TOP dan Germas Demi Indonesia Bebas HIV AIDS


Anisa AE - Tanggal 1 Desember merupakan Hari AIDS Sedunia. Bertepatan dengan hari tersebut, diadakan pula “Temu Blogger Kesehatan”, melalui Kementrian Kesehatan RI sebagai penyelenggara sekaligus untuk mengkampanyekan Hari AIDS Sedunia tahun 2016. Temu blogger ini mengusung tema Nasional “Mari Kita Berubah, Masa Depan Gemilang Tanpa Penularan HIV”. Sementara itu, ‘getting to zero’ merupakan Hari AIDS internasional, yang mengandung makna untuk mengakhiri epidemi AIDS di tahun 2030 kelak (END AIDS BY 2030).

Hari Kamis, tanggal 1 Desember 2016 menjadi salah satu seminar yang memberi dampak besar untuk edukasi masyarakat mengenai HIV/AIDS. Seminar kesehatan yang bertempat di Hotel Tunjungan, yang lokasi tepatnya berada di jalan Tunjungan 102-104, Ruang Mawar Lt. 2, bertujuan untuk mengajak masyarakat luas supaya tidak takut lagi untuk bersosialisasi dengan ODHA atau orang dengan HIV/AIDS. Selain itu masyarakat juga diharapkan untuk melakukan tes HIV/AIDS.

Karena pengendalian dan pencegahan HIV/AIDS itu adalah perhatian bersama, maka tujuan End AIDS By 2030 hanya mampu tercapai jika seluruh lapisan masyarakat bekerja sama untuk mencegah penularan HIV pada orang yang sehat. Melakukan tes HIV/AIDS menjadi indikator yang paling jitu untuk mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak, semakin cepat seseorang mengetahui dirinya merupakan ODHA, maka semakin kecil kemungkinan ia menularkan virus tersebut pada orang lain (sengaja maupun tak sengaja). Selain itu, semakin cepat ODHA mengetahui kenyataan tersebut, semakin cepat pula tindakan medis akan dilakukan sehingga ODHA tetap bisa hidup normal seperti mayarakat pada umumnya.


Pada seminar ini, Ibu dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes , yang merupakan Direktur P2PML Kemenkes RI, berbicara mengenai “Situasi Epidemi HIV/AIDS Nasional Dan Kebijakan Program Pencegahan Pengendalian HIV/AIDS”. Dengan diadakannya kampanye peduli HIV/AIDS saat ini, maka diharapkan pengetahuan masyarakat mengenai virus yang menular dan berbahaya ini bisa semakin banyak, sehingga masyarakat bisa langsung mengantisipasi setiap gejala yang muncul.

PR untuk kita, masyarakat yang peduli HIV/AIDS adalah mengenyahkan stigma negatif tentang penderita HIV/AIDS, mereka juga saudara kita, sama-sama berhak menikmati hidup tanpa judgement miring perihal virus yang menginfeksi mereka. Karena tak semua ODHA berasal dari kalangan nakal, 17%-nya saja justru merupakan ibu rumah tangga yang berdiam di rumah, tertular HIV dari suaminya yang doyan ‘jajan’.


Selanjutnya Bapak Drg. Oskar Permadi MPN, yang merupakan‎ Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat – Kemenkes RI, berbagi informasi mengenai GERMAS atau Gerakan Masyarakat Sehat. Pencanangannya membawa misi :


- Menurunkan beban penyakit yang ditanggung mayarakat

- Demi menghindari penurunan produktivitas penduduk akibat penyakit mematikan terutama HIV/AIDS
- Menurunkan angka beban pembiayaan pelayanan kesehatan (akibat meningkatnya penyakit dan pengeluaran kesehatan)

Menerapkan gaya hidup sehat dengan konsumsi buah dan sayur, olahraga teratur dan tak merokok maupun minum alkohol menjadi poin penting dari Germas. Kemudian, drg. Ansarul Fahruda, yang merupakan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan Provinsi telah menargetkan 2020 sebagai zero kasus penyebaran HIV/AIDS Jawa Timur.


- zero penularan HIV/AIDS,

- zero kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan HIV/AIDS, serta
- zero stigma HIV/AIDS bagi ODHA.

Menghapus stigma negatif pada ODHA bukan hal mudah, maka karena itu kampanye-kampanye kesehatan seperti ini harus sering dilaksanakan dan merangkul lebih banyak lagi masyarakat untuk menyebarkan pesan moral, bahwa ODHA juga berhak hidup normal dan diterima masyarakat.


Yayasan Mahameru Surabaya merupakan yayasan peduli HIV/AIDS yang giat mendampingi ODHA.
Pendamping tersebut orang yang sudah paham kode etik pendamping (seperti jangan meminjamkan barang/uang pada ODHA, jangan menginap dan lain sebagainya, semata-mata untuk kebaikan ODHA itu sendiri). Fungsi pendamping adalah untuk memberikan konseling, mendampingi dan menyemangati ODHA.

Akhir kata, jangan menyerah sekalipun hidup sebagai ODHA. Sebab banyak juga ODHA yang mampu berkarya, juga menikah dan memiliki anak sehat tanpa HIV/AIDS, berkat pengetahuan dan pengobatan khusus yang dilakukan bagi pasien HIV/AIDS.

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v