Suami Rahasia 24 - Pingsan


"Pak, kali ini Sasha jangan dihukum, ya? Kan baru pertama kali telat," pinta Sasha pada guru piket yang sedang mencatat siapa saja murid yang terlambat.

Guru piket tidak mengindahkan permintaan Sasha, beliau terus menulis semua nama di dalam buku pelanggaran tata tertib sekolah. Sasha hanya bisa menarik napas panjang saat dirinya bersama beberapa murid lain diharuskan berdiri di bawah tiang bendera selama satu jam pelajaran pertama.

Berdiri dengan anak-anak yang juga telat, tak pernah sekalipun ada di benak Sasha. Tak ada kata terlambat sekolah di kamusnya, dia terkenal sebagai murid paling rajin. Namun, kali ini para guru bisa melihat Sasha berdiri berdampingan dengan murid yang melakukan pelanggaran. Sungguh, dia sangat malu menjadi tontonan.

Brama yang keluar dari ruang guru, kaget saat mendapati Sasha berada di bawah tiang bendera. Lelaki itu menepuk dahinya, tak menyangka bahwa Sasha akan masuk sekolah walaupun sudah hampir terlambat. Tentunya mudah bagi gadis itu untuk mengikuti pelajaran yang tertinggal, bukan malah telat masuk ke sekolah.

Untungnya kelas yang diajar oleh Brama, kali ini berada dekat dengan tiang bendera. Jadi, lelaki itu bisa mengamati istrinya dari kejauhan. Bohong jika berkata bahwa dia tak khawatir dengan kondisi Sasha. Setidaknya dia bisa memastikan bahwa Sasha baik-baik saja.

Belum tiga puluh menit lelaki itu mengajar, ada kegaduhan di bawah tiang bendera. Matanya memicing, menajamkan penglihatannya. Dilihatnya dari kejauhan, Sasha telah pingsan dan dipegangi oleh murid-murid yang lain.

Tanpa mempedulikan kelasnya, dia langsung berlari ke arah tiang bendera. Membuat murid-murid lain yang berkerumun langsung minggir memberi jalan. Dengan cepat, lelaki itu mengangkat tubuh kecil Sasha, tujuannya hanya satu, membawa gadis itu ke UKS. Tak ada kesulitan berarti saat mengangkat tubuhnya.

Brama meletakkan tubuh Sasha di atas tempat tidur di UKS. Petugas UKS pun segera datang dengan minyak kayu putih  yang akan digunakan untuk menyadarkan Sasha.

"Beasiswa lagi?" tanya petugas UKS.
Brama mengangguk, lalu segera mengambil teh yang masih panas.

"Beruntung, ya? Tiap kali pingsan, dibawa terus oleh Pak Brama."

Brama mengernyitkan kening. Beruntung? Bukankan sudah kewajiban lelaki itu untuk menjaga Sasha? Bahkan dia tak akan rela jika gadis itu diangkat oleh orang lain. Tak rela jika tubuh kecil gadisnya dipegang dan diraba oleh orang lain.

"Saya ke kelas dulu. Titip Sasha, ya?" kata Brama saat melihat gadis itu mulai siuman sambil memberikan gelas teh yang diambilnya pada petugas.

Petugas itu tersenyum, lalu membantu Sasha minum teh. Melihat Sasha yang sudah sadar, Brama tak ingin berlama-lama di UKS. Toh nanti pada jam pelajaran ke tiga dan empat, saat tidak ada kelas yang harus diajar, dia masih bisa menemui gadis itu. Lagipula, perhatiannya yang terlihat berlebihan pada gadis itu bisa membuat Sasha malah tak suka.


"Kamu belum makan?" tanya Brama saat sudah kembali ke UKS.
Sasha menggeleng lemah. Dia terakhir kali makan adalah saat berkumpul dengan keluarganya.

"Di dapur kan ada mi goreng, kenapa gak kamu makan?" ujar lelaki itu naik pitam. Gadis itu sudah dua kali membuatnya khawatir. Padahal tadi pagi dia sudah menyempatkan diri untuk membuat sarapan.

"Mi goreng?" tanya Sasha tak mengerti?

"Kamu gak liat di atas meja?"

Sasha menggeleng lagi. Bagaimana mungkin dia bisa melihat mi goreng di atas meja, jika melihat dapur berantakan saja membuat kepalanya mau pecah. Membayangkan bagaimana nanti saat membersihkan dapur. "Jadi, kamu yang bikin dapur ancur seperti kapal pecah?"
Tanpa menjawab, Brama mengeluarkan handphone, lalu memesan makanan via aplikasi. "Jangan diulangi lagi."

"Kamu tuh yang jangan diulangi. Kenapa aku gak dibangunin? Seneng ya kalo aku dihukum?" tanya Sasha pelan, namun dengan nada yang menusuk.

"Mana aku tau kalo kamu mau ke sekolah? Lagian kamu semalaman tidur seperti orang mati." Brama pun tak mau kalah. Bukan salahnya jika dia ingin Sasha istirahat lebih lama.

"Seneng banget ya kalo aku ketinggalan pelajaran?"

"Kamu gak bakal ketinggalan pelajaran kok. Kan udah pinter dari sononya," ujar Brama sebelum akhirnya melihat layar handphone sambil keluar dari UKS.

"Eh? Aku ditinggal? Dasar lelaki gak peka. Sebeeel!" Wajah Sasha memerah, air matanya mulai merebak. Brama benar-benar membuat gadis itu jengkel. Dia merasa menyesal karena telah menyetujui permintaan kedua orang tua mereka untuk tinggal bersama. Toh dia sebenarnya bisa tinggal di rumahnya sendiri dengan bibi dan pak sopir.

"Nyesel banget tinggal sama dia. Lelaki jahat dan gak punya perasaan. Nyebelin banget!" Sasha melanjutkan omelannya sambil menahan sesak di dada.

"Ngapain marah-marah gak jelas?" tanya Brama yang tiba-tiba muncul di ambang pintu UKS dengan membawa bungkusan. Tepat saat itu juga, air mata Sasha menetes.

Brama tertegun di tempatnya. Hatinya tercubit saat melihat gadis itu menangis. Apa yang dirasakan gadis itu sehingga membuatnya menangis? Apa perutnya terlalu sakit?

Sasha membuang muka, segera menghapus air matanya yang terlanjur jatuh. Dia tak ingin terlihat cengeng di depan suaminya.

"Makan dulu, Sha. Aku bawain bubur ayam." Brama mendekat, lalu membuka bungkusan yang dibawanya. Di dalam kresek terdapat dua styrofoam yang saat dibuka salah satunya, menguar wangi bubur ayam.

"Gak lapar." Sasha menjawab sambil terus memalingkan muka.

"Kamu bisa makin lemas kalo tidak makan."

"Tapi aku gak lapar!" sentak Sasha pada lelaki itu.

"Dengar, ya, anak manja! Aku sebenarnya gak peduli kamu mau makan atau enggak. Tapi, kalo sampai kamu sakit lagi dan masuk ke rumah sakit, aku gak bakal jagain kamu. Biar kamu sendirian di sana."

"Biarin. Ada Galang kok yang pastinya mau jagain aku," jawab Sasha sinis.
Dengan cepat, Brama memegang dagu Sasha, lalu diarahkan agar menoleh ke arahnya. "Kamu makan! Atau aku kasih nilai C."

Mata Sasha terbelalak mendengar ancaman guru yang sekaligus suaminya itu. Apa-apaan itu? Gara-gara tidak makan, seorang murid yang mendapat beasiswa, mendapat nilai C? Benar-benar guru yang tidak profesional.

"Oke. Sekarang kamu buka mulut." Brama sudah mengambil sendok plastik yang di dalamnya ada bubur hangat.

Mau tak mau, Sasha pun membuka mulutnya. Bubur itu berpindah tempat, enak. Lalu dengan cepat meluncur ke dalam perutnya. Tak menunggu lama, satu styrofoam telah tandas.

"Kamu kenapa marah-marah gak jelas? Sampe nangis gitu?" tanya Brama sambil tersenyum.

"Habis, kamu langsung pergi ninggalin aku. Aku kan takut. Petugas UKS juga gak ada lagi," jawab Sasha sambil mengerucutkan bibirnya.

"Ya Tuhan, Sha. Baru juga ditinggal bentar aja. Aku kan keluar buat ambil bubur ayam yang udah sampe di depan sekolah." Brama tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tak menyangka jika gadisnya menangis hanya karena itu. "Nih sebagai permintaan maaf, satunya kamu habisin aja. Kamu masih lapar, kan?"

Sasha mengangguk malu-malu. Dia memang terlalu kekanakan, hal sepele seperti itu saja ditangisi. Dia bahkan berpikiran macam-macam pada Brama yang telah baik hati membelikannya sarapan.
Brama menyuapkan bubur ayam lagi ke dalam mulut Sasha. Sasha pun membuka mulutnya dengan senang hati. Kapan lagi bisa disuapi oleh lelaki tampan itu? Wajahnya pun langsung memerah.

"Maaf, ya. Aku bikin dapur berantakan. Tadi sih rencananya mau kita sarapan bareng. Ya, walaupun hanya semangkuk mi goreng. Karena kamu belum bangun, aku makan sendiri aja." Brama berkata sambil tersenyum dan terus menyuapi istrinya.

Sontak Sasha menutup mulutnya. Kenapa dia baru menyadari kalau suaminya itu membuatkan mi goreng untuknya? Nasib mi itu, bahkan dilirik pun tidak. Dia terlalu fokus memperhatikan dapur yang berantakan.

"Jadi, Kak Brama mau kita sarapan bareng?" tanya Sasha dengan mengulum senyum.
Brama membuang muka, wajahnya memerah.

"Berarti Kak Brama tadi cuma sarapan mi goreng? Belum makan nasi?" tanya Sasha lagi yang tak membutuhkan jawaban.

Brama masih diam, sendok yang tadi dipegangnya sudah diletakkan di atas bubur yang masih berkurang sedikit.

Sasha segera mengambil sendok itu, lalu berkata, "Sekarang Kak Brama yang makan, ya? Buka mulutnya."

"Hah? Apa?" tanya Brama kaget.

"Sekarang ganti Kak Brama yang makan, ayo," kata Sasha sambil mengangsurkan sendok ke depan mulut Brama.

Akhirnya mau tak mau, Brama pun membuka mulutnya sambil menahan senyum di hati. Ini kedua kalinya dia disuapi oleh Sasha, setelah yang pertama di court food. Sungguh, tak pernah ada yang menyuapi lelaki itu selain perempuannya. Kali ini Sasha yang melakukan hal itu. Seringkali wanita-wanita yang mendekatinya itu ingin menyuapi, tapi selalu ditolak oleh Brama. Pada Sasha, entah kenapa tak ingin membuat gadis itu kecewa, bahkan selalu ada senyum dan debar di hatinya saat mendapat perlakuan istimewa dari Sasha.

"Tuhan, buatlah waktu berhenti sejenak agar aku bisa menikmati rasa ini," bisik Brama dalam hati.


Sudah mulai jujur nih kalo si Brama perhatian. Eaa. 藍藍
Mau pingin yang romantis atau ada sedikit konflik panas nih? 