nya. Biarlah orang tuanya saja yang susah, asalkan masa depan para krucil bisa bahagia.

Doa saya dalam hati, agar sang ibu mendapatkan suami yang baik dan bisa megayomi keluarga mereka. Bagaimanapun juga, anak-anak butuh figur seorang ayah yang bisa melindungi, memberikan arahan yang baik, serta menjaga mereka dari kejamnya dunia. Aamiin.

Jangan lupa follow blogku dan tinggalkan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae biar dapat update info tiap hari. ^^v