Suami Rahasia Part 4 - Perjodohan










Anisa AE - Hari ini adalah hari yang benar-benar mengesalkan untuk Sasha. Setibanya dari sekolah, dia mendapat perlakuan yang istimewadari ayah dan ibunya. Tidak seperti biasa, siang ini mereka berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan siang. Biasanya hanya Sasha sendiri bersama ibunya, sementara sang ayah belum pulang dari kantor. Namun, siang ini benar=benar berbeda.

“Tumben banget kumpul. Pasti ada apa-apa nih,” ujar Sasha setelah menyelesaikan makannya.

“Kamu gak ada tugas sekolah yang harus dikerjakan?” tanya Widya, ibu Sasha.

“Seperti biasa, semua tugas sudah Sasha kerjain di sekolah saat jam istirahat. Tugas sebelum jam pulang sekolah akan Sasha kerjain malam nanti. Ada apa sih?” tanya Sasha ingin tahu.

“Nanti sore Ayah mau ngenalin kamu sama anaknya teman Ayah.” Atmaja langsung pada topic pembicaraannya.

“Anaknya teman Ayah? Seusia Sasha?” tanya Sasha sambil mengangkat piring-piring kotor dari atas meja menuju tempat cuci piring.

“Calon suami kamu.”

Ucapan sang ayah membuat jantung Sasha berhenti seketika. Piring-piring yang ada di tangannya langsung terjatuh, pecah berantakan di atas lantai. “Ap-apa maksud Ayah?”

“Ayah mau kenalin kamu sama calon suami kamu,” kata Atmaja sambil memandang Sasha dengan lembut. Dia tahu bahwa semuanya terlalu mendadak untuk putrinya. Sungguh tidak kaget sama sekali saat melihat Sasha memecahkan beberapa piring koleksi ibunya.

"Apakah tak ada pilihan untukku?" Sasha menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. Tatapan lembut ayahnya bagai racun yang mematikan, berarti sang ayah tidak bisa ditolak. Jalan lainnya adalah meminta tolong pada sang ibu.
Sang ibu diam tanpa kata, lalu menggeleng perlahan. Tak tahu harus berkata apa pada putri tunggalnya itu.
"Mengapa Ayah memutuskan sesuatu tanpa pemberitahuan pada Sasha lebih dahulu?"

“Ini sudah kami rencanakan dari dulu, antara Ayah dengan teman Ayah.”

Lagi-lagi Widya mengangguk. "Bahkan itu sudah terjadi saat kalian masih kecil."

"Bu, ini bukan zaman Siti Nurbaya. Perjodohan dan tetek bengek lainnya."

"Kamu bukan pada pihak yang bisa menentukan pilihan. Nanti sore keluarga mereka akan datang ke sini. Ayahmu pasti telah memilihkan seseorang yang baik untukmu."

Air mata mulai turun perlahan di kedua pipi Sasha, dia tak ingin putus sekolah. Sudah banyak yang dilakukannya untuk mendapatkan beasiswa di sekolah bonafit tersebut sebagai bukti bahwa dia pintar. Lalu, semuanya hancur dalam sekejap saat sebuah perjodohan dilakukan dengan seseorang yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.
Sasha berlari begitu saja menuju kamarnya di lantai dua. Tak dipedulikannya panggilan ayah dan ibunya. Dia sungguh sangat kecewa atas keputusan mereka.

Widya menarik napas panjang, lalu mengikuti sang putri menuju kamar. Dibukanya pintu kamar perlahan, lalu dlihatnya Sasha yang menangis sesenggukan sambil memeluk boneka panda kesukaannya, hadiah dari ayahnya saat ulang tahun yang ke tujuh belas. Tanpa kata, Widya menutup pintu kembali, lalu kembali ke ruang makan.

“Apa kita tidak terlalu kejam padanya?” tanya Widya pada Atmaja.

“Tidak, Bu. Tenang saja. Yakinlah bahwa pilihan Ayah tak pernah salah.”

“Bagaimana jika rumah tangga mereka malah berantakan nantinya?”

“Jangan terlalu khawatir. Ayah tahu bagaimana sifat mereka berdua,” jawab Atmaja sambil tersenyum.

*******

Di kamar, pandangan Sasha menerawang, membayangkan seperti apa lelaki yang akan menjadi suaminya nanti. Apakah tampan? Namun, jika tak ada cinta di hati mereka, bisakah perjodohan itu terjadi? Apalagi Sasha masih sangat muda, baru saja menginjak tujuh belas tahun. Bagaimana rumah tangga mereka nanti? Ini adalah kisah nyata hidupnya, bukan cerita di novel yang sering dia baca.

Cinta, apa benar akan ada cinta setelah sebuah pernikahan terjadi? Bagaimana nanti jika suaminya ternyata kejam dan menjadikannya pembantu seperti yang sering dia lihat di sinetron? Atau, dia menikah dengan lelaki tua yang hanya menginginkan daun muda seperti dirinya.

Gadis itu menggigit bibirnya dengan pelan. Sungguh kabar buruk sepulang sekolah ini sangat tak diinginkan. Setelah mendapat guru yang menyebalkan, sekarang dia harus putus sekolah hanya karena pernikahan dini. Keegoisan dari sang ayah.

"Tuhan, tolong aku," bisiknya tertahan.
======







Sasha mengenakan kaus pendek warna merah muda dengan rambut panjang yang tergerai. Dia sebenarnya bukan orang miskin, tapi selalu berpenampilan jadul saat di sekolah agar tak diganggu oleh para lelaki. Dia ingin bisa fokus belajar, tanpa embel-embel pacaran. Apalagi jika harus bergaul dengan para siswi modis yang pergaulannya pun ikut fantastis.

Kacamata tebal yang selalu dipakainya sudah berganti dengan lensa kontak, ditambah dengan makeup natural pada wajah putihnya. Keluarga mereka sudah menunggu kedatangan calon besan di taman belakang rumah.

Sasha sedang memandang kupu-kupu yang sedang beterbangan saat keluarga lelaki yang akan dijodohkan dengannya itu datang. Keluarga itu datang dan langsung diantar oleh pembantu menuju taman belakang.

Brama terkejut saat melihat Sasha ada di taman tersebut, tak menyangka jika gadis yang akan menikah dengannya adalah Sasha. Si Beasiswa yang umur pun berada lima tahun di bawahnya. Namun, senyum gadis itu tak langsung membuatnya tersenyum juga. Senyum yang bisa membuat lelaki mana pun bertekuk lutut itu tak membuat hati Brama goyah.


Umurnya masih terlalu muda jika harus menerima perjodohan tersebut, apalagi Sasha masih sekolah dan saat ini menjadi muridnya. Apa kata dunia jika seorang guru memiliki istri muridnya sendiri? Bahkan gadis itu masih kelas 11. Brama sama sekali tak habis pikir dengan pemikiran papanya.

"Sasha, itu Brama, calon suamimu."

Ucapan sang ayah membuat mata Sasha berhenti memandangi kupu-kupu. Dengan cepat, kepalanya menoleh ke arah gazebo taman. Di sana telah ada Brama yang duduk dengan angkuh, bersama kedua orang tuanya.

"Tuhan, mimpi apa aku semalam? Pak Brama yang dijodohkan denganku? Guru sok tampan yang suka cari gara-gara itu adalah calon suamiku?" bisik Sasha dalam hati. Dia mencubit pipinya sendiri, sakit. Artinya, itu bukan mimpi.

"Sha? Kamu baik-baik saja?"

"Eh, em, iya, Yah. Dia itu calon suamiku?" tanya Sasha ragu.
"Iya. Pilihan Ayah tak pernah salah, kan?" Sang ayah tersenyum sambil memandang gazebo.

Sasha ingin membenturkan kepalanya saat itu juga ke atas meja, ke pohon, atau ke mana saja agar dia bisa hilang ingatan. Pilihan Ayah tak salah? Sangat salah. Atmaja tak tahu jika Sasha bahkan sudah mengenal calon suami yang sangat menyebalkan itu. Jika Brama semenyebalkan itu, bagaimana hubungan rumah tangga mereka nanti? Bisakah berjalan baik-baik saja? Gadis itu tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.

"Ayah, bisakah perjodohan ini dibatalkan?" Sasha bertanya sambil menggenggam tangan Atmaja.

Mata Atmaja memicing, memperhatikan Sasha yang menggigit bibir bawahnya. "Apa ada yang salah?"

"Perjodohan ini salah, Yah. Bahkan aku tidak mencintainya sama sekali. Mengenalnya pun tidak."

"Sasha, pilihan Ayah tak pernah salah. Dia pemuda yang baik, pasti bisa menjagamu dan memberikan Ayah seorang cucu yang lucu."

"Tapi, Ayah, Sasha masih tujuh belas tahun. Bahkan masih sekolah. Apa kata teman-teman jika Sasha tiba-tiba saja menikah?"

"Sha, jangan kamu pikir Ayah tak tau apa yang kamu lakukan di sekolah. Si Beasiswa, benar, kan?"

Sasha terperangah tak percaya saat ayahnya tahu julukannya di sekolah. Dia tak tahu harus menjelaskan apa tentang julukan itu karena selama ini dia tetap mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolah. Bahkan gadis itu telah merasa dengan rapi menyembunyikan semuanya.

"Ayah mengerti saat kamu tak ingin menjadi anak terkenal di sekolah karena cantik dan pintar. Karena itu Ayah diam saja saat kamu memakai baju itu-itu saja, bahkan sampai sepatumu terlihat butut. Apalagi soal dandanan dan kacamata tebalmu itu. Ayah hanya tak mengerti, buat apa uang yang Ayah berikan untuk biaya sekolahmu?"

Sasha menunduk, ternyata sang ayah tahu segalanya.

"Sudahlah. Ayah tau kamu anak yang baik. Ayah tak pernah mempermasalahkan hal itu. Sekarang, kamu tetaplah jadi anak baik untuk Ayah, jangan mencoreng muka Ayah dengan menolak perjodohan ini." Atmaja menggenggam tangan Sasha dengan erat.

========

Alhamdulillah selesai sudah part 4. Yeeey. Bentar lagi mereka nikah. Hahaha.







Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v