Suami Rahasia 23 - Egois


Sasha membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, tak berani keluar dari kamarnya sama sekali. Toh dia tidak lapar dan tidak ada yang harus dikerjakannya di luar kamar. Apalagi di rumah yang terbilang kecil itu, jika Sasha keluar kamar, maka otomatis akan melihat Brama. Lelaki yang dinginnya luar biasa.

Pikiran Sasha melayang, mengingat bagaimana Brama tadi saat keluar dari kamar mandi. Tanpa menyapa Sasha, lelaki itu langsung kembali masuk ke kamarnya. Dia tak keluar kamar lagi sampai Sasha keluar dari kamar mandi.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara lampu dinyalakan. Matanya pun awas, memandang pintu tertutup yang memang tak dikuncinya. Sama sekali tidak berharap Brama masuk ke kamarnya tanpa permisi.

"Sha, kamu udah tidur?" tanya Brama di balik pintu kamar yang tertutup, tanpa mengetuk pintu tersebut.

Sasha diam sambil terus menatap pintu kamarnya dengan hati berdebar. Bisa saja Brama langsung masuk ke dalam kamarnya, bukan? Lama, tak ada ketukan maupun suara handel pintu dibuka dari luar. Namun, tetap saja debaran di dada Sasha tak mau berhenti. Dia tinggal serumah dengan suaminya, orang yang bahkan baru saja dikenalnya.

Telinga Sasha mendengar suara iklan di televisi, tapi tetap tidak bersuara. Suara-suara iklan itu bergantian dengan iklan yang lain. Lalu terdengar suara sinetron yang sering dilihat oleh ibunya. Apalagi kalau bukan film tentang azab.

Sasha tersenyum kecil, tak menyangka bahwa Brama suka melihat film seperti itu. Debar di dadanya mulai berangsur normal. Namun, tak lama, saluran televisi berganti menjadi saluran olahraga. Ternyata dugaan gadis itu salah. Jelas, mana mungkin lelaki seperti Brama melihat film tentang azab, bukan?

Lama-lama Sasha lelah menebak suara-suara yang didengarnya. Lambat laun matanya pun terasa berat, sampai akhirnya terdengar suara dengkuran halus dari bibirnya.



Brama gelisah di depan ruang tamu. Berkali-kali dia melirik ke arah ruang makan, berharap Sasha tiba-tiba muncul karena kelaparan. Dia pun melihat ke arah kamar Sasha yang tertutup rapat. Pintu yang jaraknya hanya beberapa meter itu terasa sangat jauh. Tak ada tanda-tanda kehidupan di balik pintu tersebut.

Brama berjalan pelan, lalu menyalakan lampu di dalam rumah. Tubuhnya mematung di depan pintu kamar Sasha. Antara mau mengetuk atau memanggil gadis itu agar keluar menemaninya. Tangannya hendak mengetuk, tapi tertahan. Egonya yang tinggi mulai ikut memainkan perasaannya.

Minta ditemani Sasha? Yang benar saja. Bisa-bisa gadis itu GR dan berharap lebih padanya dan pada pernikahan yang tak pernah dia harapkan itu. Tak diharapkan? Bahkan Brama masih mencoba mencerna alasan kenapa mau begitu saja dijodohkan dengan Sasha. Apalagi melakukan pernikahan yang bisa dibilang sangat cepat.

"Sha? Kamu udah tidur?" Akhirnya sebuah kalimat tanya meluncur dari bibir Brama. Tidak minta ditemani, kan? Hanya bertanya apakah istrinya itu sudah tidur atau belum.

Brama masih berdiri di depan pintu, menajamkan pendengaran, barangkali terdengar gerakan dari dalam kamar. Nihil. Akhirnya lelaki itu menarik napas panjang, mungkin Sasha sudah terlelap karena terlalu letih seharian tidak berhenti beraktifitas. Ditambah dengan kondisi gadis itu yang memang baru sembuh.

Dengan perlahan, Brama berjalan ke arah televisi. Televisi memang diletakkan di sana, di atas lemari besar yang memang dipasang untuk memisahkan ruang tamu dan ruang makan. Dinyalakannya televisi tersebut, sama sekali tidak ada acara yang menarik perhatiannya.

Malam yang dingin dan sepi. Tak ada canda ataupun pertengkaran yang menghiasi hari ini. Brama pun merasakan ada kekosongan di hatinya. Keheningan membuat Brama mengingat sang perempuan pemilik hatinya yang telah pergi. Hati? Apakah Brama masih punya hati? Hatinya tak ada, hilang dibawa oleh perempuan itu.

Brama berjalan pelan ke arah jendela. Jendela di sini berbeda dengan di rumahnya. Rumah kecil dengan jendela yang juga kecil, tak bisa digunakan untuk melihat bintang. Dia menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu, memastikan sudah terkunci.



Brama sudah sibuk di dapur layaknya seorang chef profesional dengan dapur yang berantakan, padahal tujuan ya hanya satu, membuat mi goreng dengan telur dan sawi. Sampai dua mangkuk mi goreng tersaji di atas meja makan, dengan aroma khas yang menguar. Makanan favoritnya saat dia kelaparan, seperti pagi ini.

"Keliatannya enak banget nih. Bisa dibuat sarapan bareng ma Sasha," ujar Brama sambil tersenyum puas. Masa bodoh dengan keadaan dapur, nanti bisa dibersihkan sepulang sekolah.

Dilihatnya jam dinding yang jarum kecilnya menunjuk ke angka enam. Kurang tiga puluh menit lagi, dia sudah harus tiba di sekolah. Lalu pandangannya melihat ke arah kamar tidur Sasha yang pintunya tetap tak bergerak sejak gadis itu keluar dari kamar mandi.

Rencananya yang akan sarapan bersama Sasha, akhirnya harus diurungkan. Brama segera menghabiskan semangkuk mi jatahnya, lalu ke kamar mandi. Dia tak ingin terlambat. Keinginan untuk menunggu istrinya itu bangun pun memudar. Sasha bisa tak sekolah hari ini, toh gadis itu baru pulang dari rumah sakit.

Kini, lelaki itu mematut dirinya di depan cermin setinggi tubuhnya, memastikan bahwa tak ada yang salah dengan penampilannya. Rambutnya sudah licin, bahkan jika ada lalat yang mampir, akan terpeleset di sana. Tubuhnya juga telah harum, wanginya sudah bisa tercium dari kejauhan. Wangi khas parfum yang jelas tidak murahan. Kulit wajahnya pun telah diberi pelembab, agar terlihat segar. Seperti biasanya, dia terlihat tampan maksimal.

Brama keluar kamar, sepi. Tak ada tanda-tanda bahwa Sasha telah bangun. Dia mengangkat bahu pelan, lalu keluar rumah. Memanaskan mobil di luar pagar, agar tak membangunkan istrinya. Setelah mobil siap, dia pun melajukan mobilnya pergi.



Sasha menguap lebar. Dikerjapkan matanya perlahan. Sungguh dia tak pernah merasakan tidur selama ini, tubuhnya terasa sangat lelah. Matanya melihat ke arah jendela, sudah terang.
Gadis itu langsung melompat dari tempat tidurnya, diambilnya handphone jadul yang berada di samping bantalnya. Matanya melihat angka yang menunjukkan waktu. Ternyata sudah lebih dari jam enam.

"Ya Tuhan. Kenapa dia gak bangunin aku sih?" Sasha menggerutu sambil mengambil handuknya. Dengan cepat dia berlari ke arah kamar mandi. Tak sempat untuk mandi, dia hanya cuci muka dan gosok gigi. Siapa yang akan peduli dengan mandinatau tidaknya gadis itu, bukankah yang penting itu wangi?

"Ya Tuhan, apalagi ini? Bramaaa!!!" ujar Sasha sebal saat melihat ke arah dapur yang berantakan. Tak ada bagusnya sama sekali.

Gadis itu melihat ke arah jam dinding, tak ada waktu untuk membersihkan dapur. Jangankan untuk membersihkan dapur, untuk menyiapkan buku-buku sekolah pun tak ada waktu. Semalam dia lupa menyiapkan buku yang sudah dibawakan sopir. Apa mungkin karena dia terlalu banyak membayangkan sosok Brama?

"Bodohnyaaa kenapa bisa mikirin lelaki egois itu? Bahkan sampai tak membangunkanku semalaman," Sasha berkata dengan kesal pada dirinya sendiri.

Setelah memastikan pintu rumah terkunci, gadis itu segera berlari menuju gerbang kompleks. Untungnya tak terlalu jauh, dia pun bisa dengan mudah mendapatkan ojek untuk menuju ke sekolah. Walau jarak sekolah bisa dibilang dekat, gadis itu tak berani ambil resiko terlambat.

Sasha berlari-lari kecil saat melihat pintu gerbang ditutup perlahan oleh guru piket. Dia tak pernah terlambat sampai di sekolah, tapi hari ini berbeda. "Paaak Sasha belum masuk ...!"

Sayangnya teriakan Sasha dan beberapa murid lainnya diabaikan oleh guru piket. Beliau tetap menutup pintu gerbang, sehingga murid-murid yang terlambat itu hanya bisa gigit jari di depan gerbang.

"Ini semua gara-gara lelaki sialan yang bego itu! Harusnya dia bangunin aku! Awas aja kalo sampe ketemu. Habis dia nanti!" Sasha bersungut dengan tangan yang mengepal geram.




Alhamdulillah selesai juga part ini. Sepertinya ada miskom deh dengan mereka berdua. Napa gak pada jujur aja, ya? Kan enak tuh?

Eh, btw, jadi gak seru dong. 



Menjelang end ya. Jujur saja saya sedih, berasa dikejar-kejar penagih utang sama pembaca. Saya gak pernah merasa punya utang. Padahal si kecil lagi sakit dari Senin kemarin dan saya gak bisa ngapa-ngapain.

Selain nulis, saya punya 3 anak yang harus diurusin. Belum lagi kerja di penerbitan dan ngajar di sekolah. Kalau pembaca pada gak sabar ma lanjutan cerita ini, mau saya tamatkan saja. Biar gak dikejar-kejar terus. Sekian.