Suami Rahasia 9 - Calon Suami Istri







Anisa AE (Suami Rahasia) - Sasha menarik napas panjang saat Brama mengajaknya ke taman belakang rumah. Tak jauh berbeda dengan taman belakang miliknya, ada gazebo kecil dengan kolam ikan. Bedanya, kolam ikan di rumahnya Brama mengelilingi gazebo, biasanya dibuat juga untuk terapi kesehatan dengan ikan. Ada banyak pepohonan rindang yang membuat taman itu terasa sangat sejuk.

Sasha membenamkan kakinya sampai mata kaki di dalam kolam. Pun dengan Brama. Ikan-ikan kecil yang tadinya berpencar, mulai berkumpul di bawah kaki mereka, terasa geli.

Mereka masih diam tanpa kata, masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri. Berharap ada yang memulai dengan pertanyaan kecil. Sementara Widya dan Viona membuat camilan dan memasak bersama di dapur, menyiapkan makanan untuk suami mereka nanti. Mereka sudah janjian akan makan malam di rumah Brama.

Sasha menarik napas panjang. Kesanggupan perjanjian sebelum menikah yang dikatakan oleh Brama membuat hatinya tak kuasa berpaling dari sosok yang kini tengah duduk di sampingnya. Matanya mulai melirik lengan lelaki yang menggunakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan celana training panjang dengan merk Adidas berwarna abu-abu. Terlihat otot berwarna biru menyembul dari balik kulit lelaki itu. Lengan itu terlihat sangat kokoh untuk sekadar dijadikan bantal. Sasha pun menelan salivanya dengan susah payah.

"Mau ngelirik sampai kapan?" tanya Brama tiba-tiba saat melihat Sasha. Jengah dilihat seperti itu oleh gadis di sampingnya.

"Eh?" Wajah Sasha bersemu merah, sudah seperti tomat matang. Dia membetulkan kacamatanya yang melorot dengan salah tingkah. Bagai kucing kecil yang hanya bisa menelan air liur saat melihat ikan emas di depan mata.

"Sejak kapan pake kacamata?" tanya Brama sambil terus memandang Sasha.

"Sejak SD sebenarnya. Tapi dari dulu pake lensa kontak." Sasha menjawab tanpa melihat Brama.

"Kamu tadi kenapa pergi saat aku tawarin makan di kantin?" tanya Brama lagi.

"Satu jam pelajaran udah habis. Sebenarnya tadi aku dihukum gak boleh masuk gara-gara telat," jelas Sasha, tetap tanpa melihat ke arah Brama.

"Bukan karena aku nraktir murid-murid cantik itu, kan?"

Sasha melengos. Kali ini tak tahu harus menjawab apa. Apalagi mengingat bagaimana Brama melancarkan kata-kata yang membuat tiap wanita pasti klepek-klepek.

"Gak lah. Kak Brama bebas mau nraktir siapa aja. Mau ngrayu wanita mana aja juga bebas, pake banget. Itu kan hak Kak Brama." Sasha mulai melihat ke arah lelaki di sampingnya, tak ingin terlihat jika dia cemburu.

Cemburu? Wajah Sasha memerah saat menyadari hal itu. Cemburu pada lelaki yang baru dikenalnya? Ralat, cemburu pada calon suaminya. Bolehkah? Apa itu dilarang. Sasha bahkan tak menyadari sejak kapan jadi menyukai lelaki itu. Pesona lelaki itu memang tak bisa dihindari begitu saja. Sangat pantas jika hampir seluruh siswi di sekolahnya tertarik dengan Brama.

Brama tertawa tanpa suara. Terlihat giginya yang tertata rapi dengan rahang kokoh yang sempurna. Ada sedikit lesung pipi di wajahnya. "Kamu kenapa judes gitu sih?"

"Judes? Yang judes duluan kan kamu! Ingat pas kedua kali kita ketemu? Sok banget ngelempar spidol ke dahiku. Sakit tau?" Sasha merengut sambil memajukan bibirnya.

"Kamu juga sih yang bilang sombong saat pertemuan pertama."

"Eh? Kamu dengar?"

"Ya kan aku gak tuli."

"Habis kamu sih, habis tanya langsung pergi. Ngucapin terima kasih gitu kek. Sopan dikit." Sasha tetap pada pendiriannya bahwa dia tak salah.

"Oke-oke, aku yang salah."

"Kamu jahat tau? Ngelempar spidol dua kali di dahi yang sama. Ini dahi, bukan ring basket. Sakitnya terasa banget, sampe di hati." Sasha berkata sambil memegang dadanya. Mengingat hari kedua mereka bertemu, membuat mata Sasha memerah. Saat itu sebenarnya dia ingin menangis, tapi ditahannya.

"Dahinya masih sakit?" tanya Brama merasa bersalah. Dia yakin jika lemparannya pasti terasa sakit. Sebagai orang yang suka bermain basket, sangat mudah melempar spidol itu tepat di dahinya.

"Bukan dahinya kalo sekarang."

"Terus? Hatinya yang sakit?" tanya Brama sambil tersenyum.

"Ya ampun! Kamu jadi lelaki angkuh banget sih. Emang kamu gak belajar gimana bilang maaf? Susah banget ya bilang maaf sama orang lain? Susah ya bilang makasih? Dua kata itu emang keliatan sepele banget, tapi bermakna buat orang lain!" Sasha tak habis pikir dengan lelaki itu. Bisa-bisanya mau melancarkan rayuan gombal yang biasanya diucapkan untuk para wanita di luar sana.

Brama tersenyum kuda, lalu mengalihkan pandangannya dari Sasha. Dia terdiam beberapa saat. Apa memang dia terlalu angkuh untuk sekadar meminta maaf dan berkata terima kasih? Dua kata itu memang jarang diucapkannya. Dia lebih banyak menerima kata itu dari orang lain.

"Udah, aku mau ke dapur! Percuma juga di sini kalo temen ngobrolnya kamu. Sama sekali gak enak, bikin eneg." Sasha mulai mengangkat kakinya dari kolam, dia berdiri dengan cepat.

Namun, sebelum sempat kaki gadis itu melangkah, Brama sudah menahannya. "Duduk!"

"Kamu itu gak bisa ya bilang tolong? Benar-benar deh!" Sasha jengah. Dia tetap berdiri dan akan melangkah keluar gazebo.

Dengan cepat, tangan Brama menahannya dan menarik tubuh kecil Sasha agar duduk. Sasha kehilangan keseimbangan mendapat tarikan kuat dari lelaki itu, dia langsung roboh dan menimpa tubuh Brama. Tubuh Sasha tepat berada di pelukan calon suaminya, membuat gadis itu memerah dan diam saja, tak tahu harus berbuat apa.

Pandangan mata Sasha bersirobok dengan mata Brama. Pipi Sasha langsung bersemu merah saat menyadari wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajah lelaki itu. Sangat dekat, bahkan bisa dirasakannya napas lelaki yang kini menyangga tubuhnya. Keringat dingin mulai membanjiri seragam yang dia kenakan. Dia belum pernah sedekat ini dengan lelaki.

"Puas mandangin aku seperti itu? Wajahmu udah seperti tomat masak yang digoreng pake teflon." Brama akhirnya tersenyum, tapi tidak melepas pelukannya.






Sasha langsung melepas pelukan Brama, duduk di samping lelaki itu sambil memalingkan muka. "Bukan aku lho yang mau meluk kamu! Kamu aja yang cari kesempatan buat meluk aku."

Brama tertawa lagi. Mencari kesempatan? Benar-benar deh, lelaki itu tak tahu bagaimana jalan pikiran Sasha. Apa memang seorang kutu buku itu punya perbendaharaan kata yang luar biasa banyak, sehingga ada saja yang dikatakannya untuk membuat Brama tak bisa berkata-kata.

"Udah, kamu gak usah bawel. Duduk di sini temani aku. Jangan pergi ke dapur, nanti masakan Mama jadi berbeda rasanya kalo dimasak oleh tangan yang berbeda." Akhirnya Brama bersuara setelah terdiam beberapa lama.

"Kamu bilang aku gak bisa masak?" tanya Sasha dengan mata yang mulai melebar.

Brama menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah lagi deh apa yang dikatakannya. Apa sebaiknya dia diam saja? Namun, kalau diam, tak akan ada yang akan memulai pembicaraan di antara mereka.

Mata lelaki itu menyipit saat melihat sebuah makhluk berbulu yang bergerak di pundak Sasha. Dia pun refleks memegang pundak gadis itu, berniat akan menyingkirkan makhluk itu dari sana.

Sasha yang merasa Brama mendekat, langsung menjauhkan tubuhnya. "Jangan cari-cari kesempatan, ya?"

"Diem, atau kamu bakal gatal-gatal kena ulat bulu. Tunggu di sini, aku cari ranting dulu," kata Brama sambil menunjuk pundak gadis itu.

Sasha terkejut, dengan cepat dia menutup matanya. Dia merasakan geli di sekujur tubuhnya. Dia memang suka kupu-kupu, juga tak benci dengan ulat bulu. Namun, saat makhluk kecil berbulu itu ada di tubuhnya, entah bagaimana bisa sekujur tubuhnya merasa geli secara otomatis. Sampai rasa geli itu hilang saat sesuatu sudah menyentuh pundaknya.

Sasha membuka matanya perlahan, memperhatikan ulat yang menggeliat pelan di atas ranting yang tengah dipegang oleh Brama.

"Makasih, ya?" ucap Sasha sambil menghirup napas panjang dengan lega. Tubuhnya sudah kembali normal.

Brama tersenyum, lalu melempar ranting itu menjauh, ke rumput yang mengelilingi gazebo.

"Kamu lucu ya kalo ditempelin ulat?" kata Brama sambil tersenyum dan hendak memegang pundak Sasha lagi.

"Eits! Jangan pegang-pegang. Aku gak mau tangan kamu yang biasanya pegang perempuan itu juga pegang aku!" Lagi-lagi Sasha menjauh.

Kali ini Brama tergelak dengan sangat keras. "Eh, tanganku belum pernah pegang cewek lho. Kalo mereka yang pegangin aku sih, itu tiap hari. Kalo aku yang pegangin mereka, gak pernah. Kecuali kalo emang mendadak banget dan gak bisa dihindari."

Sasha membuka mulutnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya. Tak pernah memegang cewek? Rayuan apalagi yang akan dia lontarkan? Tadi di sekolah bilang gak punya pacar, sekarang gak pernah pegang cewek. Sasha menggelengkan kepala dengan pelan.

"Kata Mama, hargai wanita dengan tak memegang mereka secara asal, kecuali memang dibutuhkan. Gak semua wanita suka dipegang-pegang," kata Brama sambil tersenyum.

"Lha itu tadi? Napa mau pegang aku? Napa narik tanganku juga?"

"Gak boleh ya sama calon istri sendiri?" kata Brama yang membuat pipi Sasha bersemu merah.

"Terus? Kenapa selalu ngrayu gadis-gadis di sekolah? Kenapa cium tangan Bu Sofia saat pertama kali bertemu?"

"Hm? Kamu memata-matai aku?"

"Itu udah jadi rahasia umum kales. Banyak yang bilang kamu pacaran sama Bu Sofia."

Brama tergelak lagi, "kecuali memang dibutuhkan. Wanita itu suka dirayu dan ditinggikan. Ya gak salah dong?"

"Apa? Jelas-jelas itu salah! Itu artinya kamu ngasih harapan sama Bu Sofia. Pake ngrayu murid-murid wanita juga."

"Oh, ada yang mulai cemburu nih?"

"Bodo! Gak boleh ya sama calon suami sendiri?" Sasha berkata cuek sambil membuang muka.

Skak mat. Brama tersenyum, lalu mengusap kepala Sasha pelan. Gadis itu memang tak pernah bisa dikalahkan dengan ucapan.

Entah sudah berapa kali Brama membuat wajah Sasha memerah. Bisa-bisa kulit wajahnya berganti menjadi berwarna merah jika terus-menerus berada di samping lelaki itu. Ingin rasanya dia menghilang, pulang ke rumah, masuk kamar, lalu menelungkupkan kepalanya di atas bantal.

"Ya udah, kamu mandi. Aku carikan kaus buat ganti. Nanti kamu bisa gatal-gatal kalo sampe gak mandi. Apalagi seragammu kena." Brama beranjak dari duduknya, lalu mengangsurkan tangan, membantu Sasha berdiri.

Sasha menyambut tangan besar Brama. Mereka menuruni tangga, dengan berpegangan tangan, menuju ke dalam rumah.

💐💐💐💐💐






Bayangin Dik Sasha sama Mas Brama lagi berduaan. Aih, Author jadi pingin ada di sana juga. Ada yang mau ikutan ngintip mereka? 🤣🤣

Maafin kalo masih banyak typo, nulis di hape penuh perjuangan 😅.

Salam sayang buat pembaca. 🥰🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v