Suami Rahasia Part 3 - Bendera Perang










Anisa AE - Mata Brama membelalak. "Siapa yang bego?"

"Anu anu ... saya yang bego, Pak!" Wajah Sasha merah padam karena malu. Jika ada buah tomat matang dan disandingkan dengan kulit wajahnya, pasti akan sama.

"Sekali lagi kamu gak perhatikan saat saya datang, jangan harap bisa dapat beasiswa lagi!"

Sasha langsung berdiri dari duduknya, lalu membungkukkan badannya. "Iya, Pak. Saya mohon maaf. Tidak akan saya ulangi."

"Ini sudah dua kalinya kamu mengabaikan saya! Satu kali lagi, jangan harap mendapatkan nilai bagus!"

Sasha hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Tak tahu harus menjawab apa untuk kemarahan Brama. Tak biasanya dia mendapat amarah seperti ini, biasanya para guru maklum jika gadis itu sibuk dengan bukunya. Para guru juga tak peduli dia mau apa, yang penting saat mewakili sekolah dan ujian, dia bisa membuat sekolah bangga.

“Bawa spidolnya ke sini!” perintah Brama dengan tatapan tajam.

Tanpa bisa menolak, Sasha mengambil spidol yang terjatuh di mejanya, lalu menuju meja guru untuk memberikan spidol. Tanpa memandang Brama, Sasha langsung kembali ke bangkunya.

Gadis itu tak habis pikir dengan guru baru tersebut. Apa hubungannya diabaikan dengan memberikan nilai yang bagus? Bahkan tanpa belajar pun dia sudah bisa mengerti apa yang diterangkan oleh gurunya.

"Sekarang buka buku paket halaman 56, kerjakan soal latihan di sana. Saya tunggu selama 30 menit."

Kelas menjadi riuh, tak menyangka bahwa pada jam pelajaran pertama harus mengerjakan soal latihan yang belum mereka pelajari sama sekali. Apalagi dalam waktu yang hanya 30 menit.

"Ada yang keberatan?" Brama mengangkat sebelah alisnya. Walau dalam kondisi mengancam pun, dia tetap terlihat tampan.

"Tidaaak, Paaak!" Suara murid bersamaan, lalu sunyi. Murid-murid sibuk dengan buku paket dan alat tulis di depan mereka.

Brama tersenyum puas, dia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu berselancar di dunia maya. Berharap bisa menemukan hiburan di sana, tapi tak ada yang menarik perhatiannya. Instagram dan Facebooknya pun hanya berisi politik, padahal pemilihan presiden juga sudah selesai. Memangnya netizen tidak melakukan hal lain selain membahas soal presiden? Masa 01 dan 02 sudah selesai, sekarang ganti masanya 03 yang berisi ‘ Persatuan Indonesia’. Biasanya selalu ada teman-temannya yang membuat postingan lucu dan semacamnya.

Ponsel itu kini telah kembali ke saku, mata Brama melihat seisi kelas dengan cepat. Sasha, gadis itu menunduk dengan wajah memerah, tidak berkutat dengan alat tulisnya. Kelas itu seperti tak bernyawa, semua tak dihiraukan olehnya. Saat semua murid sedang sibuk mengerjakan soal latihan, gadis itu seolah tak peduli. Sebuah pemandangan yang asing untuk Brama. Brama menunggu beberapa menit, tapi Sasha belum juga terlihat bergerak.

Spidol yang beberapa saat lalu diantarkan oleh Sasha, kini diambil lagi oleh Brama, lalu dengan kecepatan penuh, meluncur ke arah Sasha, tepat di dahinya, lagi.







Sasha tergagap, lalu langsung berdiri, melihat Brama yang menatapnya tajam. Dia seperti kucing yang baru saja ketahuan mencuri ikan asin oleh tuan rumah. Kelas menjadi hening, semua menoleh ke arah Sasha dengan napas yang tertahan. Seperti ada sebuah medan tak kasat mata yang menghubungkan keduanya. Aura yang terasa pun berbeda, panas.

Dua kali spidol melayang di dahinya, rasanya jelas sakit. Namun, dia tak ingin menangis di sekolah. Bisa geger SMA Merdeka jika si cuek Sasha menangis hanya karena lemparan spidol dari guru baru yang tak punya perasaan sama sekali.

"Kamu! Bawa buku hasil mengerjakan soal latihan tadi ke depan. Tulis di papan tulis!"

“Saya, Pak?” tanya Sasha ragu.

“Iya! Kamu tuli?!”

Dengan jantung yang berdegup tak karuan, Sasha mengambil buku di atas mejanya, lalu berjalan ke depan.

“Spidolnya kamu bawa sekalian! Kamu mau nulis pake apa?”

Sasha kembali ke mejanya, mengambil spidol, lalu menuju ke depan lagi, Dengan cepat, dia mengerjakan soal tersebut di papan, tanpa kesalahan sama sekali. Dia sangat berharap bisa kembali ke bangkunya tanpa ada insiden sama sekali.

"Saya tidak bilang kamu harus kerjakan nomor satu. Kamu kerjakan soal nomor 5." Brama bersuara saat Sasha sudah selesai menuliskan jawaban untuk nomor satu.

Sasha terkejut dengan menahan air mata yang berdesakan ingin keluar. “Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam,” kata Sasha perlahan.

“Apa kamu bilang?”

“Tidak ada, Pak. Bapak salah dengar kali,” ucap Sasha sambil menulis jawaban untuk nomor lima.

Sasha sama sekali tak menyangka bahwa Brama akan mengerjainya. Seharusnya, guru itu langsung berkata mengerjakan soal nomor berapa, sebelum jawaban dari soal tersebut sudah dituliskan secara lengkap. Bukan malah saat nomor satu sudah dijawab, diminta nomor lima.

Brama sendiri tak menyangka bahwa gadis itu sudah mengerjakan soal latihan, padahal baru beberapa menit dia membuka sosial media. Tak yakin bahwa Sasha akan mengerjakannya secepat itu.

"Sudah, Pak!" Sasha sengaja meletakkan spidol di meja Brama. Matanya menatap tajam pada lelaki yang tak berkutik saat melihat jawaban di papan tulis. Tidak ada yang salah baik untuk soal nomor satu maupun lima. Jika ada yang menyakiti, jangan pernah menunjukkan kelemahan. Tunjukkan bahwa dirimu kuat. Itu yang selalu ada di pikiran Sasha.

Sasha memang sudah mempelajari buku paket dari awal sampai akhir, hampir semua mata pelajaran. Ada saja yang dibaca dan dipelajarinya pada saat jam istirahat ataupun saat jam pelajaran kosong. Bahkan tak ada murid yang tak melihat buku ada di tangannya, selain saat dia mau ke kamar kecil. Tak heran jika dia mendapat beasiswa.

"Ya sudah, kamu duduk." Brama tak habis pikir dengan murid di depannya itu, memangnya tak ada yang dilakukannya selain membaca dan belajar? Dia bisa berkumpul dengan teman-temannya ataupun punya teman laki-laki, bukan hanya berteman dengan buku.

"Iya, Pak." Sasha mengangguk, lalu kembali ke tempat duduknya, diikuti pandangan aneh dari Brama.

Gadis yang bukan tipe Brama sama sekali, tapi sangat menarik. Pintar, tak banyak kata, dan cantik alami. Dia heran kenapa tidak ada lelaki yang mendekati gadis itu. Andai dia tidak cupu dan kacamata itu lepas dari wajahnya, pasti banyak yang tergila-gila ingin mendapatkan cintanya. Ya, selain sifatnya yang cuek, semua sempurna.

“Saya tak ingin siapa pun menolak apa yang saya suruh! Saat pelajaran saya pun, kalian harus memperhatikan dengan seksama. Jangan sampai mengabaikan kehadiran saya. Mengerti?”

“Mengerti, Paaak!” jawab murid kelas 11 IPA 1.

“Kalau jawaban yang Pak Brama beri ternyata salah, apa saya harus diam juga?” Tiba-tiba saja Sasha mengajukan pertanyaan sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

“Kamu pikir saya bodoh?!” bentak Brama.

“Ya, kan cuma kalau. Saya tidak bilang kalau Pak Brama itu bodoh.” Sasha menjelaskan sambil tersenyum miring. Dia seolah mengibarkan bendera perang.

“Tidak akan!” jawab Brama tegas sambil memandang Sasha yang tersenyum puas. Brama menyadari bahwa muridnya itu memang sengaja ingin bermusuhan dengannya. Boleh juga, Brama pun akan meladeni dengan senang hati.


Bersambung ....

===============

Alhamdulillah sudah bab 3. Ditunggu komentar pembaca, atau jika ada kata dan kalimat yang salah, bisa konfirmasi. Nanti saya betulin. :)







 Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v