#Nyinyir








Anisa AE  Entah kenapa saya paling menghindari yang namanya nyinyir. Karena saya tak tahu bagaimana perasaan orang lain pada komentar maupun status yang saya buat. Apalagi di dunia sosmed yang entah kenapa terkenal dengan netizen selalu benar.

Misalnya di dunia penerbitan, beberapa owner dan penulis pun punya karakter sendiri. Ada yang suka pamer, suka bantai naskah, suka mengkritisi orang lain. Pun banyak yang minta masukan, tapi pas diberi masukan, malah baper tanpa ujung.

Saya punya teman penerbit yang menganggap owner penerbit lain itu musuh, sampai saya diblokir. Saya punya teman juga yang mengajak owner lain maju bersama. Jangan ada persaingan tidak sehat di antara kita.

Lagi booming anti vaksin, eh ndilalah saya hanya bisa mengelus dada. Kubu pro dan kontra, semua adalah teman saya. Bahkan ada yang saling unfriend karena tidak sepaham soal vaksin ini. Tidak tanggung-tanggung, perang di sosmed dengan mencari dukungan pun semakin menjadi.

Berita hoax makin menyebar, diimbangi dengan bantahan-bantahan yang lain. Berbagai sumber (katanya) dari sang ahli pun menyebar bak jamur di musim hujan. Saya cukup tahu diri karena bukan ahli di bidangnya. Machin dan Michan sehat setelah mendapat vaksin, itu sudah cukup.

Booming lagi soal emak-emak yang malas saat memberikan anak makanan seperti nuget dan lainnya. Semakin ramai saja tuding menuding, mengatakan bahwa pilihannya adalah yang terbaik.







Ah, hanya pelaku yang mengerti bagaimana keadaan di dalam rumahnya. Kita tak tahu bagaimana sibuknya dan alasan sebenarnya mereka memilih hal itu. Bagi saya, rumahku adalah rumahku, rumahmu adalah rumahmu. Sudah puas dengan nyinyiran yang ngalor-ngidul di sosmed.

Booming yang terbaru soal pilpres nanti. Sebenarnya saya sudah memilih siapa yang layak, tapi entahlah, tiba-tiba saja pingin golput melihat banyak nyinyiran di beranda Facebook tentang cawapres. Padahal saya tahu, satu suara pun sangat dibutuhkan nanti. Apa akhirnya nanti saya memilih? Padahal pemilu masih tahun depan, tapi ramainya sudah dimulai saat ini.

Entahlah, saya cukup jadi pemerhati. Cukup tahu bagaimana karakter tiap orang, tidak perlu ikutan nyinyir seperti yang lain. Ya, walaupun ada juga yang (katanya) nyinyir itu baik. Hm, saya lebih menyukai kalau yang baik itu dikatakan dengan santun, mengatakan plus minusnya, bukan minusnya saja.

Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Tolong ingatkan saya jika mulai nyinyir pada orang lain, karena saya pun manusia biasa yang sering salah.
Yuk ngopi dulu. :)

#hindarinyinyir

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v