Aku gila? IYA!


Anisa AE - Pernahkah kau rasakan hidupmu sepertiku? Hidup serba susah dan harus terima apa adanya. Harus rela menjadikan kepala itu kaki dan sebaliknya hanya untuk sesuap nasi.

Merasa hidup itu selalu ujian dan berusaha tertawa di balik tangis. Tak ada yang mengerti, bahkan orang yang kau anggap menjadi belahan jiwa. Sampai lelah, tak sanggup hadapi semua.

Bosan, iya. Lelah, tak bisa dikata. Tapi pada siapa bisa bercerita segala gundah? Jika semua tak bisa menemukan ujung bahagia.






Pernahkah kau rasakan hidupmu sepertiku? Stres dalam tingkat akut, hanya segumpal darah dan sesosok bidadari kecil yang menemani. Mereka setia, walau sering aku sakiti.

Tak jarang tangan ini melayang ke kepala dan pipinya. Rambutnya yang panjang menjadi korban tarikan luar biasa. Tangisnya pecah, tapi aku malah tertawa. AKU GILA! Mungkin IYA. Walau kadang ada rasa menyesal menggumpal di dada setelah menyakitinya.






Tangis penyesalan pecah, tapi dia tidak. Dibawanya tisu dan dihapusnya air mataku. Bidadari kecilku tak pernah menyimpan dendam pada tiap kegilaanku. Bodohnya aku hanya berani padanya yang tak pernah marah, bukan pada dia yang membuat hidupku menderita.

Terkadang ada pemikiran untuk membunuh semuanya. Semua yang ada di sekelilingku, yang menyayangiku. Khususnya bidadari kecil dan janinku. Mereka belum bisa survive di dunia yang makin kejam ini. Aku tak ingin mereka gila sepertiku.






Jika ditanya kenapa begitu. Mungkin aku jauh dari Tuhanku, kurang bersyukur dengan apa yang diberikan untukku. Sungguh aku pun lelah. Lelah berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Lelah berkata bahwa aku bahagia.

Lagi-lagi aku tak punya kuasa untuk memendam semuanya. Ingin pergi saja ke ujung dunia, meninggalkan segala duka. Walau kusadar bahwa duka itu selalu ada.






Sebenarnya aku lelah menjadi istri dan ibu yang harus sempurna. Apalagi apa-apa harus mengalah dan tak boleh berkeluh kesah. Katanya itu adalah aib keluarga. Sayangnya, jika aku gila, maka tak  harus meraih rida-Nya.