Lulusan SMP Bisa Apa?






Lulusan SMP itu bisa apa, ya? Hm, saya tak tahu sih harus menjawab apa. Karena bagi saya, bisa itu bukan karena ijazahnya, tapi karena orang tersebut mau belajar.

Dulu, setelah putus sekolah, saya sempat bekerja di warung selama 2 minggu masing-masing warung, total 2 warung (walau nyatanya sampai saat ini belum bisa masak enak, bisanya masak mie instan). Selanjutnya saya bekerja sebagai operator wartel, ya kerjanya gak ngapa-ngapain, cuma nunggu pelanggan. Saat itu, hape sangat langka, jadi banyak yang menggunakan jasa wartel.

Tidak lama sih, 3 bulan kemudian saya pindah kerja ke pabrik rokok. Bukan sebagai bagian mesin atau yang lain. Bisa ditebak dong hanya dengan modal ijazah SMP, hanya bisa sebagai buruh menggiling rokok. Bagian packing saja yang dicari itu lulusan SMA.

Cukup lama saya di pabrik rokok, 3 tahun. Lumayan juga ya. Banyak sekali suka duka yang saya alami, termasuk sering pingsan di pabrik karena mempunyai darah rendah. Pernah juga kena typus, tapi saya harus tetap kerja.

Baca juga: JALAN-JALAN KE WMM EXPO 2018

Di sela semua pekerjaan yang saya lakukan, ada satu kebiasaan yang tak pernah hilang, membaca. Buku apa pun pernah saya baca sejak SD, buku lama semacam Layar Terkembang pun pada masa itu. Kalau ada yang bertanya soal Abdullah Harahap, saya pun tahu. Sulit sekali menemukan bacaan yang cocok untuk saya saat itu, karena hampir semua buku di perpustakaan sudah pernah saya baca.

Setelah keluar dari pabrik rokok, beberapa bulan saya menganggur, sampai akhirnya daftar di pabrik rokok yang lain. Itu pun tak berlangsung lama, hanya beberapa bulan. Mengingat kondisi kesehatan saya yang tak pernah fit.





Setelah menikah, saya LDR dengan suami. Lalu untuk tetap melanjutkan hobi membaca, saya pun berselancar di dunia sosmed. Waktu terbagi? Jelas. Tapi saya menemukan hal lain dari sana, yaitu teman-teman yang juga suka membaca, lomba menulis yang bertebaran, juga nama penerbit-penerbit yang dulu pernah saya baca buku terbitannya.




Akhirnya, saya mengajak beberapa teman untuk membuat lomba menulis di salah satu grup. Bahkan ada anggotanya yang masih sangat dekat dengan saya sampai saat ini, Eric Keroncong Protol. Sayangnya admin grup tidak amanah dan membuat banyak anggotanya kecewa, termasuk saya.
Tak berapa lama, saya pun membuat proyek nulis bareng berbayar 50k per orang. Tiap orang mendapat 1 buku terbit, belum termasuk ongkir. Itu sekitar tahun 2012.

Cibiran dari para penulis mayor datang silih berganti. Mereka berkomentar, buat apa membayar jika ternyata mendapat royalti dari penerbit? Mereka tidak salah, saya pun tidak merasa salah. Ini adalah jalan yang saya inginkan bersama teman-teman lain yang ingin mempunyai buku sendiri, walaupun hanya antologi.

Melihat minat saya pada dunia literasi, suami mendukung. Dia memberikan hapenya yang saat itu sudah canggih (menurut saya) untuk dijadikan investasi. Investasi bagaimana? Hape dengan tombol abc-def itu saya gunakan untuk mengedit naskah. 1 naskah berisi 4-5 halaman, 1 buku berisi 25 naskah. Bayangkan bagaimana saya mengedit 100 halaman lebih dengan menggunakan hape, kulit jari jempol pun menebal. Bahkan saya bisa mengetik SMS dengan mata tertutup, karena sangat hafal dengan letak hurufnya. Sampai saat ini, hape itu masih saya simpan di kantor AE.

Nulis bareng terus berlanjut sampai 8 buku. Kapan saya punya komputer? Pada saat nubar yang ke-4. Namun saya baru bisa mendirikan AE pada nubar ke-8. Bagaimana belajarnya? Saya belajar sendiri dan bertanya pada teman Bagus Yuli Hidayat bagaimana membuat penerbitan. Teman satu ini tidak pelit membagi ilmunya. Terima kasih. :)




Akhirnya saya punya penerbitan dengan status masih ijazah SMP. Lalu, hasil dari AE itulah yang membuat saya bisa melanjutkan ke Paket C. Itu pun atas dukungan dari teman-teman mahasiswa yang ikut nubar saya. Alhamdulillah atas izin Allah, saat ini sudah punya tim yang siap membantu penerbitan yang tengah saya bangun. Walaupun masih jauh dari penerbit-penerbit yang lain.
Jadi, kalau saya yang ijazah SMP saja bisa jadi seperti ini, bagaimana dengan Anda yang ijazah SMA ataupun sarjana? Pasti bisa menjadi lebih hebat dari saya.

Salam inspirasi. :)




12 comments:

  1. Masya Allah, sooo inspiring mbak

    Jadi malu aku, udah lulus S2 masih gitu-gitu aja, belum menghasilkan satu buku pun bahkan indie pun enggak :(

    Alhamdulillah berasa kena tampar baca ini!!!
    Harus bisa bangkit lagi di dunia kepenulisan yang lama terlalai dan udah berdebu karna alasan mengejar pendidikan dulu.

    Semangat nulissss!!!!!

    Syukron Mbak Nisaaa!

    Warm regards,
    Penulis cerpen yang dari SMP juga bermimpi punya buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga kedepannya bisa lebih baik ya :)

      Delete
  2. di balik kesuksesan selalu ada kesulitan yang dihadapi. ceritanya bisa bikin orang yang bergelar sarjana yang belum menghasilkan "sesuatu" jadi iri, tapi bisa bikin semangat juga. nice share mba. :)

    ReplyDelete
  3. Keren mba, inspiratif, makasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  4. Masya allah mbak. Terima kasih ya :') Saya jadi semangat lagi :))

    ReplyDelete
  5. benar mbak. ijazah itu ibarat cuma kertas legal yang memuluskan jalan bagi beberapa orang yang kerja di pemerintahan atau perkantoran, seperti saya misalnya. ijazah bagi saya nggak lebih dari sertifikat yang memuluskan obsesi saya sebagai pengajar namun penghasilan utama saya justru bukan berasal dari ijazah atau sertifikat apapun tapi berasal dari kedua jari saya. dengan menjadi content writer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya itu tergantung bagaimana pandangan orang masing-masing :)

      Delete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.