Review Film Surga yang Tak Dirindukan


Anisa AE - Sudah bukan hal baru ketika saya menceritakan tentang Asma Nadia dan karyanya. Itu juga yang membuat saya menamai anak pertama dengan nama Asma. Hehehe. Tapi kali ini saya tak ingin membahas tentang Asma Nadia dan Asma, tapi film yang diangkat dari novelnya Mbak Asma.

Yup, saya membaca novel 'Istana Kedua' ini saat Asma berumur satu tahun. Novel yang imut dan membuat air mata saya terkuras habis. Memang, kisah-kisah tentang poligami selalu membuat saya merinding. Novel ini adalah hadiah dari Ibu Yuliani, teman di facebook kepada saya. Hadiah yang dikirim bersama kipas mungil dari Banjarmasin.

Film ini diawali dengan masa kecil Pras yang harus rela kehilangan ibunya di depan matanya sendiri. Masa kecil yang sangat suram dan membuat dirinya berada di panti asuhan.






Akhirnya Pras bertemu dengan Arini, pujaan hatinya (Maaf, saya tak tahu nama bintang film) di panti asuhan. Tak menunggu waktu lama, mereka  pun membuat sebuah keluarga layaknya negeri dongeng dengan seorang putri. Keluarga yang samawa dengan segala kelebihannya, hampir tak ada masalah keluarga. Well, siapa pun pasti akan iri dengan kehidupan Arini saat itu.

Sampai pada suatu hari, Pras menemukan Meirose yang sedang hamil tua di jurang. Pras membawa ke rumah sakit, sampai dokter meminta keputusan untuk operasi cesar. Akhirnya Pras yang bertanggung jawab, Mei dan bayi laki-lakinya selamat, sayangnya Mei masih tetap ingin bunuh diri.

Pras pun mengetahui masa lalu Mei dari vidio yang ada di hape, dia teringat masa kecilnya, berjanji untuk menikahi Mei dan merawat Akbar. Mereka langsung menikah di rumah sakit saat itu juga.






Itulah awal dilema dalam keluarga Arini. Diduakan tanpa mengetahui siapa madunya. Sampai suatu hari dia menemukan resep atas nama Akbar dan mencari informasi tentang kebenaran tersebut. Hatinya sangat sakit ketika mengetahui bahwa Pras mengkhianati janji pernikahan mereka.

Arini langsung ke rumah Mei dan mendapati kenyataan yang pahit. Dia merasa tak terima diperlakukan seperti itu dan memutuskan untuk bercerai.

Ya, ya. Wanita mana yang sanggup untuk diduakan? Apalagi dikhianati dengan begitu dalam oleh orang yang sangat dipercaya. Saya pikir cerita ini akan selesai, seperti di novel. Nyatanya tidak.

Berbagai nasihat membuat Arini berubah pikiran, bisa menerima Mei dan Akbar di dalam keluarga mereka. Walaupun itu sangat berat baginya dan perlu perjuangan yang tidak sedikit.  Mbak Asma memang mampu membuat perasaan saya teraduk pilu.






Bagaimana perjuangan Arini dan akhir dari kisah keluarga mereka? Apakah akan berakhir tragis atau bahagia? Karena ya, pasti akan ada yang tersakiti.  Temukan jawabannya di dalam film ini.

Walau tak 100% sama dengan isi novel, tapi cukuplah saya memberi nilai 8. Kenapa hanya 8? Karena ada kejanggalan di akhir film yang membuat saya menggeleng pelan. Seperti apa? Tonton aja filmnya. Hehehe

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v