Pengalaman Operasi Caesar di Wafa Husada Pakai BPJS






Anisa AE - Ibu mana yang tak ingin melahirkan secara normal? Namun apa daya, tiga kali melahirkan, tiga kali pula saya menjalani operasi. Operasi pertama di RS Mitra Delima, operasi kedua di RS Hasta Husada, sedangkan operasi terakhir adalah di RS Wafa Husada, tanggal 16 Oktober 2018.


Awalnya saya berniat menunggu kabar dari Dokter Yayuk, tapi belum mendapat kabar, perut sudah mules-mules. Sering kaku dan kram. Saya pikir biasa saja, mengingat waktu perkiraan kelahiran adalah akhir bulan. Bahkan saya sempat ke Klinik Jaya Kusuma Husada untuk USG. Memastikan calon bayi baik-baik saja.



Sayangnya pada jam lima sore, tiba-tiba saja air ketuban saya keluar dengan deras. Membasahi celana yang tengah saya gunakan saat itu. Padahal pada waktu yang sama, suami sedang mengantar Asma ke dokter. Asma habis jatuh saat bermain di sekolah, sekitar matanya luka dan bengkak.

Tanpa menunggu lama, saya memesan grab untuk mengantar ke RS Wafa Husada. Untungnya Meiga masih belum pulang, dia ikut mengantar ke RS. Suami saya pun langsung ke RS setelah pulang dari mengantar Asma.

Setengah enam sore, saya sampai ke RS Wafa Husada, langsung ke ruang IGD.
Sampai di sana, saya dan suami menjawab beberapa pertanyaan perawat. Selanjutnya, Meiga langsung ke ruang pendaftaran pasien, saya dibawa ke ruang bersalin. Di ruangan baru, saya mendapat suntikan untuk mengetes alergi obat, lalu ditanya soal hasil tes ANC terpadu. Suami pulang untuk ambil hasil tes dan buku ibu dan anak yang ketinggalan.

Tak lama, langsung dilakukan pencukuran rambut di kemaluan. Pemasangan kateter, juga infus. Lumayan bikin hati berdebar karena saya cukup phobia dengan jarum suntik. Mau tidak mau, itu harus saya lalui. Lalu melakukan tanda tangan persetujuan untuk melakukan tindakan operasi sekalian steril.

Entah jam berapa, saya sudah dibawa ke ruang tunggu operasi. Baju diganti oleh perawat, menunggu antrian untuk dibedah sambil menahan sakit perut yang tiba-tiba saja terasa kram.

Saat di ruang operasi, saya melihat dua lampu besar di atas tubuh. Jari di tangan kiri diberi sebuah alat penjepit, entah apa namanya. Sedangkan lengan tangan kanan ada alat tensi darah. Menunggu memang melelahkan, terasa sangat lama walau nyatanya hanya beberapa menit.


Lalu beberapa perawat dan dokter anestesi datang. Meminta saya untuk bangun, duduk, dan menundukkan kepala. Rasanya mengejutkan saat jarum suntik mengenai punggung. Sampai akhirnya saya ditidurkan lagi.


Operasi kali ini berbeda dengan dua operasi sebelumnya. Sebelumnya, saya hanya diminta untuk 'mlungker', lalu tak ingat apa-apa lagi. Kali ini saya malah bertanya ke perawat, kenapa masih terasa saat dipegang?

Akhirnya Dokter Yayuk datang, menanyai saya soal operasi anak ke berapa dan langsung steril atau tidak. Setelah itu, saya tak merasakan apa-apa lagi untuk daerah dada ke bawah. Sempat saya rasakan pusing dan terdengar bunyi aneh. Entahlah.

Antara sadar dan tidak, tubuh saya menggigil. Bergetar dengan keras, kedinginan. Lalu saya lihat di pantulan lampu atas dada saya, bayi berwarna merah. Alhamdulillah, lalu semuanya gelap.

Bangun, tubuh masih menggigil, tidak bisa digerakkan. Saya sudah sadar, tapi rasanya mata tidak bisa terbuka. Perawat di ruangan itu membangunkan saya, tapi seperti tak ada tenaga. Rasanya tetap dingin dan tubuh saya menggigil. Entah ini efek apa.



Lama, tubuh saya normal kembali. Sekitar jam sebelas malam, saya bersama dua pasien lain yang juga operasi, dipindahkan ke ruang inap. Saya di kamar nomor 203.

Suami saya datang tergopoh mengikuti saya. Tersenyum lega saat saya membuka mata. Katanya, anak kami perempuan. Cantik, berwarna merah, seperti kakaknya dulu. Ah rasanya lega. Tak sabar ingin bertemu buah hati yang sudah sembilan bulan di kandungan saya.

Walau beberapa kali merasakan sakit pasca operasi, tapi tetap tak bisa mengimbangi rasa bahagia mempunyai seorang putri lagi. Putri terakhir dalam keluarga AE.

Semalaman, suami menjaga saya sambil mengayunkan buku kecil agar saya tidak gerah. Kipas angin di ruangan itu tidak bisa bergerak ke kiri dan kanan, hanya tengah. Hasilnya, suami harus rela kipas-kipas wajah dan leher saya, bergantian dengan mertua. Beberapa kali saya terbangun karena merasakan sakit dan nyeri pada bagian perut habis diperasi.


Keesokan harinya, walau belum kentut, saya boleh makan sarapan yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Lalu ada perawat yang memberi beberapa suntikan pada infus. Suntikan terakhir rasanya panas, sama seperti dulu saat suntikan setelah operasi. Tapi kata perawat, obatnya tidak membuat panas. Itu cuma sugesti.

Hah? Yakin tidak membuat panas? Dia udah pernah disuntik pakai obat ginian belum sih? Kata kakak saya yang 2x operasi, rasanya memang panas saat obat masuk. Sebelum disuntik, siapkan waslap dengan air dingin dulu untuk meredakan rasa sakit dan panasnya. Saya yang operasi tiga kali, rasanya juga panas kok.




Lalu ada perawat yang bagian membasuh tubuh saya dengan waslap, mengganti baju operasi dengan baju rumah sakit. Juga memasangkan pembalut yang saya yakin tidak pas. Ya memang saat bisa bangun, seprei dan baju sudah terkena banyak darah nifas.

Bagi yang sudah mengurus BPJS Calon Bayi, langsung saja ke kantor BPJS dengan membawa beberapa surat yang dibutuhkan untuk mengaktifkan BPJS. Jangan lupa minta surat keterangan lahir ke RS. Fitri dan Meiga mengurus berkas untuk mengaktifkan BPJS, langsung bayar agar bisa diaktifkan. Setelah aktif, membawa surat ke bagian perawatan bayi, diberi surat pengambilan bayi saat pulang nanti. So, saat pulang tidak perlu membayar.

Obat suntik diberikan 3x, makan juga 3x, tambahan pencuci mulut antara jam makan pagi dan makan siang. Sore hari, keteter dilepas, saya diharuskan belajar duduk dan berjalan sendiri ke kamar mandi. Setelah sebelumnya diminta belajar hadap kiri dan kanan. Rasanya luar biasa, semriwing gitu di bagian luka. Suami berjaga sendirian karena harus membantu saya belajar. Keluarga saya yang lain di rumah, menjaga dua anak yang lain.

Baca juga: TAMAN BACA IMPIAN

Hari ketiga, infus dilepas, tidak ada suntikan lagi. Sayangnya sarapan datangnya lebih lama dari kemarin, jam setengah delapan baru datang, itu pun tidak ada sendoknya. Suami ke Indomaret buat beli sendok karena saya sudah kelaparan.



Perawat datang, konfirmasi kalau pulang hari ini, tapi menunggu Dokter Yayuk dulu untuk dilihat. Tak berapa lama, di kamar sebelah saya terdengar ada suara hair dryer. Ternyata untuk pasien berbayar, bukan BPJS, ada fasilitas lain sebelum pasien pulang. Juga ada fasilitas mobil dari RS. Untuk perban bekas operasi juga diganti yang anti air, sementara punya saya tetep, gak diganti. Mobil juga memanggil grab lagi.

Siang hari setelah dokter datang dan diperbolehkan pulang, saya langsung berkemas. Suami ke ruang perawatan, tapi harus sama istri. Saya pun ikut ke sana dengan jalan tertatih. Menunggu antrian lama, setelah tanda tangan, langsung ke kamar lagi buat pesan grab. Eh ternyata yang ambil bayi juga harus sang ibu. Saya pun ke ruang bayi, antri lagi.

Semua siap, Miftahul Jannah digendong bibi saya, suami membawa tas. Kami ke ruang perawat lagi, memotong gelang pasien, lalu saya dibawa dengan kursi roda ke lobi. Untung grabnya sudah datang. Tak sabar rasanya untuk pulang, menyusui dan menggendong buah hati.



8 comments:

  1. senangnya punya baby lagiii, sehat-sehat ya dek dan mami Anisa cepat pulih

    ReplyDelete
  2. Senangnya si cantik lahir sehat dan selamat ya mbak. Ingat 7 tahun lalu, SC terakhir aku, ngilunya tetap terasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya mbak ngilu banget, tapi semua terobati ketika melihat si kecil lahir dengan sehat dan selamat :)

      Delete
  3. Alhamdulillah, selamat ya buat kelahiran Miftahul Jannah, semoga menjadi anak sholeha dan penyejuk hati kedua orang tua.
    Baca proses melahirkan SC gini jadi ingat dua tahun lalu dan Insya Allah 2 saja cukup deh hehehe

    ReplyDelete
  4. syelamat ya mbaa atas kelahiran anaknyaa..

    sama mba, aku waktu sesar tubuhku juga menggigil banget, kedinginan. sampe minta dipegangin terus tangannya ama suster..

    ReplyDelete

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.