Penyebab Ibu Kandung Aniaya Bayi Calista






Anisa AE - Beberapa saat yang lalu ada berita menghebohkan soal bayi yang merenggang nyawa karena dianiaya oleh ibu kandungnya sendiri. Bayi bernama Calista yang diketahui masih berumur 1,5 tahun harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD Karwang dikarenakan koma setelah dianiaya oleh ibu kandungnya yang bernama Sinta (27 tahun).

Sangat disayangkan jika seorang ibu kandung bisa tega menganiaya anaknya yang bahkan masih usia balita. Menurut sumber yang saya peroleh dari berita harian Viva, Sinta menganiaya bayi Calista dikarenakan tekanan emosi rumah tangga dan ekonomi yang tidak stabil.

Sinta diketahui kerap melampiaskan kekesalannya dalam rumah tangga pada sang bayi. Bayi Calista kadang dicubit dan dipukul di bagian kepala, tangan, kaki, juga punggungnya. Hal ini tidak berlangsung sehari saja, melainkan sejak januari hingga maret 2018 lamannya.


Hendy selaku saudara Sinta mengatakan jika perlakuan Sinta pada bayi Calista yang masih kecil itu disebabkan oleh keadaan rumah tangganya yang rumit. Suami Sinta sudah lama tidak ikut andil dalam membiayai kebutuhan bayi Calista yang diketahui juga mempunyai saudara kandung yang berusia 6 tahun.

Mungkin saja menjadi single parents dengan dua anak membuat Sinta depresi dan berakibat perlakuan buruknya pada bayi Calista. Apalagi ekonominya yang terbilang sulit, membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih.


Atas perbuatannya pada bayi Calista, sang ibu kandung (Sinta) sudah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan anak kandungnya itu. Pihak kepolisian akan memprosesnya secara hukum ke pengadilan. Bukan dengan tuduhan pembunuhan atau semacamnya, tapi lebih ke kekerasan fisik. Karena bayi Calista meninggal bukan atas dibunuh, melainkan luka akibat kekerasan.


Proses pemakaman bayi Calista dihadiri oleh banyak orang termasuk anggota kepolisian setempat

Banyak pihak yang turut prihatin atas musibah yang menimpa bayi Calista. Bahkan diketahui pada pada 25 Maret 2018 kemarin, bayi Calista harus tutup usia. Bayi yang tadinya ceria, kini sudah tidak ada lagi. Meninggalkan duka bagi keluarga dan saudara yang ditinggalkannya.

Sedih sekali mengetahui kabar duka seperti ini. Meskipun saya bukanlah sanak saudara dari bayi malang ini, tetap saja rasa sedih di hati saya tidak terelakkan. Bagaimana mungkin seorang ibu yang nyatanya dengan susah payah mengandung dan melahirkan anaknya tega menganiaya hingga anak itu merenggang nyawa.

Saya pun mengetahui bagaimana sulitnya jika harus menjadi single parents dengan dua anak. Tapi jangan lah kita melampiaskan semua masalah pada anak. Anak tidak salah apa pun, tidak tahu apa pun, bahkan masih terlalu kecil untuk mengetahui apa yang dialami orang tuanya.

Mereka anugerah dari Allah yang harus dijaga sebaik mungkin, amanah yang harus dilindungi. Di luar sana masih banyak orang yang tidak mendapat keberuntungan menjaga amanah ini dari Allah. Bahkan ada yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan momongan.

Dan kasus Sinta yang menganiaya Calista ini salah satu khasus yang tidak terjadi satu kali saja. Di luar sana juga banyak para ibu yang berfikiran dangkal dan tega menganiaya anaknya hanya karena masalah ekonomi.

Saya berpikir, bukan kah kalau kita punya masalah ekonomi harusnya dibicarakan dengan saudara atau teman, jika saja suami sudah tidak bisa diajak kompromi. Jangan dipendam sendiri dan berujung depresi seperti Sinta. Ya, kata Hendy saudara Sinta mengatakan jika ibu kandung bayi Calista ini cukup pendiam dan tidak banyak cerita, bahkan masalah sekecil apa pun.





(Kiri) Sinta ibu kandung dan pelaku penganiayaan bayi Calista

Oleh sebab itu, keluarga sangat terkejut ketika mendapat kabar bayi Claista dalam keadaan kritis di rumah sakit. Karena keluarga tidak habis pikir jika Sinta akan berbuat sampai sejauh itu.

Dari kejadian ini, dapat diambil kesimpulan jika pikiran depresi karena kehidupan bisa berakibat buruk bagi orang sekitar. Ceritalah pada teman atau saudara untuk meringankan beban pikiran, meskipun nantinya tidak sedikit yang bisa memberi solusi, setidaknya pikiran akan jauh lebih tenang.
Juga banyak-banyak istigfar dan berdoa, karena semua cobaan pasti akan diberikan jalan oleh Allah.


Sejauh ini, dari khasus bayi Calista kita bisa mendapat pelajaran berharga. Jangan sampai melampiaskan sekecil apa pun kekesalan pada anak. Meskipun hanya berupa cubitan, nyatanya jika berlangsung berulang-ulang bisa merenggut nyawa juga.

Semoga arwah bayi Calista tenang di sisi-Nya, juga keluarga yang ditinggalkan tabah dan ikhlas. Aamiin.

All source photo from Viva.co.id





Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v