Dampak Buruk Sebab Narkoba






Anisa AE - Narkoba. Pasti sudah tahu kan narkoba itu apa? Ya, narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang.


Narkotika sendiri merupakan zat atau obat yang memiliki sifat alamiah, sintetis, ataupun semi sintetis yang bisa menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang.

Sedangkan obat-obat terlarang yang dimaksud di sini adalah obat-obatan yang memiliki kandungan zat adiktif.

Dampak buruk yang diakibatkan narkoba adalah bisa berefek pada kehidupan dan kesehatan pengedar serta pemakai/ pecandu. Tidak hanya itu, narkoba juga bisa berefek buruk pada keharmonisan dan resahnya keluarga.



Di Indonesia sendiri sudah banyak pengedar dan pecandu narkoba. Padahal, sudah ada undang-undang larangannya. Bahkan sudah banyak orang yang tahu dampak buruk narkoba tersebut yaitu bisa berakibat fatal atau kematian.

Setelah diketahui dari berita terakhir, di Indonesia pada awal tahun 2019 jumlah peredaran narkoba telah menurun drastis. Hal itu dipercaya karena tingginya intensitas razia yang dilakukan oleh jajaran kepolisian baik di tingkat pusat maupun daerah pada jelang libur Natal dan tahun baru. Karena memang pada event-event itulah yang menjadi kesempatan para remaja berpesta narkoba. Sangat bagus bukan jika ada penurunan? Namun, ada tapinya. Ingin tahu? Simak saja terus supaya tahu, hehe.

Pada tahun ini ada tiga jenis narkoba yang mengalami penurunan di antaranya yaitu:

1. Ganja yang mengalami penurunan sebanyak 68,30% dari tahun sebelumnya barang bukti yang telah diamankan sebanyak 318 kilogram.

2. Pada narkoba jenis sabu telah mengalami penurunan sebesar 28,69% dengan barang bukti sebanyak 74 kilogram.



3. Sedangkan pada narkoba jenis ekstasi mengalami penurunan cukup mengejutkan yaitu sebesar 96,97% dengan barang bukti 2.377 butir pil ekstasi.
Meski dilihat dari data penurunan barang bukti narkoba yang terjadi di Indonesia pada awal tahun 2019. Akan tetapi, jumlah tersangka masih terus meningkat dengan jumlah persen sebesar 29,31 atau dari 481 orang menjadi 622 orang. Waw, sangat banyak bukan meningkatnya? Seimbang juga dengan penurunan yang terjadi pada jumlah peredarannya.

Dilihat dari pekan pertama pada bulan Januari 2019, Polda Jawa Barat merupakan wilayah rawan narkoba tertinggi dan disusul oleh wilayah Polda Sumatera Utara dan Polda Sumatera Selatan.

Adapun jenis-jenis narkoba yaitu meliputi 3 jenis golongan yang sesuai dengan tingkat risiko ketergantungan mulai dari tertinggi hingga rendah. Golongan-golongan tersebut dinamakan golongan 1, golongan 2, dan golongan 3. Simak uraiannya di bawah ini:



1. Golongan 1 dengan golongan tingkat risiko yang paling tinggi karena menimbulkan efek ketergantungan. Narkotika golongan ini meliputi: ganja, opium, dan tanaman koka yang sangat berbahaya jika dikonsumsi.

2. Narkotika dengan jenis golongan 2 ini bisa dimanfaatkan untuk pengobatan asalkan sesuai dengan resep dokter. Golongan ini memiliki jenis kurang lebih 85 di antaranya adalah Morfin, Alfaprodina, dan lain-lain. Golongan jenis ini juga memiliki potensi tinggi menimbulkan ketergantungan pada penggunanya.

3. Sedangkan narkotika dengan golongan 3 memiliki tingkat risiko ketergantungan yang cukup ringan atau rendah dan banyak dimanfaatkan untuk pengobatan serta terapi.

Narkoba jenis ini bisa didapatkan secara alami. Akan tetapi, ada juga yang dibuat menggunakan proses kimia. Berdasarkan bahan pembuatannya adalah meliputi: narkotika sintesis, semi sintesis, dan alami.



Bahaya dan dampak narkoba pada hidup dan kesehatan bagi pengedar tentu masuk penjara. Sedangkan pada pengguna/ pecandu bisa mengakibatkan dehidrasi, halusinasi, menurunnya tingkat kesadaran, gangguan pada kualitas hidup seperti sulitnya konsentrasi saat bekerja, mengalami masalah ekonomi, hingga berurusan dengan polisi karena terbukti melanggar hukum, bahkan bisa berakibat kematian.
Sangat berbahaya bukan narkoba itu? Pastinya. Apalagi jika menyalahgunakan narkoba. Narkoba hanya boleh digunakan untuk kepentingan medis dan keperluan penelitian dengan dosis yang telah ditentukan. Itu pun masih dalam pengawasan dokter.

Anak-anak sekolah saya rasa juga sudah tahu apa dan dampak narkoba itu apa saja. Karena mereka sudah mendapatkan pelajaran tentang narkoba sejak Sekolah Menengah Pertama. Bahkan sudah sering diadakan penyuluhan tentang narkoba ini oleh tim BNN ke sekolah-sekolah maupun masyarakat.



Akan tetapi, masih sering ditemukan pengguna narkoba itu adalah para remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Bahkan anak sekolah juga ada yang menjadi pengedar atau bandar narkoba. Tidak hanya itu, bahkan sudah pernah ada yang bisa masuk ke pesantren. Bisa-bisanya narkoba masuk ke pesantren. Bagaimana caranya coba. Subhanallah. Berarti setiap lembaga pendidikan seperti sekolah umum maupun pesantren harus lebih tegas, jeli, dan ketat ini. Supaya tidak terjadi hal-hal seperti itu lagi.

Para masyarakat dan orangtua juga berperan penting dalam memberantas dan mengurangi korban narkoba ini. Jadi, tidak hanya anak saja yang berusaha menghindar sekaligus menjauh dari barang haram serta berbahaya ini. Namun, masyarakat khususnya orangtua juga harus bisa melindungi dan mensupport anak-anaknya agar tidak sampai tersentuh oleh barang terlarang tersebut.

Bagaiman caranya? Ya upayakan akan anak jauh dari narkoba. Misal ajaklah ke kajian-kajian (bagi yang muslim), berikan kegiatan-kegiatan positif seperti les pelajaran sekolah, les musik, les renang, les qiroah, dan apa pun itu selama itu positif. Namun, orangtua tetap harus memilih tempat dan mentor les dengan tepat. Bukan menakut-nakuti. Akan tetapi, bisa juga kan pengedar ataupun pemakai berada di dalam satu naungan sebuah kegiatan yang sama dan tetaplah memantau.



Dalam masyarakat juga perlu lho mengadakan banyak kegiatan positif yang mewajibkan para remaja mengikutinya. Seperti organisasi karang taruna, remas (remaja masjid), dan lain sebagainya.
Bagi orangtua juga bisa dengan menggunakan cara lebih dekat atau menjadi tempat mencurahkan hati si anak. Jadi, orangtua bisa merangkul ketika anak mendapat masalah dan anak tidak akan melampiaskan ke hal-hal negatif. Jadi bagi para orangtua, ketika si anak mendapat masalah lalu curhat ke Bunda atau Ayah jangan langsung dimarahi. Cari tahu dulu penyebabnya dan cari solusi barsama-sama, agar anak tidak berontak dan semakin jauh dengan orangtua.

Boleh juga ajak anak-anak atau para remaja menjenguk para korban yang sakit sebab narkoba. Namun, jangan lupa menggunakan pakaian, masker, ataupun sarung tangan untuk menghindari penularan penyakit. Supaya mereka bisa tahu dengan mata kepalanya sendiri dan benar-benar menjauhi narkoba.



Sebenarnya banyak kok cara bagaimana mengurangi tingkat korban narkoba. Hanya saja, itu harus benar-benar digerakkan. Bukan sekadar wacana. Akan tetapi, tetap harus saling kerja sama antara para remaja tersebut ataupun yang sudah menjadi korban narkoba dengan masyarakat ataupun orangtua yang membimbing.

Segala sesuatu jika mengerjakannya bersama-sama atau dengan kerja sama, maka segalanya akan menjadi mudah. Tidak lupa juga berdoalah kepada-Nya agar segala urusan dipermudah oleh-Nya.

Akan tetapi, tentu saja tidak hanya membantu anak-anak atau para remaja agar jauh dari narkoba. Namun, juga mengupayakan untuk diri sendiri agar tidak sampai terjangkit oleh narkoba. Jangan mentang-mentang melindungi para remaja tersebut dari barang terlarang, tetapi diri sendiri terlupakan atau terabaikan. Memang mau terjangkit banyak penyakit yang berbahaya karena narkoba? Tidak kan? Maka dari itu bersama-samalah menjaga diri masing-masing dan saling menjaga. Tidak lupa juga untuk mengingatkan.



Bagaimana pembaca? Mau membantu mengurangi korban narkoba di Indonesia atau bahkan di dunia?

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v

All picture by: Google



0 komentar:

Post a Comment

Harap tidak meningglkan link hidup. :) Terima kasih.