Suami Rahasia 21 - Satu Atap


Anisa AE - Sasha tertawa geli sambil menutup mulutnya, haruskah dia bahagia melihat respons suaminya? Brama benar-benar tidak bisa berpura-pura jika dirinya sedang cemburu. Cemburu? Bagaikan ada bunga yang bertebaran di hatinya. Senang rasanya melihat Brama naik pitam.

Brama mengernyitkan dahi saat melihat Sasha tertawa. Apa gadis itu tak marah saat teleponnya diambil begitu saja oleh Brama? Seharusnya dia marah, bukan malah tertawa.
"Kak, itu teleponnya mati lho. Sasha gak telpon siapa-siapa dari tadi," kata Sasha di sela tawanya.
Wajah Brama memerah, baru kali ini dia dikerjai oleh gadis kecil, istrinya sendiri. Tak tahu harus berkata apa, sungguh terlihat bodoh di depa sayan Sasha. Marah-marah tak jelas pada lelaki di seberang yang ternyata fiktif. Sungguh, mimik muka Sasha terlihat bahwa dia sedang menelepon sungguhan.
"Kamu ... berani ngerjain aku?" Kedua mata Brama memicing, menyorotkan pandangan tak suka karena sikap Sasha barusan.
"Waduh, Kak Brama marah nih," ucap Sasha dalam hati sambil menggigit bibirnya.
"Jawab! Kamu ngerjain aku?" tanya Brama tajam.
"Maaf, Kak. Cuma becanda kok," jawab Sasha pelan sambil mempermainkan jari-jarinya.
"Kamu ngaku salah?"
"Iya, Kak. Maaf. Sasha salah," ucap Sasha hampir tak terdengar.
"Apa? Aku gak dengar."
"Maaf, Kak. Sasha salah!"
"Biasanya kalo salah, diapain?" tanya Brama sambil tersenyum sinis.
"Kak? Ini bukan di sekolah lho." Mata Sasha terbelalak.
"Saya tanya. Kalo salah, diapain?!"
"Dihukum, Kak. Tapi jangan hukum Sasha dong. Ini bukan sekolah. Lagian Sasha cuma becanda, Kak," jawab Sasha dengan bibir mengerucut.
"Nah, kamu tahu? Sekarang kamu harus dihukum! Tutup matamu!"
"Kaaak."
"Tutup matamu!"
Akhirnya dengan berat hati, Sasha menutup matanya. Dia benar-benar takut Brama marah, kesalahan besar jika bermain-main dengan lelaki itu. Dia menerka-nerka hukuman apa yang akan diterimanya.
Brama tersenyum kecil saat melihat Sasha menutup mata. Benar-benar mudah mengerjai gadis itu. Dia harus membuat gadis itu kapok dan memanfaatkan momen saat ini. Namun, melihat wajah Sasha, tak ada rasa jengkel, wajah lucu yang tak pernah terlihat cantik, kecuali saat di rumah.
Dengan pelan, Brama mendekatkan tubuhnya ke arah Sasha. Dipandanginya bibir kecil Sasha yang akan menjadi tujuan bibirnya. Jika kemarin dia mencium Sasha karena keharusan dan gadis itu tak merespon, mungkin kali ini Sasha akan meresponnya. Pelan, tapi pasti, bibir mereka mulai berdekatan.
"Sha, batagor pesananmu habis tuh." Tiba-tiba saja Widya muncul di ambang pintu. "Ups, sepertinya Ibu ganggu nih," lanjut Widya saat melihat adegan di depan matanya.
Terlambat, Sasha sudah membuka matanya, Brama pun menoleh ke arah pintu. Gagal sudah hukuman manis dari Brama untuk istrinya.
"Ibu sih main masuk aja. Kita jadi gak bisa dapat tontonan gratis nih." Atmaja menyalahkan istrinya sambil tersenyum simpul.
"Emang tontonan apaan sih, Yah?" tanya Sasha tak mengerti.
"Gak ada apa-apa kok. Saya permisi dulu, Om, Tante." Dengan wajah bersemu merah, Brama langsung pamit. Pergi meninggalkan kamar yang diikuti senyum jahil dari kedua mertuanya.
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’
Tak perlu menunggu lama, Sasha sudah diperbolehkan pulang setelah beberapa hari. Jelas saja dia bahagia, apalagi akan bisa bersekolah, hal yang sangat disukainya. Walaupun dia akan sangat merindukan waktu-waktu bisa berduaan dengan Brama. Melihat wajah suaminya itu sudah bisa membuatnya tenang, walau tak ada sapa di antara mereka sejak insiden hukuman yang tak jadi.
Sasha tak mengerti kenapa Brama mendiamkannya, padahal saat itu dia sudah bersiap menera hukuman. Apa karena kedatangan kedua orang tuanya, maka Brama marah? Gadis itu hanya bisa diam, tak mau membuat Brama makin marah dan mendiamkannya lebih lama.
Brama bukannya tak tahu apa maksud dari kedua mertuanya, tapi dia terlalu malu untuk mengakui bahwa saat itu akan mencium Sasha. Mana tega dia memberikan hukuman pada gadis cantik itu. Cantik? Ya, kecantikan yang hanya bisa dia lihat.
Mereka berdua naik mobil Alex, kedua keluarga pun berkumpul di dalam satu mobil. Sementara barang-barang yang ada di rumah sakit, dikemasi oleh sopir. Alex dan Viona ada di kursi depan, di belakang mereka adalah Atmaja dan Widya, sementara paling belakang ada Sasha dan Brama.
Tak ada yang dikatakan oleh Sasha dan Brama, hanya kedua orang tua mereka yang bercanda sampai tiba di rumah besar Brama. Bahkan sampai mereka berkumpul di ruang keluarga, sepasang pengantin muda itu seolah sedang berperang.
"Oh iya, besok Papa sama keluarga kamu, akan ke Singapura." Akhirnya Alex mengajak bicara Sasha.
"Hah? Sasha sama siapa, Om?" tanya Sasha kaget karena dia akan ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu berani, kan?" tanya Atmaja.
"Yaaah, jangan dooong. Sasha lagian baru pulang dari rumah sakit. Kok udah ditinggal pergi sih?" tanya Sasha dengan mata berkaca-kaca.
"Sha, kamu udah nikah lho. Sudah waktunya hidup mandiri." Widya mengingatkan anak gadisnya.
"Tapi kaaan ...."
"Tenang aja. Kamu bisa tinggal sama Brama kok. Kalo rumah ini terlalu besar, kalian bisa tinggal di perumahan yang dekat sekolah." Viona menimpali.
"Ap-apa? Tinggal berdua sama Kak Brama?" tanya Sasha makin terkejut, tak pernah ada di pikirannya untuk tinggal berdua dengan suaminya.
Berbagai macam masalah mulai muncul di kepalanya. Bagaimana nanti jika mereka tinggal serumah? Sasha benar-benar belum siap.
"Kalian gak berdua kok. Ada Bi Narti yang akan menemani. Jadi, kamu gak perlu pusing buat masak dan cuci baju." Viona menenangkan Sasha yang sudah gelisah.
"Tapi kaaan ...."
"Kamar kalian juga bakal terpisah kok. Tenang aja." Atmaja menimpali sambil tersenyum simpul.
"Apa gak terlalu cepat, Pa?" Brama bertanya pada sang papa saat melihat ekspresi Sasha yang tak menyukai ide tersebut.
"Kami di sana mungkin beberapa bulan. Rasanya tak mungkin meninggalkan Sasha sendirian. Lagian, bukankah kalian sudah menikah? Sudah selayaknya suami menjaga istrinya, kan?"
Brama menarik napas panjang, memang yang dikatakan papanya tak salah. Namun, bagaimana dengan istrinya? Sasha jelas tak suka jika mereka harus tinggal dalam satu rumah. Apalagi jika harus menyesuaikan kehidupan mereka berdua.
"Tapi ...."
"Tak ada tapi, Sha. Pekerjaan kami sudah menunggu di sana. Atau kamu mau sendirian di rumah? Kalau mau sendirian di rumah juga gak apa-apa kok." Widya memotong ucapan putrinya.
"Ibu kejam banget. Iya-iya, Sasha bakal tinggal di perumahan sama Kak Brama. Eh, tapi Kak Brama mau, gak?"
"Gak masalah sih, aku di mana aja oke," jawab Brama sambil menyandarkan punggungnya. "Asal sama kamu," lanjut Brama dari dalam hati.
"Kamu juga harus bisa belajar mengatur keuangan, Sha. Selain gaji dari Brama, kamu tidak dapat uang dari Papa maupun ayah kamu," ucap Alex pada menantunya.
"Kamu jangan boros, ya? Kalian harus mempersiapkan semuanya mulai dari awal. Mumpung kebutuhan belum banyak." Viona ikut memberi nasihat.
"Tambahan, kalian jangan panggil Om dan Tante, tapi panggil Papa dan Mama, juga Ayah dan Ibu," tambah Atmaja.
Kepala Sasha langsung terasa berdenyut. Mulai belajar untuk menjadi seorang istri dan ibu. Istri? Membayangkannya saja belum. Apalagi dari pernikahan yang tak diharapkan. Hidup dengan orang yang kita cintai, namun belum tentu mencintai kita. Rasanya itu menyakitkan, Ferguso.
"Bisa sekalian kita siapin hari ini? Besok biar bisa langsung ditinggali," ucap Brama tiba-tiba.
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

🌼🌼🌼🌼🌼

Wah, bakal satu rumah nih mereka berdua. Makin romantis gak, ya? Atau malah musuhan?
Tinggalin komentar, ya? Caranya gampang kok, bisa langsung masuk menggunakan akun Facebook pribadi. Beneran ditunggu sampai 100 komentar lho, soalnya saya mau ngerjain yang lain. Sueeer sibuk banget deh kali ini, sampe gak sempat istirahat.