Saat Harus Dibunuh atau Bunuh Diri


Anisa AE - Banyak yang bertanya kenapa saya hanya sekolah sampai SMP. Yup, biasanya saya akan menjawab bahwa hanya sekolah kelas satu saja dan tidak ada biaya untuk melanjutkan lagi, Alasan yang simpel, tapi tidak ada yang tahu ada kisah apa di balik kelas satu tersebut hingga saya harus keluar. Padahal bukan hal sulit jika harus meminta keringanan biaya sekolah seperti di SD dan SMP dulu.

Sebenarnya ada apa?

Ah, sebelum membaca lebih lanjut, saya akan bercerita sedikit. Jika tertarik, silakan dilanjutkan, bila tidak, monggo ditutup saja, karena nantinya akan terasa membosankan.






Kisah itu dimulai dari awal masuk SMA. Abah (ayah) tidak akan menyekolahkan saya jika tidak sambil mondok. Padahal cita-cita saat itu pingin jadi seorang guru dan penulis. Bagaimana bisa jadi guru kalau tidak sekolah SMA? Dengan berat hati, saya turuti keinginan Abah untuk masuk ke pesantren yang ada MA-nya (Madrasah Aliyah).

Mungkin karena terlalu ambisius dengan masa SMA yang indah, dari buku ataupun film, saya terobsesi mengisi mading (yang ternyata tak berfungsi dengan semestinya). Bayangkan saja, satu kelas hanya ada 13 murid. Itu pun kebanyakan anak pesantren.

Maaf, nama sekolah dan pesantrennya harus saya samarkan untuk menjaga nama baik mereka. :)






Di sekolah yang termasuk kurang maju tersebut, saya harus membagi waktu antara sekolah diniyah dan aliyah. Jelas sangat berbeda dengan waktu SMP dulu yang termasuk sekolah favorit. Di sini semua serba biasa dan saya kurang suka.

Sampai akhirya saya tak punya teman dan dibully habis-habisan di pesantren karena kurang bisa bergaul. Jangan bayangkan pesantren itu penjara suci yang isinya orang mengaji dan pintar agama, uh. Kalau ingat masa itu, sungguh saya pingin teriak.

Pesantren adalah dunia sesungguhnya. Di mana semua orang berlindung di balik kemunafikannya. Termasuk saya? Ya! Saya harus bisa menyesuaikan diri tanpa menjadi diri sendiri. Bahkan pengurus pesantren alias santriwati senior yang terpilih pun tak ada bedanya.

Saya marah? IYA!!! Saya marah!!!






Saat itu saya menyukai seorang santri pesantren putra yang juga bersekolah MA, namanya Mukhlas. Tapi saya tak mengatakan apa-apa, hanya sebatas suka. Tahu apa yang terjadi? Ada yang memberitahu bahwa Mukhlas kena tegur secara keras di pesantrennya karena saya. Jelas saya sedih dan kecewa, tak menyangka bahwa hal itu akan terjadi, padahal kami hanya teman biasa.

Saya menangis dan akhirnya diberitahu senior bahwa pacaran itu tidak boleh dan bla bla lainnya. Terang saya menolak keras karena memang merasa tidak melakukan hal itu. Tapi tetap saja saya yang disalahkan.

Sampai suatu hari ada kabar bahwa berita bahwa tentang Mukhlas adalah hoak yang dikarang oleh para senior pesantren. HOAKKK!!! Dan itu sangat menyakitkan. Saya merasa dibohongi mentah-mentah.






Saat itu kepercayaan pada pesantren dan teman memudar. Teman-teman dekat yang saya anggap sebagai 'sahabat' tak ubahnya ular. Di depan manis, di belakang malah mengejek saya habis-habisan. Terang saja kepercayaan diri yang saya bangun susah payah itu hilang. Saya benar-benar terpuruk. Masa SMA adalah yang paling sulit dalam hidup saya. Tak ada yang indah.

Mungkin saya GILA! Demi cita-cita lulus MA, saya harus bisa bertahan di pesantren. Lalu muncullah teman-teman khayalan di dalam hidup saya. Entah itu khayalan atau jin yang berkeliaran di pesantren. Saya tak tahu. Tapi bersama mereka, hidup itu terasa indah. Ke aula atau lapangan sendirian tiap jam satu malam adalah agenda yang tak bisa terpisahkan.

Saya gila? Ya! Mungkin saya gila saat itu.






Sampai sebuah insiden menghancurkan ketenangan hidup saya. Kamar saya dipindah, bersama seorang santriwati, namanya Eli yang memiliki kebutuhan khusus. Eli meminta agar sekamar dengan saya karena merasa cocok. Saya? Tidak merasa sama sekali, karena menurut saya saat itu, harus baik pada semua orang, termasuk Eli. Bukan seperti santriwati lain yang sering mengucilkannya. Mau tak mau saya harus pindah karena itu adalah 'tugas'.

Lalu satu per satu kejadian membuat saya makin benci pada pesantren dan para penghuninya.Apalagi disusul oleh wafatnya Abah pada semester pertengahan.

Ah, iya, saya lupa mengatakan bahwa pesantren tersebut milik paman, adik dari Abah. Tapi saya tak pernah merasakan diperlakukan beda. Sama saja dengan santri lainnya, malah pekerjaan lebih berat. Setelah hafalan Al-Quran, saya harus ke dapur untuk membantu masak dan cuci piring. Sepulang sekolah, tak ada waktu untuk tidur siang karena saya harus sekolah diniyah. Tak ada waktu untuk istirahat, jam belajar berkurang karena tiap belajar selalu diminta membantu pijat atau yang lain.

Sampai satu kejadian mengerikan sebelum kenaikan kelas, tepatnya sebelum ujian kenaikan kelas.






Ada santriwati yang kehilangan uang. Jelas satu pesantren geger, semua mencari tersangka, tak terkecuali saya yang sering bercengkrama dengan teman khayalan. Sampai akhirnya tuduhan mengarah pada saya, tanpa bukti yang jelas. Teman-teman saya mulai memberikan bukti bahwa 'saya mengaku' mengambil uang tersebut.

Bayangkan, teman yang entah bagaimana saya anggap sahabat, satu per satu meninggalkan saya karena fitnah yang tak jelas tersebut.

Sumpah Al-Quran sudah dilakukan dan tetap tak ada yang mengaku, termasuk saya. JELAS SAYA TAK MENGAKU KARENA SAYA BUKAN MALINGNYA!!!

Namun, desas-desus mulai terdengar dengan cepat, SAYA MALINGNYA! Ah, inikah penjara suci? Inikah sahabat? Inikah saudara?






Dengan putus asa, saya meminta bantuan pada teman khayalan, berharap mereka bisa memberi solusi yang tepat. Sumpah, tak ada teman yang bisa saya percaya lagi. Apalagi santri senior dan para saudara. Sayangnya saat itu saya pun merasa dibohongi lagi oleh teman khayalan yang mengaku tahu siapa pencurinya, tapi malah menyuruh saya tanya pada paman siapa pencurinya. Apalagi paman terkenal dengan jinnya yang banyak.

Kejadian tersebut dingin beberapa saat, tapi masih terdengar dengan jelas bahwa para senior menertawakan saya. Menertawakan teman khayalan dan segala ucapan yang mereka bilang bohong. Oke, saya hapus air mata dulu. Kejadian ini sungguh menghancurkan hidup saya dan membuat terpuruk.

Sampai malam sebelum ujian Matematika, semua santriwati dikumpulkan di mushola, dan paman saya mengatakan bahwa sayalah pelaku pencurian tersebut sambil menangis sesenggukan. Meminta maaf pada semua santriwati karena tidak bisa mendidik saya dengan baik, padahal saya adalah keponakannya.






Maaf untuk sepupu saya, anak paman. Itulah kenyataan sebenarnya yang sering kalian tertawakan. Sungguh hati saya sakit. Histeris dan marah saat itu juga, tak terima diperlakukan sebagai pesakitan yang saya pun tidak pernah melakukannya. Hiks hiks, sungguh saat itu saya pingin mati saja. Tak ada yang percaya pada saya, maupun bisa saya percaya.

Paman pergi dari mushola, saya mengikutinya dan mengatakan kalau bukan pelakunya. Saya tetap ngotot bahwa bukan pelaku pencurian tersebut. Sayangnya paman makin kalap dan malah mencekik leher saya. Saat itu saya pasrah, jika memang harus mati, itu yang terbaik. Saya lelah dengan kehidupan yang penuh dengan kepalsuan ini.

Sayangnya para sepupu datang, mencegah insiden pembunuhan tersebut dan menyuruh saya untuk pergi. Wahai para sepupu, jika kalian lupa, semoga ingat lagi bahwa kejadian itu sangat membekas sampai saat ini. Sampai saat kematian paman pun, saya masih belum bisa ikhlas untuk berkunjung ke makamnya.






Dengan hati yang masih galau, saya pergi ke dapur. Bukan untuk makan, tapi mencari pisau untuk bunuh diri. Sayangnya proses itu gagal karena saya phobia darah. Ketika darah mengucur, mata saya langsung gelap, namun bisa mendengar sayup-sayup keributan di sekitar yang menertawakan kebodohan saya dalam gagalnya insiden bunuh diri.

Keesokan harinya, saat bangun. Saya tak tahu siapa saya, siapa yang bersama saya. Well, tak ada yang bisa saya ingat kecuali Ibu dan Mimi (teman santriwati). Saya pun tak tahu penyebabnya, semua terasa kosong dan blank. Tak ada yang saya inginkan kecuali bertemu dengan Ibu. Sampai Zizah mengantar saya ke sekolah untuk ujian kenaikan kelas.

Sepulang dari ujian, saya pergi tanpa pamit. Meninggalkan pesantren hanya untuk mencari Ibu. Tanya pada tiap orang yang saya temui soal alamat yang ada di dompet. Sampai akhirnya saya bertemu Ibu, prosesnya pun tidak mudah, saya hampir dibawa orang.






Dua minggu berselang, ingatan saya kembali, Semuanya, insiden itu, sampai pada hal yang mendetail. Siapa saya dan siapa Mimi, santriwati yang ternyata menjadi ular paling berbisa di pesantren. Mungkin karena rasa benci, saya bisa mengingatnya.

Rasa ingin sekolah dan cita-cita sudah musnah. Tak ada lagi yang bisa menghapus rasa luka itu. Luka yang rasanya amat dalam.

Kini, 10 tahun lebih telah berlalu. Saya bisa bernegosiasi dengan hati untuk tetap berusaha baik di depan para sepupu dan bibi. Walau jika bertemu dengan teman munafik atau para santriwati lain yang dulu memanggil saya 'Popon' saat hilang ingatan tersebut, selalu ada rasa marah. Apalagi setelah insiden itu, ada santri senior yang akan menginap di rumah saya. Jelas saya hengkang dari rumah, tak terima seatap dengan mereka






Ah .... Itu sekelumit kisah saya di SMA. Menyedihkan? Miris? Tidak juga. Karena dengan kejadian itu, saya bisa tetap bertahan sampai saat ini. Bisa ada di sini, menulis untuk kalian, dan membagi kisah yang tak seharusnya diceritakan. Kenapa saya ceritakan saat ini? Mungkin kini hati saya bisa lebih menerima kejadian saat itu. Toh semua sudah berlalu. Buat para santriwati dan senior, khususnya para sepupu yang 'kebetulan' membaca tulisan ini, saya mohon maaf. Tapi itulah yang saya rasakan, itulah kenyataan yang selama ini saya pendam, dalam ....

Nah, sekarang, sudah tak penasaran lagi dengan masa SMA saya?

Tulisan ini diikutkan dalam GA Nostalgia Putih - Abu

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v